Navaswara.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto meresmikan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan di Kalimantan Timur, Senin (12/1). Peresmian dilakukan bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
Prabowo mengatakan, pengembangan Kilang Balikpapan menjadi langkah strategis pemerintah untuk mewujudkan kemandirian energi nasional. Proyek ini sejalan dengan program Asta Cita yang menargetkan pengurangan ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG).
“Saya merasa bahagia dan sangat bangga atas capaian yang kita hasilkan hari ini. Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang bekerja keras sehingga proyek ini dapat terwujud,” kata Prabowo dalam sambutannya.
Ia menegaskan bahwa kemandirian energi merupakan syarat penting bagi sebuah negara merdeka. Menurut Prabowo, ketergantungan terhadap impor pangan dan energi tidak sejalan dengan cita-cita kedaulatan nasional.
“Tidak masuk akal suatu negara ingin merdeka tetapi masih bergantung pada pangan dan energi dari luar. Kebutuhan pangan dan energi harus bisa kita hasilkan sendiri,” ujarnya.
Prabowo juga menyoroti besarnya potensi sumber daya energi yang dimiliki Indonesia, seperti batu bara, minyak dan gas bumi, serta panas bumi. Ia menilai, potensi tersebut harus dimanfaatkan secara optimal untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Dengan sumber energi yang kita miliki, sesungguhnya kita dapat menghasilkan energi sendiri tanpa harus impor. Ini menjadi sasaran kita dalam beberapa tahun ke depan,” ucap Prabowo.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, peresmian RDMP Kilang Balikpapan merupakan bagian dari agenda besar pemerintah dalam mewujudkan kemandirian dan kedaulatan energi.
“Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, ketergantungan impor BBM dan LPG dapat dikurangi. Kilang ini juga menghasilkan produk dengan standar Euro V yang lebih ramah lingkungan,” ujar Bahlil.
Proyek RDMP Kilang Balikpapan memiliki nilai investasi sekitar USD 7,4 miliar atau setara Rp123 triliun. Melalui proyek ini, kapasitas produksi kilang meningkat dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari.
Selain itu, Indeks Kompleksitas Kilang meningkat dari 3,7 menjadi 8, serta persentase nilai produk naik dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menjelaskan, RDMP Balikpapan merupakan proyek terintegrasi antara sektor hulu dan hilir. Proyek ini diawali dengan pembangunan pipa Senipah sepanjang 78 kilometer sebagai pasokan bahan baku ke kilang.
“Jantung dari RDMP ini adalah unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang mengolah residu menjadi produk bernilai tinggi,” kata Simon.
Ia menambahkan, pengembangan kilang juga terintegrasi dengan Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter untuk melayani distribusi ke Indonesia bagian timur, serta pembangunan tangki di Lawe-Lawe dengan kapasitas penyimpanan hingga 2 juta barel BBM.
Simon menilai, peresmian RDMP Kilang Balikpapan menjadi tonggak penting pembangunan infrastruktur energi nasional dan hasil kerja panjang untuk meningkatkan kemandirian energi Indonesia.
