Navaswara.com – Setiap awal Desember, masyarakat Banggai kembali menapaki ingatan kolektif mereka melalui Festival Tumbe. Tradisi ini menjadi penanda hubungan yang terus dirawat antara manusia, alam, dan leluhur. Tiga wilayah—Kabupaten Banggai, Banggai Laut, dan Banggai Kepulauan—terlibat dalam satu rangkaian perjalanan yang sarat simbol dan rasa kebersamaan.
Festival Tumbe berangkat dari kisah pengantaran telur burung Maleo oleh masyarakat Adat Batui menuju Kerajaan Banggai. Bagi masyarakat Banggai, Maleo bukan sekadar satwa endemik Sulawesi yang dilindungi, melainkan bagian dari tatanan kosmologis yang menempatkan alam sebagai mitra kehidupan. Telurnya dipandang sebagai simbol keberlanjutan, pengikat relasi spiritual antara komunitas adat dan kerajaan.
Ritual dimulai ketika rombongan tiba di Desa Pinalong, Banggai Kepulauan. Di tempat ini, sepotong kayu dilemparkan sebagai penanda dimulainya tahapan penting dalam perjalanan. Gerakan yang tampak sederhana ini menyimpan makna pelepasan sekaligus kesiapan untuk melanjutkan langkah, seolah meninggalkan beban lama dan membuka ruang bagi perjalanan berikutnya.
Perjalanan berlanjut ke Tanjung Merah di Pulau Labobo. Di titik ini, telur Maleo dibungkus ulang dengan daun Kambuno yang segar. Pembungkus lama kemudian dihanyutkan ke laut, menjadi pesan simbolik bahwa rombongan telah mencapai wilayah transisi. Alam hadir sebagai bahasa, laut menjadi perantara, dan daun menjadi penanda yang dimengerti bersama.
Prosesi mencapai puncaknya di Keraton Batumundoan Banggai melalui ritual Malabot. Di sinilah telur diterima secara adat, disertai rangkaian upacara yang telah diwariskan lintas generasi. Malabot bukan hanya seremoni, tetapi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa kini, tempat nilai adat kembali ditegaskan dan hubungan sosial diperkuat.
Festival Tumbe terus dijaga sebagai bagian dari identitas masyarakat Banggai. Tradisi ini merawat ingatan, mengajarkan penghormatan pada alam, dan meneguhkan rasa kebersamaan di tengah perubahan zaman. Melalui perjalanan ritual ini, masyarakat Banggai mengingatkan bahwa keseimbangan hidup tumbuh dari kesetiaan pada nilai yang diwariskan.
