Film “Aku Sebelum Aku” Sentilan Halus tentang Ambisi Orang Tua dan Makna Bahagia Anak

Refleksi Pola Asuh dan Pelajaran Memerdekakan Anak

Navaswara.com – Bagaimana jika upaya mengenali diri justru membawa kita berhadapan dengan masa lalu dan luka yang selama ini dihindari?

Ada kalanya perjalanan mencari jati diri justru membawa seseorang kembali pada kenangan yang selama ini berusaha disimpan rapat. Di titik itulah seseorang dituntut berani menghadapi masa lalu dan menerimanya sebagai bagian dari proses bertumbuh. Gagasan tersebut menjadi benang merah Aku Sebelum Aku, film terbaru sutradara dan penulis Gina S. Noer yang memadukan kisah coming-of-age, drama keluarga, dan penelusuran sejarah dalam sebuah cerita yang hangat sekaligus menyentuh.

Mempertanyakan Makna Kesuksesan dan Beban Ekspektasi

Kisah ini berpusat pada Jati (diperankan oleh Bima Sena), seorang siswa SMP yang tampak memiliki segalanya. Di mata lingkungan sekitarnya, Jati adalah wujud anak sempurna yang selalu berprestasi dan menjadi kebanggaan keluarga. Namun, di balik kesempurnaan itu, tersimpan beban yang sangat berat dan rasa hampa.

Bima Sena membedah kompleksitas karakter yang ia perankan. “Jati adalah anak yang berprestasi. Sejak awal dia melakukan sesuatu karena dia bisa. Tapi karena kebiasaan itu dia selalu dianggap pasti menang. Sekalinya sedang turun, tekanan ke dia besar banget,” ungkap Bima.

Kondisi tersebut membuat Jati kehilangan arah. “Makanya waktu sedang turun dia menghadapi kebingungan. Apa yang bisa dia lakukan? Tidak ada yang bisa dia banggakan. Cuma memenuhi apa yang dia biasa lakukan sejak kecil hanya karena dia bisa,” tambahnya.

Menanggapi dinamika tersebut, Gina S. Noer menyoroti kecenderungan orang dewasa dalam pola asuh yang kerap berjalan satu arah. “Kadang-kadang sebagai orang tua kita berpikir kita lebih baik. Tapi untuk siapa? Apakah untuk diri kita sendiri? Padahal ketika kita berhubungan dengan orang itu seharusnya berjalan dua arah. Kita bisa merasa diri kita baik, tapi apakah kita mau mendengarkan orang lain? Begitu juga sebaliknya,” papar Gina.

Lebih jauh, Gina menjelaskan bahwa relasi keluarga acap kali terbentur dinding komunikasi. “Kadang-kadang relasi keluarga, cinta, atau pekerjaan terjebak dalam ekspektasi dan asumsi yang tidak terkomunikasikan. Film ini mendorong semua karakter di dalamnya untuk berproses melalui gesekan-gesekan tersebut,” tambahnya.

Melalui perjalanan emosional Jati inilah, Gina S. Noer merangkai filmnya sebagai sebuah “surat cinta” bagi siapa saja yang sedang berada di titik sulit—baik yang bertahan dalam luka maupun yang masih terus mencari arti kebahagiaannya sendiri.

Kompleksitas Relasi Lintas Generasi

“Menurut aku, dia kurang apresiasi dan kasih sayang. Juga kurang pengertian. Bapaknya Jati sebenarnya mendukung Jati, selalu menuntun Jati. Niatnya baik. Tapi dia selalu memposisikan dirinya di depan Jati, tidak pernah di sampingnya,” jelas Bima. Akibatnya, Jati terus berusaha keras menunjukkan kepada ayahnya bahwa ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri, bukan dengan cara yang didikte sang ayah.

Beban mental yang dipikul Jati akhirnya bermuara pada benturan perspektif dengan sang ayah, Jaya (Ringgo Agus Rahman). Di sinilah letak akar kesalahpahaman yang sering dialami banyak keluarga.

Ringgo pun menyadari bahwa karakter Jaya bisa menjadi sentilan nyata. “Hal yang menyentil saya di film ini adalah saya di kehidupan nyata bisa juga terjebak menjadi sosok orang tua seperti Jaya,” tuturnya. Baginya, peran orang tua semestinya adalah menjaga dan mendampingi di samping anak, bukan menarik mereka dari depan secara paksa demi sebuah ambisi.

Menariknya, ketegangan emosional ini turut dieksekusi secara brilian melalui sinematografi. Penata kamera Deska Binarso menggunakan dua lensa berbeda, yakni lensa spherical untuk mewakili karakter Jaya yang kaku, dan lensa anamorphic yang memberi efek distorsi liar untuk sudut pandang Jati, mengambil inspirasi visual dari lukisan ikonis “The Scream” karya Edvard Munch.

Ruang Pendidikan yang Memerdekakan

Pelarian Jati dari tuntutan sekitarnya membawanya ke Sekolah Tunas Merdeka, sebuah lingkungan yang mengadaptasi filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara. Sekolah ini tidak mengukur murid dari deretan angka instan, melainkan memberi ruang agar mereka berani mengeksplorasi potensi dan identitas.

Di sinilah Jati bertemu Asa (Widuri Puteri), sosok gigih yang menularkan tekadnya untuk menelusuri sejarah hidup. Hadir pula dua guru berkarakter unik, Pak Zai dan Pak Juned, yang keduanya diperankan apik oleh Aming. Berbeda dengan gaya mengajar lama yang gemar mendikte, kedua guru ini justru memposisikan diri di samping murid-muridnya—menjadi fasilitator yang mendorong mereka untuk berpikir kritis dan berproses secara merdeka.

Semangat “memerdekakan anak” nyatanya tidak hanya hidup di naskah, tetapi juga diaplikasikan di lokasi syuting. Para aktor muda dilibatkan sebagai rekan diskusi yang setara, membuktikan bahwa proses berkarya yang saling mendengarkan akan menghasilkan cerita yang bernapas kuat dan sangat relevan dengan generasinya.

Film Aku Sebelum Aku menghadirkan pengingat bahwa perjalanan mengenali diri tidak selalu berlangsung mulus. Ada luka yang perlu diterima, ekspektasi yang perlu dilepaskan, serta keberanian untuk memulai langkah baru dengan cara yang lebih sehat. Melalui kisah Jati, film ini mengajak penonton melihat bahwa proses pulih bukanlah perlombaan, melainkan perjalanan yang layak dijalani dengan kasih sayang terhadap diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *