Navaswara.com – Di usianya yang ke-68, HM Jusuf Hamka masih datang ke kantor hingga larut malam. Bukan karena terpaksa, melainkan karena dia pernah merasakan bagaimana rasanya tak punya pekerjaan selama hampir 20 tahun. Pengusaha yang akrab disapa Babah Alun ini mengalami masa pensiun paksa yang disebutnya sebagai neraka.
“Rasanya seperti hidup berjalan tapi saya tidak ikut,” katanya pelan, mengingat dua dekade paling sunyi yang dimulai pada 1993 dan baru berakhir pada 2010, sebuah masa dalam hidupnya ketika ia pernah bangun setiap pagi tanpa tahu harus melakukan apa.
Ia tidak menutupi betapa berat fase itu. “Saya olahraga bukan untuk sehat, tapi supaya capek dan bisa tidur,” ujarnya saat dijumpai Navaswara di kantornya. Siang hari ia menghubungi teman hanya untuk bisa ikut makan siang bersama. Begitu mereka kembali bekerja, ia menyetir sendiri ke Parung atau Bogor agar waktu terasa lebih cepat. Periode itu disebutnya sebagai ruang kosong yang menelan rasa percaya dirinya. “Punya uang tapi tidak punya peran itu menyiksa,” akunya.
Karena itu ketika peluang bekerja datang kembali, ia memeluknya bukan untuk mengejar kekayaan. “Saya takut kembali ke keadaan tidak berguna. Takut merasa kosong lagi,” katanya. Ia mengakui bahwa tekanan bisnis jauh lebih mudah dihadapi dibandingkan kekosongan batin yang pernah membuatnya merasa seperti menghilang dari hidupnya sendiri. Dari situ lahir cara pandangnya bahwa bekerja adalah upaya menjaga kewarasan dan tetap merasa hadir di dunia.

Nilai Hidup yang Ia Pegang Sejak Muda
Ditanya tentang resep sukses, ia mengaku memiliki cara sendiri dalam melihat keberhasilan. “Sukses itu sederhana. Hari ini naik motor, besok bisa naik mobil bekas, itu sudah sukses,” ucapnya sambil tersenyum kecil. Ia menolak ukuran sukses yang selalu berkait dengan peningkatan materi karena menurutnya keinginan manusia tidak akan pernah selesai. “Hari ini ingin mobil, besok ingin rumah, lusa ingin gedung. Tidak ada habisnya. Yang penting kita selalu jadi lebih baik,” sambungnya.
Namun ada ukuran lain yang ia anggap lebih penting. “Yang utama itu manfaat. Kalau hari ini kita bermanfaat untuk lebih banyak orang, itu sukses,” katanya dengan suara mantap. Ia mengaku bahwa pada usia menjelang tujuh puluh tahun pun ia masih belajar memahami makna keberhasilan. “Umur segini saja saya masih belajar. Nanti kalau sudah mau tutup usia mungkin baru benar-benar paham apa itu sukses.”
Pandangan itu tidak berhenti pada teori. Prinsip kemanfaatan itu terbukti pada 31 Agustus 2025. Ketika rumah Uya Kuya dikepung massa, Jusuf memutuskan menjemput temannya itu pukul empat pagi. Istrinya memperingatkan bahaya yang mungkin muncul di jalanan, tetapi ia tetap bersikeras pergi. “Ini teman lagi kesusahan, lagi kacau,” katanya.
Ia menyetir sendiri tanpa sopir dan tanpa pengawal. Setiba di apartemen Uya, ia harus menunggu di tangga darurat hampir sejam karena lift dimatikan. Uya dan istrinya keluar dalam pakaian serba tertutup lalu ia bawa ke rumah anaknya. Sesampainya di sana, sang istri langsung tertidur karena kelelahan dan stres. Bagi Jusuf, membantu orang yang sedang terpojok adalah kewajiban moral yang tidak bisa ditunda.
Sebelumnya, ia juga datang ke pemakaman Affan Kurniawan, pengemudi ojek online yang tewas dilindas mobil Brimob. Jusuf hadir tanpa ajudan dan tanpa pengawal, hanya ditemani sopir. Di tengah kerumunan yang diperkirakan mencapai seratus lima puluh ribu orang, ia masuk ke area permakaman dengan langkah pelan. Massa justru membukakan jalan begitu mengetahui ia datang untuk melayat. Ketika hujan turun, seseorang mengambil dus aqua untuk dijadikan peneduh.
Saat hendak pulang, seorang pengemudi ojek online menggendongnya menuju motor karena mengira ia kelelahan. Jusuf menyebut momen itu sebagai pengingat bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya di tengah situasi paling padat sekalipun.

