Navaswara.com – Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) terus memperluas jangkauan program edukasinya melalui inisiatif Belajar Ekonomi Syariah Terintegrasi (BEST) Team Goes To School. Kali ini, kancah edukasi ekonomi berbasis nilai-nilai Islam tersebut berlabuh di Sekolah Dasar (SD) Al-Hakim, Surabaya (4/11).
Program BEST KNEKS adalah upaya reguler untuk mengkaji dan menyebarkan pengetahuan tentang ekonomi syariah kepada masyarakat, termasuk generasi muda di bangku sekolah. Dalam gelaran ini, Direktur Infrastruktur Ekosistem Ekonomi Syariah KNEKS Sutan Emir Hidayat, turut hadir. Ia menyampaikan inti sari ekonomi syariah dalam bahasa sederhana, mencakup pentingnya makanan halal hingga urgensi sedekah sebagai praktik nyata.
Namun, SD Al-Hakim ternyata bukan pemain baru dalam urusan penanaman nilai ini. Program BEST KNEKS rupanya menemukan lahan subur di sekolah yang telah membiasakan murid-muridnya pada edukasi finansial berbasis nilai-nilai Islam.
Fondasi Ekonomi Sejak Mengenal Uang
Kepala Sekolah SD AL-HAKIM Adi Purwanto, menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, pembekalan manajemen keuangan, terutama yang menyentuh masa depan anak, merupakan keharusan yang mesti diimplementasikan sejak dini.
“Kegiatan ini sangat bagus, karena menurut saya pembekalan manajemen keuangan terlebih yang berkaitan dengan masa depan ANAK, memang harus diberikan sejak dini. Kalau anak sudah dewasa, cara berpikirnya sudah berbeda. Anak-anak ini memiliki potensi besar untuk masa depannya, dan mau tidak mau mereka harus dibekali sejak sekarang,” ujar Adi.
Bagi Adi, fondasi keuangan memang berakar pada matematika, namun implementasinya harus melalui contextual teaching and learning atau pembelajaran yang langsung bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan, di SD Al-Hakim, murid-murid telah terbiasa dengan program pengenalan makanan halal dan haram, bahkan hingga kegiatan belanja ke pasar untuk melatih mereka mengelola uang secara langsung.
Mengacu pada pengalaman sekolah, lantas pada usia berapa idealnya edukasi ini harus dimulai?
“Ketika anak sudah mulai mengenal uang, sejak saat itu harus dikenalkan bagaimana cara memanfaatkannya dengan baik,” tegas Adi.
Ia menyebutkan, pengenalan mungkin dimulai sejak kelas 2 SD, di mana anak sudah mulai mempelajari mata uang. Pada fase inilah penanaman nilai tentang penggunaan uang yang baik dan bijaksana menjadi krusial.
Penerapan ini berujung pada satu tujuan penting: menjauhkan siswa dari sifat boros dan budaya konsumtif. Untuk menjaga budaya tersebut, bahkan SD Al-Hakim menerapkan pembatasan ketat pada uang saku.
“Betul. Budaya konsumtif ini betul-betul kami jaga. Bahkan uang saku pun kami batasi maksimal Rp5.000 per hari,” ungkapnya. Batasan ini berlaku seragam, mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, sekalipun sekolah memiliki kantin.
Merumuskan Kurikulum dengan Nilai Syariah
SD Al-Hakim yang menaungi 610 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, sebagian besar berasal dari kalangan menengah ke atas. Hal ini, terang Adi, turut membentuk fokus kurikulum mereka.
Dengan dukungan nyata dari KNEKS, Kepala Sekolah menaruh harapan besar agar murid-muridnya mendapatkan bekal yang lebih terintegrasi dengan kurikulum formal. Ia menggarisbawahi adanya celah dalam kurikulum nasional yang saat ini belum banyak menyentuh aspek syariah.
“Saat ini kurikulum nasional belum banyak menyentuh aspek syariah, jadi perlu ada penyesuaian agar nilai-nilai itu bisa disisipkan dalam pembelajaran, terutama di pelajaran matematika,” harapnya.
Matematika, sebagai ilmu universal, dinilai sangat strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai pengelolaan keuangan syariah. Karena itu, kerja sama dengan KNEKS diharapkan tidak berhenti pada sebatas buku pendukung, melainkan menjadi kolaborasi yang lebih nyata.
Adi Purwanto berharap program-program yang telah dirumuskan KNEKS dapat benar-benar diterapkan secara langsung oleh guru-guru di sekolah.
“Kalau ke depan bisa lebih dari sekadar buku, misalnya masuk ke dalam kurikulum, tentu itu akan jauh lebih baik,” tutupnya, menegaskan visi sekolah untuk mencetak generasi yang tak hanya cerdas secara akademik, tapi juga bijak dalam berekonomi syariah.
