Masjid Agung Demak, Jejak Wali, Spirit Ramadan, dan Pesona yang Tak Pernah Pudar

Navaswara.com – Tak banyak masjid tua yang tetap hidup sebagai pusat ibadah, sejarah, sekaligus destinasi ziarah hingga ratusan tahun. Namun, Masjid Agung Demak menjadi pengecualian.

Berdiri di jantung Demak, bangunan berarsitektur khas Jawa ini menjadi saksi perjalanan Islam di Tanah Jawa, jejak dakwah para wali, sekaligus magnet spiritual yang tak pernah kehilangan pesonanya hingga kini.

Dari kejauhan, pesona masjid sudah terasa lewat bentuk atap limasan bertingkat tiga yang ditutup sirap kayu. Struktur bangunannya didominasi material kayu dengan kesan sederhana, tetapi justru itulah yang memberi karakter kuat.

Di samping masjid berdiri menara yang menjulang, sementara area sekitarnya dipenuhi kompleks makam raja-raja Demak, museum, dan berbagai peninggalan sejarah yang membuat kawasan ini terasa sakral sekaligus historis.

Memasuki serambi masjid, nuansa tradisional Jawa langsung terasa. Tiang-tiang kayu berukir menopang bangunan terbuka yang menjadi ruang peralihan sebelum masuk ke ruang utama salat.

Filosofi Islam juga melekat pada arsitekturnya, yaitu lima pintu melambangkan rukun Islam, sedangkan enam jendela merepresentasikan rukun iman.

Simbol-simbol tersebut menunjukkan bagaimana dakwah Islam pada masa awal di Jawa disampaikan lewat pendekatan budaya dan visual yang mudah dipahami masyarakat.

Bagian yang paling sering menarik perhatian pengunjung adalah pintu utama yang dikenal sebagai pintu bledheg atau “pintu petir”.

Ukiran kayu jati bergambar naga serta ornamen petir dipercaya berkaitan dengan kisah Sunan Kalijaga yang konon menangkap petir lalu mengabadikannya dalam bentuk ukiran. Terlepas dari legenda tersebut, pintu ini menjadi salah satu artefak seni ukir Islam Jawa yang bernilai tinggi.

Secara historis, masjid ini berkaitan erat dengan berdirinya Kerajaan Demak pada akhir abad ke-15, setelah runtuhnya Majapahit.

Para Wali Songo disebut sebagai penggagas pembangunan masjid, menjadikannya pusat dakwah sekaligus ruang musyawarah politik dan keagamaan.

Sejumlah babad Jawa, termasuk Babad Jaka Tingkir, menceritakan bagaimana pembangunan masjid melibatkan para bangsawan, ulama, hingga masyarakat umum secara gotong royong.

Kisah lain yang terkenal adalah pembuatan saka tatal, tiang utama dari potongan kayu kecil yang disusun menjadi satu. Legenda ini sering dikaitkan dengan kreativitas dan kebijaksanaan para wali dalam memanfaatkan apa yang tersedia.

Masjid akhirnya rampung sekitar awal abad ke-17 dan sejak itu menjadi simbol penting kekuasaan sekaligus spiritualitas Islam di Jawa.

Menariknya, status Masjid Agung Demak tidak memudar meski pusat kekuasaan Jawa berpindah dari Demak ke Pajang lalu Mataram.

Bahkan pada masa kolonial, penguasa lokal diminta ikut merawatnya. Pemugaran besar pada abad ke-20 memastikan bangunan bersejarah ini tetap lestari tanpa kehilangan ciri aslinya.

Hingga sekarang, masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat tradisi keagamaan. Berbagai agenda, seperti Grebeg Besar Iduladha, haul tokoh Demak, hingga kegiatan sosial rutin digelar di sini.

Halaman luas masjid sering menjadi ruang berkumpul masyarakat, menegaskan fungsi sosial yang sudah ada sejak masa awal berdirinya.

Bagi peziarah, berkunjung ke Masjid Agung Demak punya makna spiritual tersendiri. Dalam tradisi Jawa lama, bahkan sempat muncul anggapan bahwa ziarah ke Demak memiliki nilai spiritual yang tinggi karena kota ini dipandang sebagai salah satu pusat awal penyebaran Islam di Jawa.

Kini, di tengah perkembangan kota dan modernisasi, Masjid Agung Demak tetap berdiri kokoh. Peninggalan masa lalu ini menjadi ruang hidup yang terus menghubungkan sejarah, budaya, dan spiritualitas. Jejak para wali masih terasa, menjadikannya destinasi yang bukan hanya indah dilihat, tetapi juga sarat makna untuk direnungkan.

Foto: Dok. Istimewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *