Serena Cosgrova Francis, Perempuan Muda Kupang yang Bermimpi Besar

Navaswara.com – Sosok perempuan muda ini memilih jalan yang tidak biasa. Saat banyak orang menilai politik sebagai arena yang keras dan penuh kepentingan, ia justru melihatnya sebagai ruang untuk berbuat baik.

Serena Cosgrova Francis memulai langkahnya bukan dari panggung, melainkan dari tanah kelahiran di Kupang, mengajar anak-anak, mengurus akademi sepak bola, dan mencari solusi bagi warga yang kesulitan air bersih. Semua dilakukan jauh sebelum namanya dikenal luas.

Ceritanya dimulai jauh sebelum namanya mencuat saat Pilkada Kupang 2024. Gadis kelahiran Kupang, 20 September 1999 ini sudah terbiasa “kotor tangan” sejak remaja. Ia mendirikan LSM Timor Belajar untuk anak-anak NTT yang kesulitan akses pendidikan, hingga mengurus akademi sepak bola yang melahirkan pemain Liga 1 seperti Fabio Soares dari Arema Malang. Semua itu lahir dari proses panjang, bukan strategi politik yang dibuat semalam.

Di usia 25 tahun, ketika banyak orang masih mencari arah hidup, Serena sudah menapaki tanggung jawab besar sebagai Wakil Wali Kota Kupang, sosok termuda di Indonesia. Latar belakangnya memang dari keluarga politisi, namun pencapaiannya tidak berhenti pada privilege. Serena punya sesuatu yang menonjol, yakni keberanian untuk peduli.

Setelah lulus cumlaude dari Universitas Indonesia dan meraih gelar master di University of Birmingham, Serena sempat memiliki pilihan untuk hidup nyaman. Namun justru pengalaman akademiknya di luar negeri membuka matanya, bahwa masih banyak anak muda di NTT yang bahkan belum merasakan pendidikan dasar yang layak.

Dari kesadaran itulah, ia membangun Timor Belajar, kemudian Aksi Flobamora untuk pelestarian lingkungan, dan bekerja sama dengan investor menghadirkan akses air bersih di Sumba. Bagi Serena, ini bukan proyek singkat demi citra, melainkan komitmen jangka panjang untuk tanah kelahirannya.

“Politik itu fun karena banyak hal bisa kita suarakan dari masyarakat,” ujarnya dengan antusias. Ia percaya politik bukan hal tabu bagi anak muda. “Generasi milenial perlu punya mimpi, salah satunya berani terjun ke politik. Bukan hanya mengejar mimpi, tapi benar-benar terlibat dan membawa perubahan,” tegasnya.

Hal uang membuat Serena berbeda adalah kedekatannya dengan lapangan. Ia pernah menjadi Ketua Delegasi Paskibraka, Wakil Ketua Umum Pemuda Tani Indonesia, hingga CEO Akademi Sepakbola Bintang Timur Atambua. Ia belajar tentang kepemimpinan bukan dari teori semata, melainkan dari pengalaman real memimpin dan bekerja dengan masyarakat.

Meski terinspirasi dari sang ayah yang merupakan mantan anggota DPR RI, Serena membawa misi sendiri, yaitu menjadi jembatan antara aspirasi generasi muda dengan sistem politik yang sering terasa jauh. Pengalaman internasionalnya di Cambridge, Tokyo, dan Harvard memperkaya pandangannya tentang pembangunan berkelanjutan, ekonomi hijau, digitalisasi UMKM, dan pendidikan berkualitas, semuanya ia terapkan dengan pendekatan yang membumi.

“Bagi saya, regenerasi di partai berjalan baik dan memberi ruang besar bagi anak muda,” katanya. Dan hasil Pilkada Kupang 2024 membuktikannya. Bersama dr. Christian Widodo, pasangan ini meraih 68.830 suara, sebuah kepercayaan yang lahir dari keberanian membawa gagasan segar.

Meskipun ada yang bilang Serena terlalu muda, namun justru di situlah kekuatannya. Ia menjadi cerminan generasi yang ingin didengar dan berbuat nyata. Serena mungkin belum sempurna, namun perjalanannya menjadi bukti bahwa usia tidak membatasi niat baik. Ia menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dan pengalaman global akan lebih berarti jika kembali ke akar, untuk membangun tempat kita berasal. Karena kepemimpinan sejati selalu dimulai dari keberanian untuk peduli.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *