Navaswara.com – Dua struktur baja monumental yang diameternya melebihi ukuran lapangan sepak bola kini berdiri di atas hamparan tanah di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Inilah tangki raksasa Lawe-Lawe, proyek yang bukan sekadar bangunan megah, tetapi penanda penting bagi lompatan Indonesia dalam upaya mengamankan pasokan energi. Dengan total tambahan kapasitas inventori sebesar 2 juta barel, tangki ini resmi menyandang predikat sebagai tangki penyimpanan minyak mentah terbesar di Asia Tenggara.
Kehadiran dua tangki ini menjadi jantung baru bagi sistem logistik minyak mentah nasional, khususnya untuk mendukung operasional unit-unit utama dari proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan Lawe-Lawe.
Proyek pembangunan tangki ini diprakarsai oleh Kilang Pertamina Internasional (KPI) dan berlokasi strategis di Lawe-Lawe, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.
Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, menjelaskan skala proyek ini yang sungguh masif. “Tangki ini merupakan tangki terbesar di regional Asia Tenggara. 1 tangki memiliki kapasitas sebesar 1 juta barel. Dengan pembangunan 2 tangki maka terdapat tambahan kemampuan inventori Kilang Balikpapan sebanyak 2 juta barel,” terang Milla.
Secara teknis, setiap tangki memiliki diameter mencapai 110 meter, luas alasnya setara dengan sekitar 47 lapangan padel standar. Konstruksi tangki ini membutuhkan total panjang pengelasan mencapai 20 kilometer untuk satu unit, menggunakan pelat baja paling tebal 43 mm.
Proyek ini, yang dimulai sejak Oktober 2019, kini sudah mendekati tahap operasional penuh. KPI menargetkan pengisian perdana minyak mentah di tangki baru ini akan dilakukan pada awal November 2025.
Terminal Lawe-Lawe memiliki fungsi krusial sebagai tempat penyimpanan bahan baku minyak mentah sebelum disalurkan dan diolah di Kilang Balikpapan. Untuk mendukung pasokan ke tangki raksasa ini, KPI juga meningkatkan infrastruktur vital, termasuk SPM (Single Point Mooring) Baru.
KPI telah menyelesaikan pemasangan 1 unit dermaga terapung baru yang memungkinkan kapal tanker super besar berbobot hingga 320.000 DWT bersandar. Sebelumnya, Kilang Balikpapan hanya mengoperasikan SPM berkapasitas 150.000 DWT.
Lalu, jaringan Pipa Raksasa, SPM baru ini dihubungkan ke Terminal Lawe-Lawe dengan pipa berdiameter 52 inci sepanjang 20,2 km. Selanjutnya, penyaluran minyak mentah dari Lawe-Lawe ke Kilang Balikpapan juga diperkuat dengan pipa baru berukuran 20 inci sepanjang 18,9 km.
Milla Suciyani meyakini peningkatan infrastruktur ini akan sangat berdampak. “Pengoperasian SPM baru ini akan meningkatkan fleksibilitas pengiriman minyak mentah,” katanya.
Ia menambahkan bahwa proyek Lawe-Lawe juga berdampak positif pada industri domestik, dengan pencatatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 40,49% hingga Desember 2024.
Selesainya tangki raksasa Lawe-Lawe adalah komponen kunci dalam mega proyek RDMP Balikpapan Lawe-Lawe, yang bertujuan meningkatkan kapasitas pengolahan kilang dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menegaskan peran strategis tangki ini dalam konteks ketahanan nasional.
“Kilang-kilang Pertamina telah memenuhi 70 persen kebutuhan BBM dalam negeri. Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, didukung tangki raksasa Lawe-Lawe, akan meningkatkan kekuatan Pertamina untuk memasok BBM secara nasional,” ujar Fadjar.
Pembangunan ini, menurut Milla Suciyani, merupakan langkah nyata KPI dalam mendukung pengembangan industri migas nasional yang modern, yang pada akhirnya akan memperkuat ketahanan energi nasional Indonesia.
