Navaswara.com – Kabupaten Serang tidak hanya dikenal dengan wisata pantainya. Jika melintasi jalur Serang–Cilegon, mata akan tertuju pada sebuah perbukitan hijau setinggi sekitar 300 meter di atas permukaan laut. Perbukitan itu dikenal sebagai Gunung Pinang, ruang terbuka yang kini kerap dimanfaatkan warga untuk berolahraga dan menikmati pemandangan dari ketinggian.
Di balik suasananya yang teduh, Gunung Pinang menyimpan legenda lama yang hidup di tengah masyarakat Banten. Cerita ini berkisah tentang seorang anak yang durhaka kepada ibu kandungnya, sebuah kisah yang kerap disandingkan dengan legenda Malin Kundang. Sosok anak tersebut dikenal dengan nama Dampu Awang.
Dikisahkan, Dampu Awang hidup bersama ibunya di kawasan pesisir Teluk Banten dalam kondisi serba kekurangan. Tak ingin terjebak dalam kemiskinan, Dampu memutuskan merantau ke Negeri Malaka untuk mengubah nasib. Meski berat hati, sang ibu akhirnya mengizinkan kepergian anak semata wayangnya itu, dengan satu pesan penting: Dampu harus rutin memberi kabar melalui burung merpati peninggalan ayahnya, yang dikenal dengan nama Si Ketut.
Perjalanan hidup Dampu Awang perlahan berubah. Dalam perantauannya, ia bertemu saudagar kaya asal Samudera Pasai, Teuku Abu Matsyah. Kerajinan dan kejujurannya membuat Dampu dipercaya, bahkan kemudian menikahi putri sang saudagar, Siti Nurhasanah. Setelah mertuanya wafat, Dampu mewarisi kekayaan dan kedudukan yang membuatnya hidup bergelimang harta.
Pulang ke Teluk Banten dan Penyangkalan
Waktu berlalu. Selama hampir sepuluh tahun, sang ibu hanya menerima kabar dari Dampu sebanyak empat kali. Hingga suatu hari, sebuah kapal megah berlabuh di Teluk Banten. Kabar kedatangan saudagar kaya itu sampai ke telinga sang ibu, yang meyakini bahwa pemilik kapal tersebut adalah putranya.
Harapan itu pupus. Ketika sang ibu memanggil nama Dampu di hadapan orang banyak, ia justru menyangkal dan menolak mengakui perempuan tua berpakaian sederhana itu sebagai ibunya. Merasa malu dengan latar belakang masa lalunya, Dampu memilih meninggalkan Teluk Banten tanpa menoleh.
Dengan hati yang hancur, sang ibu melantunkan doa. Ia memohon agar jika lelaki itu bukan anaknya, ia dibiarkan pergi dengan selamat. Namun jika benar putranya sendiri, ia meminta keadilan atas sikap durhaka tersebut.
Kutukan dan Asal-usul Gunung Pinang
Tak lama berselang, cuaca cerah berubah menjadi gelap. Badai besar menghantam kapal Dampu Awang di tengah laut. Dalam kepanikan, burung merpati Si Ketut konon mencoba mengingatkan majikannya agar meminta maaf kepada sang ibu. Namun penyesalan itu datang terlambat.
Kapal besar tersebut terhempas ke daratan dan terbalik. Seiring waktu, masyarakat percaya bangkai kapal yang membatu itu menjelma menjadi bukit yang kini dikenal sebagai Gunung Pinang, menjadi penanda abadi atas kisah durhaka seorang anak.
Legenda sebagai Penjaga Nilai Sosial
Legenda Gunung Pinang bukan sebatas dongeng turun-temurun. Melansir jurnal Dialog (2017) karya Asep Saefulloh yang diterbitkan Kementerian Agama, kisah ini dipahami sebagai refleksi sosial masyarakat pada masanya, terutama untuk menanamkan nilai bakti kepada orang tua.
Cerita Dampu Awang diyakini menguat seiring perubahan sosial, ketika banyak pemuda merantau dan sukses, namun melupakan asal-usul serta keluarga. Lewat simbol kapal yang berubah menjadi gunung, orang tua zaman dulu menyampaikan pesan moral bahwa setinggi apa pun pencapaian seseorang, restu ibu tetap menjadi penopang kehidupan.
Kini, legenda itu hidup berdampingan dengan fungsi Gunung Pinang sebagai ruang publik. Jalur aspal sepanjang sekitar dua kilometer dimanfaatkan warga untuk bersepeda atau jogging, sembari menikmati lanskap Kabupaten Serang dari ketinggian, sebuah pengingat bahwa alam dan cerita masa lalu sering kali menyimpan pesan yang relevan hingga hari ini.
