NusaAKsara Hadir Selamatkan Aksara Kuno Nusantara dari Dominasi Alfabet Latin di Era AI

Navaswara.com — Perkembangan pesat kecerdasan buatan atau AI ternyata membawa satu tantangan besar yang kerap luput dari perhatian. Saat ini berbagai model bahasa berskala besar seperti GPT-4 dan Llama memang sanggup berbicara dalam puluhan bahasa. Namun sistem tersebut rupanya telah mengalami romanisasi dan diprogram untuk memahami dunia hanya melalui alfabet Latin.

Bagi negara kaya budaya seperti Indonesia yang memiliki ratusan bahasa dan ragam aksara kuno, bias digital ini bisa menjadi ancaman serius bagi kelestarian warisan leluhur.

Menjawab tantangan tersebut, sebuah proyek riset inovatif yang melibatkan peneliti dari Monash University Indonesia hadir membawa angin segar. Riset yang dipimpin bersama oleh Assistant Professor Alham Fikri Aji dan Associate Professor Derry Wijaya ini memperkenalkan NusaAKsara, sebuah tolok ukur baru yang dirancang khusus untuk menjaga sekaligus menghidupkan kembali aksara asli Nusantara.

Menurut ahli linguistik Hywel Coleman, punahnya suatu bahasa sama dengan hilangnya pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Kutipan ini lantas menjadi fondasi bagi tim peneliti Monash University dan MBZUAI dalam riset yang dipublikasikan pada ajang Proceedings of the 63rd Annual Meeting of the Association for Computational Linguistics.

Aksara tradisional di Indonesia memiliki makna yang sangat mendalam karena menjadi wadah identitas yang menyimpan kearifan serta catatan detail mengenai sejarah, pengobatan, perniagaan, hingga hukum dari berabad-abad silam. Tuntutan romanisasi di ruang digital membuat aksara-aksara ini makin terabaikan, sehingga generasi muda berisiko tidak lagi mampu membaca sejarah mereka sendiri atau bahkan menganggap warisan luhur tersebut sebagai sesuatu yang asing.

Associate Professor Derry Wijaya menjelaskan bahwa menghidupkan kembali sebuah bahasa atau aksara butuh sinergi antara upaya sosial, politik, dan teknologi.

Banyak komunitas di berbagai belahan dunia yang sukses membangkitkan bahasa-bahasa yang sempat tertidur melalui perpaduan semangat akar rumput dan dukungan institusi, jelas Derry.

Ia menambahkan bahwa AI mempunyai potensi besar untuk menjadi bagian dari solusi teknologi ini namun tetap membutuhkan pelatihan terarah demi mengatasi dampak negatif dari dominasi alfabet Latin saat ini.

Selandia Baru menjadi salah satu contoh sukses. Pada era 1980-an, minimnya penutur fasih bahasa Māori mendorong para tokoh adat mendirikan pusat penitipan anak dengan pendekatan budaya mendalam. Inisiatif ini kemudian berkembang menjadi jalur pendidikan berkelanjutan yang menggunakan bahasa pengantar Māori. Semangat serupa kini coba diterapkan dalam pelestarian aksara Indonesia melalui teknologi.

Saat para peneliti menguji model AI terkini pada aksara asli seperti Jawa, Sunda, dan Lontara, hasilnya menunjukkan kinerja yang nyaris nol. AI tingkat lanjut pun masih kesulitan mengenali karakter dasar dan kerap kali menghasilkan teks yang tidak masuk akal.

Penyebab utamanya adalah minimnya data. Kumpulan data pelatihan AI saat ini sangat didominasi oleh bahasa Inggris dan bahasa berbasis alfabet Latin lainnya. Kondisi ini membuat teknologi pemrosesan bahasa alami atau NLP terus mengabaikan aksara lokal.

Demi memutus rantai dominasi tersebut, para peneliti terjun langsung ke lapangan bersama penutur asli, pendidik, dan komunitas Aksara di Nusantara. Mereka mengumpulkan 75 buku serta manuskrip dari pasar lokal dan koleksi pribadi. Ribuan halaman ini kemudian disalin, ditransliterasi, dan diterjemahkan secara manual.

Langkah manual ini memastikan AI tidak hanya belajar bentuk huruf melainkan juga mengerti nuansa budaya di balik teks tersebut. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah memasukkan aksara Lampung yang sebelumnya tidak memiliki dukungan Unicode. Berkat kerangka kerja khusus ini, aksara Lampung yang berada di ambang kepunahan akhirnya memiliki kehidupan digital di jaringan internet standar.

Walaupun berbasis teknologi mutakhir, manfaat NusaAKsara sangat berpusat pada nilai kemanusiaan dan menyentuh berbagai pilar penting kehidupan bermasyarakat. Di sektor pendidikan, terobosan ini membantu sekolah memanfaatkan teknologi secara optimal untuk mengajarkan aksara leluhur kepada generasi muda. Dalam ranah hukum, kehadiran NusaAKsara memungkinkan para ahli untuk menafsirkan akta tanah bersejarah serta catatan hukum masa lampau yang ditulis menggunakan aksara tradisional. Lebih dari itu, proyek ini memastikan identitas lokal tetap dihargai dan komunitas budaya bisa terus berkembang di tengah arus globalisasi digital.

Sistem penulisan lokal Indonesia bukan hanya artefak sejarah karena sistem tersebut adalah gudang pengetahuan abadi, tegas Derry Wijaya.

Dengan menempatkan penelitian ini pada konteks lokal, inovasi dari Monash University Indonesia membuktikan bahwa AI dapat dimanfaatkan sebagai alat pelindung keberagaman budaya dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *