Navaswara.com – Pertemuan dua orang dengan latar hidup yang jauh berbeda sering melahirkan dinamika yang tak bisa ditebak. Dari sana, muncul percakapan yang mengusik, sekaligus memberi arah baru. Situasi tersebut menjadi latar utama Surat untuk Masa Mudaku, film orisinal Netflix Indonesia yang diperkenalkan pekan ini.
Proyek ini menjadi kolaborasi pertama Netflix dengan sutradara Sim F. serta rumah produksi Buddy Buddy Pictures, yang sebelumnya menggarap film Susi Susanti – Love All pada 2019.
Mulai tayang 29 Januari 2026, film ini mengangkat kisah persahabatan tak terduga antara seorang remaja pemberontak dan seorang pengurus lansia di sebuah panti asuhan. Pertemuan dua sosok dari generasi berbeda itu membuka ruang bagi mereka untuk menghadapi luka lama, rasa kehilangan, dan upaya berdamai dengan masa lalu. Film ini dibintangi Theo Camillo Taslim, Fendy Chow, Agus Wibowo, Aqila Herby, Cleo Hanura Nazhifa, dan Halim Latuconsina.
Dalam sesi tanya jawab, Sim F. menjelaskan bahwa ide cerita berangkat dari pengamatannya terhadap kehidupan di panti asuhan. “Ceritanya terinspirasi dari kehidupan nyata di panti asuhan, seperti apa perjuangan anak-anak di sana, rasa sedih mereka ditinggal, sekaligus bagaimana mereka memiliki harapan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa film ini bukan biopik, meski terhubung dengan pengalaman pribadinya. “Saya dan penulis naskah Daud Sumolang meramu cerita-cerita dari kehidupan nyata di panti asuhan menjadi satu tema, yaitu rasa kehilangan, yang dirasakan oleh karakter Kefas remaja, Kefas dewasa, sampai Pak Simon,” kata Sim.
Theo Camillo Taslim yang memerankan Kefas remaja menyebut karakternya sebagai sosok yang menyimpan banyak emosi terpendam. “Kefas sangat keras kepala dan gengsi karena ia memendam banyak rasa kecewa dan sedih. Saya mempersiapkan peran ini dengan memahami latar belakang karakter, berdiskusi dengan sutradara, serta mengunjungi panti asuhan untuk mengobservasi kehidupan di sana,” ujarnya.

Fendy Chow yang memerankan Kefas dewasa melihat cerita ini sebagai potret tentang dampak trauma yang terbawa hingga usia matang. “Dari kecil sampai dewasa banyak hal yang terjadi, tapi ada beberapa hal yang tersimpan jauh di bawah sadar. Kefas dewasa menyadari setelah dia berkeluarga ternyata masih ada trauma, dan dia mencoba membukanya kembali demi masa depannya,” kata Fendy.
Ia juga menjelaskan bahwa ia dan tim berupaya menjaga kesinambungan karakter antara Kefas remaja dan dewasa. “Kami mencari ciri-ciri seperti logat dan gestur supaya perbedaannya tidak terlalu jauh. Tricky tapi menyenangkan,” ujarnya.
Agus Wibowo yang memerankan Pak Simon menggambarkan karakternya sebagai figur yang keras dan tertutup. “Simon sudah tidak percaya lagi pada kehidupan. Dia bersikap dingin dan apatis. Ini punya irisan dengan Kefas yang sejak kecil banyak menemui kepahitan dan kehilangan,” tutur Agus.
Menurut Agus, proses membangun karakter Simon juga dipengaruhi oleh pengalaman pribadinya. “Simon tumbuh di panti asuhan, sementara saya tumbuh di jalanan. Rasa marah dan perasaan tidak adil itu dibangun dari situ, ditambah dengan observasi di panti asuhan untuk memahami hubungan psikologis antara pengurus dan anak-anak,” katanya.
Produser Wilza Lubis menjelaskan bahwa proses produksi menuntut riset yang detail, terutama untuk penggambaran masa lalu dan pencarian pemeran muda. “Sim sangat detail. Kami melakukan berbagai riset dan proses casting yang panjang. Millo bahkan mengikuti casting tiga kali. Setelah itu tantangan berikutnya adalah mencari pemeran Kefas dewasa. Itu bagian dari perjalanan sebuah film, dan kami percaya orang yang tepat akan hadir,” ujar Wilza.
Wilza juga menambahkan bahwa suasana syuting dirancang ramah bagi para pemeran anak. Tim produksi menyediakan guru di lokasi agar proses belajar tetap berjalan selama produksi. Cerita dalam film ini bergerak dari konflik personal yang perlahan menemukan bentuknya sendiri. Hubungan antar karakter menjadi penggerak utama, tanpa harus mengandalkan efek besar atau plot yang dibuat-buat.
