Navaswara.com – Meski lapangan padel terus bermunculan di berbagai kota besar, popularitas olahraga ini di Indonesia pada Oktober 2025 belum mencapai puncaknya. Tren padel justru masih berada di fase pertumbuhan, dengan komunitas yang berkembang dan upaya membangun ekosistem olahraga yang lebih terstruktur.
Padel mulai dikenal di Indonesia sejak 2021 dan baru mendapat perhatian luas pada 2024, terutama di Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Gaya bermainnya yang mudah dipelajari dan suasana sosial yang hangat membuat padel cepat diterima sebagai bagian dari gaya hidup urban. Banyak pemain baru tertarik bukan hanya karena olahraga, tetapi juga karena suasana komunitas yang terbentuk di setiap klub.
Pada Oktober 2025, liga padel amatir terstruktur pertama resmi digelar di Indonesia. Kompetisi ini menjadi langkah penting dalam membangun sistem pembinaan atlet dan memperluas basis pemain amatir. “Liga ini diharapkan bisa menjadi wadah bagi pemain untuk berkembang dan mengukur kemampuan mereka secara berjenjang,” ujar perwakilan Liga Padel Indonesia.
Saat ini tercatat lebih dari 130 lapangan padel aktif di Indonesia. Sebagian besar berada di kawasan premium seperti BSD City, Senayan, dan Kuningan. Meski pertumbuhannya cepat, tantangan tetap ada, mulai dari biaya sewa yang tinggi hingga ketersediaan pelatih bersertifikat yang masih terbatas.
Data utilisasi lapangan juga menunjukkan tren yang positif. WePadl di Pondok Indah mencatat tingkat okupansi konsisten di kisaran 90% sejak dibuka pada Februari 2025, dengan angka terendah 87% menurut Padel Magazine. South Jakarta Court yang beroperasi hingga 18 jam per hari bahkan mencapai okupansi 99%. Sementara 7 Padel di Cilandak disebut memiliki “occupancy rates rarely dip” atau tingkat pemakaian yang jarang menurun. Pada 2024, terdapat 133 venue padel di Indonesia dengan 27 di Jakarta, dan diperkirakan jumlahnya akan mencapai 200 venue di wilayah Jakarta saja pada akhir 2025.
Namun angka okupansi tinggi justru bisa menjadi tanda bahaya. Tingkat penggunaan di atas 85% secara konsisten jarang bertahan lama tanpa ekspansi fasilitas tambahan. Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini bisa menekan pengalaman pengguna, menaikkan harga sewa, dan memicu persaingan antarlapangan di area yang sama. Pengelola yang tidak menyiapkan strategi diversifikasi atau program loyalitas bisa terdampak begitu tren melandai.
Fenomena bangkrutnya lebih dari seratus lapangan padel di luar negeri, terutama di Eropa, menjadi pengingat bahwa pertumbuhan cepat tanpa fondasi pasar yang kuat bisa berisiko. Meski kasus serupa belum meluas di Indonesia, sinyal kewaspadaan perlu tetap dijaga agar perkembangan padel tidak terjebak pada euforia jangka pendek.
Dari sisi pasar, padel di Indonesia masih jauh dari titik jenuh. Awareness publik masih rendah, federasi baru terbentuk dua tahun lalu, dan kompetisi rutin baru dimulai tahun ini. Dengan kata lain, Indonesia masih berada di tahap awal kurva adopsi olahraga ini, di mana potensi pertumbuhan justru masih besar.
Padel kini berkembang bukan sekadar olahraga baru, tetapi juga ruang pertemuan sosial bagi kalangan muda dan profesional. Dengan dukungan komunitas, liga yang terstruktur, serta investasi fasilitas yang terus bertambah, padel di Indonesia berpeluang tumbuh stabil dalam beberapa tahun ke depan—selama pertumbuhannya dikelola dengan hati-hati dan tidak terburu-buru mengejar tren.
