Navaswara.com – Prof. Ali Muktiyanto pernah tersungkur oleh polio di usia tiga tahun. Namun hari ini, ia justru berdiri memimpin Universitas Terbuka (UT), kampus dengan mahasiswa terbanyak dan paling inklusif di Indonesia.
Lahir di desa kecil di Demak, Prof. Ali tumbuh dalam keluarga religius. Ayahnya seorang kyai sekaligus kepala desa lintas tiga rezim, yakni Belanda, Jepang, hingga RI.
Sebagai bungsu dari 13 bersaudara, ia tumbuh tanpa perlakuan khusus meski kakinya berbeda akibat polio. Ia tetap bermain bola di lapangan kampung, menjadi kiper atau striker, lalu mencoba tenis meja, voli, hingga sepak takraw saat SMP–SMA.
“Sedari kecil saya dididik oleh orang tua dan lingkungan yang tidak mempersoalkan perbedaan kondisi fisik,” katanya.
Pengalaman itu membentuk cara pandangnya ketika mengabdi 25 tahun di UT. Baginya, UT bukan cuma kampus jarak jauh, tapi ekosistem pendidikan yang benar-benar memberi kesempatan setara.
Ia merasakan sendiri inklusivitas itu. “Saya merasa sangat diterima dan diberikan kesempatan yang sama untuk berkiprah,” ujarnya.
Kini sebagai rektor periode 2025–2030, ia mendorong akses bagi mahasiswa yang menghadapi hambatan teknis dan kebutuhan khusus. Mulai dari perbaikan layanan administrasi, materi belajar, hingga komunikasi yang lebih ramah.
UT Dream 2045
Dalam Media Day UT 2025 di Tangerang Selatan, Prof. Ali memaparkan target besar, yaitu 2,5 juta mahasiswa pada 2045, dari angka saat ini yang sudah melampaui 768 ribu.
Strateginya singkat namun padat: Better, Deeper, Faster. “Kita membawa masa depan ke masa kini,” tegasnya.
UT juga ingin membantu menaikkan Angka Partisipasi Kasar pendidikan tinggi nasional dari 34 menjadi 42 persen pada 2045. Selain ekspansi, ia menegaskan peningkatan reputasi akademik. Mulai dari percepatan dosen S3, penambahan guru besar, hingga penguatan jurnal ilmiah.
Menutup pembicaraan, Prof. Ali menuturkan, mimpinya hari ini tak lepas dari perjalanan panjangnya sebagai penyintas polio. Baginya, pendidikan harus bisa diakses siapa saja, apa pun kondisi mereka.
