Navaswara.com – Ruang-ruang diskusi riset kembali disiapkan untuk menyatukan langkah pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Di tengah tuntutan kebijakan yang semakin kompleks, kolaborasi antar lembaga menjadi kunci agar riset tidak berhenti di atas kertas, melainkan hadir sebagai solusi nyata bagi bangsa.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan komitmennya memperkuat peran Forum Komunikasi Riset dan Inovasi (FKRI) sebagai jembatan strategis antara penghasil pengetahuan dan para perumus kebijakan. Komitmen tersebut mengemuka menjelang Kick-off Meeting FKRI 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, Jakarta, pada Senin (19/1).
Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan bahwa FKRI Nasional dirancang sebagai wadah strategis untuk menyatukan persepsi, memperkuat koordinasi, serta membangun keselarasan antar aktor dalam ekosistem riset dan inovasi nasional.
“Melalui peran tersebut, BRIN diharapkan menjadi jembatan atau hub strategis antara penghasil pengetahuan dan perumus kebijakan. Hal ini untuk mewujudkan kebijakan pembangunan nasional yang berbasis IPTEK, berorientasi pada keberlanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Arif Satria.
Ia menjelaskan, transformasi BRIN tidak hanya diarahkan pada penguatan kapasitas kelembagaan riset, tetapi juga pada perbaikan tata kelola layanan, integrasi agenda riset, serta peningkatan pemanfaatan hasil riset dan inovasi dalam mendukung kebijakan pembangunan nasional.
Menurut Arif, masih adanya perencanaan yang belum sepenuhnya terintegrasi serta keterbatasan koordinasi lintas kementerian dan lembaga berpotensi mengurangi relevansi dan dampak riset terhadap kebijakan publik. Karena itu, FKRI menjadi instrumen penting dalam mengidentifikasi dan menyepakati kebutuhan kajian kebijakan, riset, dan inovasi secara kolaboratif.
“Proses identifikasi kebutuhan yang terkoordinasi diharapkan dapat menghindari duplikasi riset, meningkatkan efisiensi sumber daya, serta memastikan agenda riset dan inovasi benar-benar menjawab prioritas pembangunan nasional,” tandasnya.
Lebih lanjut, Arif menekankan bahwa penguatan ekosistem riset dan inovasi nasional harus selaras dengan kerangka perencanaan pembangunan, mulai dari RPJPN, RPJMN, hingga RKP, serta mendukung pencapaian Fokus Riset Strategis Nasional.
Melalui FKRI Nasional, BRIN juga mendorong penyelarasan agenda riset dengan arah kebijakan pembangunan nasional, sekaligus mengintegrasikan arahan Presiden ke dalam siklus perencanaan dan pelaksanaan riset dan inovasi agar dampaknya lebih terukur.
“Forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga wahana konsolidasi kebijakan dan komitmen bersama untuk mewujudkan pembangunan nasional berbasis IPTEK yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkas Arif.