Integritas yang Ia Rawat Sejak Lama
Dalam keseharian bisnis, ia kini memilih posisi sebagai pengawas keuangan di perusahaan yang dijalankan anak-anaknya. Peran itu membuatnya tetap relevan tanpa harus mengambil alih kendali penuh. “Saya datang sampai jam delapan atau sembilan malam untuk cek angka,” ujarnya. Ia memeriksa setiap pengeluaran dan tidak segan menghubungi pemasok jika menemukan harga yang janggal. “Kalau ada angka tidak masuk akal, saya telepon langsung. Saya takut ada yang ambil jalan pintas,” katanya. Cara kerjanya sederhana tetapi memberi disiplin besar bagi seluruh manajemen.
Reputasi yang ia bangun selama lima puluh tahun banyak bertumpu pada kejujuran. Ketika pernah dituduh terlibat korupsi, ia menanggapinya dengan membuka seluruh dokumen. “Saya bilang kalau saya salah silakan proses. Tapi kalau saya benar tolong bilang saya benar,” ujarnya. Ia bahkan menantang penuduhnya untuk membuktikan klaim itu. “Kalau saya korupsi saya bayar satu triliun. Kalau tidak, berhenti fitnah saya,” katanya tegas. Pemeriksaan kemudian menyatakan ia tidak bersalah.
Pengalaman serupa pernah ia alami saat disalahpahami dalam urusan BLBI. “Saya sudah lelah disudutkan. Saya minta dokumen saya diperiksa satu per satu,” ujarnya. Pemeriksaan itu akhirnya memastikan bahwa ia tidak melakukan pelanggaran. Kejadian-kejadian itu membuatnya semakin yakin bahwa nama baik adalah aset yang tidak bisa dibeli dan tidak bisa diganti.

Tegaskan Prinsip Kebermanfaatan
Dalam kehidupan pribadi, ia memegang prinsip sederhana soal uang. Ia lebih suka memberi daripada meminjamkan. “Kalau meminjamkan itu awalnya manis. Tapi nanti kalau tidak bisa bayar bisa jadi musuh. Saya sudah mengalami sendiri,” katanya. Ia mengenang seseorang yang pernah ia bantu namun kemudian memasang anjing penjaga saat ia datang untuk menagih. “Dari situ saya belajar bantu secukupnya saja.”
Meski begitu ia tidak pernah takut pada tekanan. “The pressure for me is my pleasure,” katanya. Ia menganggap setiap tantangan sebagai ruang belajar baru. “Kalau ada masalah saya sudah siap. Saya biasanya sudah kumpulkan bukti sebelum serangan datang,” ujarnya.
Di usia senja, ia tetap memilih bekerja. “Saya tidak mau diam karena diam itu bikin otak kita cepat rusak. Pensiun itu musuh terbesar,” katanya. Ia ingin terus bergerak dan merasa berguna karena menurutnya makna hidup tidak lahir dari harta yang menumpuk, melainkan dari kesempatan untuk tetap hidup sepenuhnya setiap hari. Baginya, hidup yang bermakna bukan diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi seberapa jauh ia menjaga dirinya tetap manusia.
