Riset AI BRIN Dorong Inovasi Inklusif untuk Kawan Disabilitas

Navaswara.com — Di tengah derasnya arus inovasi teknologi, masih banyak ruang bagi riset yang menyentuh sisi kemanusiaan. Hal itulah yang mengemuka dalam Webinar PRKAKS #03 Tahun 2025 bertema “Peran Serta Riset Berbasis Kecerdasan Artifisial (AI) untuk Mendukung Aktivitas Kawan Disabilitas”, yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Kecerdasan Artifisial dan Keamanan Siber (PR KAKS) BRIN.

Acara ini menjadi wadah dialog antara ilmuwan, praktisi, dan komunitas disabilitas untuk membahas bagaimana teknologi cerdas dapat menjadi jembatan bagi inklusivitas sosial dan kemandirian. Kepala PR KAKS BRIN, Anto Satriyo Nugroho, menegaskan bahwa riset berbasis AI kini berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas.

“Berbagai riset untuk mendukung mobilitas dan kemandirian rekan-rekan disabilitas telah banyak dilakukan. Kecerdasan artifisial memiliki potensi besar untuk menyempurnakan riset-riset tersebut,” ujarnya.

Anto berharap forum ini mampu mempertemukan para peneliti dan pengguna teknologi agar inovasi yang dikembangkan tidak hanya canggih, tetapi juga relevan dan memberdayakan.

Dalam sesi berikutnya, Peneliti Ahli Utama PR KAKS BRIN, Hilman Ferdinandus Pardede, memaparkan riset mengenai speech recognition sebagai solusi komunikasi bagi penyandang disabilitas. Menurutnya, teknologi pengenalan suara yang ditopang kecerdasan buatan dan machine learning dapat membantu interaksi digital bagi mereka yang memiliki hambatan bicara atau mobilitas.

Namun, Hilman juga menyoroti tantangan yang masih dihadapi. “Perbedaan aksen, kondisi lingkungan bising, hingga keterbatasan data bahasa lokal menjadi tantangan tersendiri. Kita perlu memastikan teknologi ini inklusif dan melindungi privasi pengguna,” jelasnya.

Sementara itu, Perekayasa Ahli Madya PR KAKS BRIN, Gembong Satrio Wibowanto, menjelaskan riset facial expression recognition (FER) berbasis AI untuk membantu penyandang disabilitas berkomunikasi secara nonverbal. Teknologi ini mampu mengenali emosi dan ekspresi wajah pengguna sehingga dapat digunakan dalam bidang pendidikan inklusif, terapi, maupun pendampingan harian.

“Selain manfaat sosialnya, riset ini juga membuka peluang industri baru di sektor teknologi asistif yang bernilai ekonomi tinggi,” ujar Gembong.

Sebagai penutup, Komisioner Komisi Nasional Disabilitas, Rachmita Maun Harahap, menekankan pentingnya pendekatan berbasis hak dalam mengembangkan AI yang inklusif. Menurutnya, teknologi seharusnya tidak sekadar membantu, tetapi juga memberdayakan penyandang disabilitas agar dapat berpartisipasi aktif dalam masyarakat.

Melalui riset-riset seperti ini, BRIN menegaskan komitmennya dalam menghadirkan inovasi yang bukan hanya futuristik, tetapi juga manusiawi—mendorong lahirnya teknologi yang mampu menyentuh, mendengar, dan memahami keberagaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *