Kenapa Kita Selalu Ingin Beli Baju Baru meski Lemari Sudah Penuh?

Pernah berdiri cukup lama di depan lemari yang penuh pakaian, tetapi tetap merasa tidak punya baju untuk dikenakan? Situasi ini mungkin terdengar akrab. Ada tumpukan atasan, deretan celana, hingga pakaian yang masih tersimpan dengan label harga. Namun, setiap pagi kita kembali merasa membutuhkan sesuatu yang baru.

Tak jarang jemari kita tetap saja berujung pada pakaian yang itu-itu lagi. Dari sana, keluhan yang sudah sangat akrab kembali terucap: “Aku tidak punya baju.” Sekilas, kalimat tersebut terdengar seperti keluhan manja di pagi hari. Padahal, ada pertanyaan reflektif yang jauh lebih besar di baliknya. Mengapa ketika isi lemari semakin melimpah, kita justru makin sering merasa tak punya apa-apa?

Kebiasaan membeli pakaian ternyata punya kaitan dengan persoalan yang lebih besar. Laporan Ellen MacArthur Foundation mencatat produksi pakaian global hampir dua kali lipat dalam 15 tahun, sementara rata-rata jumlah pemakaian sebelum sebuah pakaian ditinggalkan turun 36 persen. Data lain yang dikutip AFP dari yayasan yang sama menyebut satu potong pakaian rata-rata hanya dipakai tujuh hingga sepuluh kali sebelum dibuang. Bahkan, lebih dari separuh produk fast fashion tersingkir dalam waktu kurang dari setahun.

Gambaran serupa terlihat di Indonesia. Kementerian Perdagangan mencatat pakaian sebagai produk yang paling banyak dibeli melalui platform e-commerce pada 2024. Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut sampah tekstil menyumbang 2,87 persen dari komposisi sampah nasional. Data SIPSN 2021 juga memperkirakan Indonesia menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah pakaian, dengan hanya 0,3 juta ton yang berhasil didaur ulang.

Di balik kebiasaan tersebut, ada alasan psikologis yang menarik untuk dipahami. Psikolog Barry Schwartz melalui teori paradox of choice menjelaskan bahwa terlalu banyak pilihan justru dapat membuat seseorang merasa cemas dan kesulitan mengambil keputusan. Hal ini bisa terjadi saat kita memilih pakaian. Semakin banyak isi lemari, semakin banyak pula kemungkinan yang harus dipertimbangkan.

Kondisi tersebut berkaitan dengan decision fatigue atau kelelahan mengambil keputusan. American Medical Association menjelaskan bahwa kelelahan mental akibat terlalu banyak keputusan dapat membuat seseorang menunda pilihan, menghindarinya, atau justru mengambil keputusan secara impulsif. Tak heran jika setelah mencoba beberapa kombinasi pakaian, kita akhirnya kembali mengenakan atasan dan celana yang itu-itu saja.

Ada pula kebiasaan membandingkan pilihan sendiri dengan apa yang terlihat di media sosial. Ketika tren berganti begitu cepat, pakaian yang baru dibeli beberapa minggu lalu bisa terasa ketinggalan zaman. Kita pun mulai membayangkan ada model lain yang lebih menarik, warna yang lebih cocok, atau potongan yang sedang banyak dikenakan orang.

Sebuah penelitian kualitatif terhadap 10 anak muda berusia 18 hingga 20 tahun menemukan bahwa dorongan sosial dan psikologis untuk mengikuti tren, serta keinginan sesaat, menjadi faktor yang memengaruhi keputusan membeli pakaian. Meski jumlah partisipannya terbatas, temuan tersebut memberi gambaran tentang bagaimana tren dan lingkungan sosial dapat memengaruhi kebiasaan belanja.

Tentu, kebiasaan ini tidak sepenuhnya bisa dibebankan kepada konsumen. Industri fast fashion turut membentuk pola belanja melalui koleksi yang berganti dalam waktu singkat, harga yang kompetitif, dan paparan tren yang terus muncul. Sementara itu, pilihan untuk beralih ke slow fashion pun tidak selalu mudah karena berkaitan dengan harga, akses, dan kebutuhan masing-masing orang.

Pakaian yang sudah jarang dikenakan juga tidak harus berakhir menumpuk di lemari atau menjadi sampah tekstil. Jika kondisinya masih layak, kita bisa mempertimbangkan untuk mendonasikannya kepada orang atau komunitas yang membutuhkan. Pastikan pakaian sudah dicuci, bersih, dan masih nyaman digunakan sebelum disalurkan. Cara ini memberi kesempatan bagi pakaian tersebut untuk memiliki masa pakai lebih panjang, sekaligus membantu mengurangi limbah tekstil. Namun, penting untuk menyalurkan donasi sesuai kebutuhan penerima, bukan sekadar memindahkan tumpukan pakaian dari satu lemari ke tempat lain.

Lantas, apa yang bisa dilakukan ketika lemari mulai terasa penuh, tetapi keinginan membeli baju baru tak kunjung berhenti? Kita bisa memulainya dengan mengenali kembali pakaian yang sudah dimiliki. Coba padukan atasan lama dengan bawahan berbeda, keluarkan pakaian yang lama tersimpan, atau beri kesempatan pada satu potong baju untuk dikenakan dengan beberapa gaya.

Perasaan tidak punya baju belum tentu berarti kita kekurangan pakaian. Bisa saja kita hanya sedang terlalu sibuk mencari sesuatu yang baru hingga lupa dengan berbagai pilihan yang sebenarnya sudah tersedia di lemari. Mungkin, sebelum mencari pakaian baru, kita perlu bertanya apakah benar ada yang kurang dari isi lemari, atau justru kita sedang mencari rasa puas yang tidak pernah bisa diselesaikan dengan belanja.