Eksotisme Kampung Adat Praijing, Desa Megalitikum yang Menyihir Dunia

Navaswara.com – Siang itu, sinar matahari di Kampung adat Prai Ijing (Praijing), Sumba Barat, cukup bersahabat. Tidak terlalu menyengat. Hangat.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki ke Kampung adat Praijing, pandangan mata seolah terseret eksotisme desa megalitikum. Kampung adat Praijing yang terletak di Desa Tebara, Kecamatan Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti museum hidup.

Inilah kampung di atas bukit yang menjadi tempat warisan budaya ciptaan manusia. Praijing merupakan kampung adat khas Sumba. Banyak ditemukan rumah adat khas Sumba.

Mengulas kampung adat Praijing, rumah adatnya memiliki makna dan kekhasan tersendiri. Orang lokal menyebut rumah adat Sumba sebagai Uma Bokulu dan Uma Mbatangu.

Uma Bokulu berarti rumah besar. Uma Mbatangu sendiri berarti rumah menara.

Yang menjadi kekhasan dari rumah khas Sumba itu selalu rumah panggung dengan atap menjulang seperti menara, beratap ilalang, beralas kayu. Ada tiga bagian dari rumah adat Sumba.

Bagian atas (Uma Daluku) atau disebut menara berfungsi untuk menyimpan bahan pangan hasil bumi. Bagian tengah (Rongu Uma) untuk tempat tinggal. Sedangkan bagian bawah (Lei Bangun) dipergunakan untuk memelihara hewan ternak.

Empat tiang utama difungsikan untuk menopang rumah. Ada arti atau makna dari empat tiang ini sebagai entitas penopang di dalamnya, yaitu keluarga.

Keempat tiang tersebut menjadi simbol ayah, ibu, anak laki-laki, dan anak perempuan. Bagian menara selain berfungsi untuk menyimpan bahan pangan juga bermakna religius. Yaitu ruang hunian para arwah leluhur.

Setiap rumah adat di sini dikaitkan dengan kepercayaan asli masyarakat Sumba yang disebut Marapu sebagai agama asli orang Sumba.

Marapu merupakan keyakinan memuja arwah-arwah leluhur. Dalam bahasa Sumba, arwah-arwah leluhur disebut Marapu yang secara harafiah diartikan yang dimuliakan.

Leluhur yang dimuliakan diyakini selalu berada di menara rumah dan memantau kegiatan dari keturunannya yang hidup. Marapu diyakini bisa menjadi perantara hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Orang Sumba percaya bahwa leluhur yang meninggal dunia dapat berkomunikasi dengan Tuhan dan bisa menyampaikan permohonan manusia kepada Tuhan.

Rumah juga menjadi dasar dan sumber nilai moral dan etika dalam berkehidupan sosial. Di antara empat tiang itu, ada ruang atau tempat untuk memasak atau dapur.

Perapian berfungsi mengawetkan bahan makanan atau pangan yang disimpan di menara rumah. Pintu masuk rumah dibedakan bagi lelaki dan perempuan.

Pintu utama yang letaknya di sebelah kiri rumah merupakan tempat masuk kaum lelaki. Pintu sebelah kanan menjadi tempat keluar masuknya perempuan.

Pintu perempuan terhubung dengan dapur. Pintu lelaki terhubung dengan ruang tamu.

Rumah-rumah adat -baik Uma Bokulu pun Uma Mbatangu- sejajar mengelilingi sebuah pelataran atau mesbah. Di pelataran itu, para penganut Marapu biasa menggelar upacara adat atau ritual keagamaan yang dipimpin kepala adat atau Rato.

Masyarakat Sumba memiliki upacara atau ritual adat yaitu Wulla Poddu dan Pasola. Wulla Poddu adalah bulan suci bagi penganut Marapu.

Sejumlah pantangan atau larangan yang harus dipatuhi penganut Marapu di bulan itu. Pantangan itu di antaranya tidak boleh membangun rumah, tidak boleh mengadakan pesta apa pun, kalau ada yang meninggal dilarang pukul gong bahkan tidak boleh ditangisi, tak boleh memperbaiki rumah terutama atap rumah.

Selama Wulla Poddu, penganut Marapu juga wajib berpuasa memakan daging babi dan anjing. Mereka hanya memakan sayur, daging ayam, dan nasi.

Ritual besar kedua adalah Pasola yang biasanya digelar di tanah lapang. Saat pasola digelar, masing-masing suku akan berperang menggunakan kuda dan lembing kayu.

Mereka berhadapan satu sama lain untuk saling mengadu ketangkasan melempar lembing ke arah lawan. Ritual perang adat ini merupakan momen perekat hubungan kekerabatan, bukan sebaliknya. Ritual ini biasanya diselenggarakan pada awal musim tanam setiap tahun dan menjadi salah satu magnet pariwisata Sumba.

Kampung adat Praijing menjadi objek wisata yang dicari pengunjung. Tercatat, hanya tersisa 38 rumah di sini, pasca bencana kebakaran besar pada tahun 2000.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *