Navaswara.com – Indonesia memperkuat langkah menuju transisi energi melalui penyelenggaraan Foundational Infrastructure for Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST) Workshop. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) nasional.
Workshop tersebut merupakan kolaborasi trilateral antara Indonesia, Amerika Serikat, dan Jepang yang difokuskan pada penguatan sumber daya manusia (SDM), kerangka regulasi, serta kesiapan ekosistem industri nuklir sipil yang aman dan berkelanjutan.
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana, mengatakan kerja sama ini mencakup penguatan desain dan kerangka regulasi Small Modular Reactor (SMR), peningkatan kompetensi manufaktur berteknologi tinggi, serta penerapan protokol keselamatan dan keamanan nuklir.
“Nuklir menawarkan solusi energi yang stabil, rendah emisi, dan mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan kemajuan teknologi seperti SMR, pengembangan nuklir kini semakin adaptif dan relevan bagi negara berkembang,” ujar Dadan.
Menurutnya, pemerintah berkomitmen memastikan setiap tahapan pengembangan PLTN dilaksanakan dengan prinsip keselamatan, tata kelola transparan, dan kesiapan SDM yang memadai.
Target PLTN Beroperasi 2032
Langkah tersebut sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), yang menempatkan energi nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang ketahanan energi.
Berdasarkan proyeksi pemerintah, kontribusi energi nuklir dalam bauran energi primer nasional ditargetkan mencapai 11,7–12,1 persen pada 2060 dengan kapasitas terpasang 35–42 Gigawatt (GW).
Sebagai tahap awal, Indonesia menargetkan PLTN pertama beroperasi secara komersial pada 2032 dengan kapasitas awal 250 Megawatt (MW). Target tersebut telah dimasukkan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Selain mendukung dekarbonisasi dengan proyeksi kapasitas total 45 GW pada 2060, energi nuklir dinilai memiliki efisiensi lahan dan biaya operasional jangka panjang yang relatif rendah.
Dukungan AS dan Jepang
Kuasa Usaha Kedutaan Besar AS untuk Indonesia, Peter M. Haymond, menyatakan Amerika Serikat bersama Jepang mendukung pengembangan energi nuklir Indonesia yang aman dan bertanggung jawab.
Sementara itu, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Jepang, Mitsuru Myochin, menyampaikan dukungan melalui kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC). Jepang, kata dia, siap memperkuat kerja sama teknis antara pembuat kebijakan, regulator, dan industri, termasuk dalam pengembangan SDM.
FIRST Workshop merupakan kolaborasi antara DEN, Institut Teknologi PLN, dan Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia bersama U.S. Department of State’s FIRST Program, Advanced Systems Technology & Management (AdSTM), The Association for Overseas Technical Cooperation and Sustainable Partnerships (AOTS), serta JAIF International Cooperation Center (JICC).
Forum ini mempertemukan pembuat kebijakan, akademisi, pelaku industri, dan pakar energi nuklir untuk membahas teknologi SMR, kerangka regulasi, perizinan, pengembangan SDM, serta peluang partisipasi industri nasional dalam proyek PLTN.

