Navaswara.com — Generasi Z semakin akrab dengan dunia investasi. Akses yang mudah melalui aplikasi digital, banjir informasi di media sosial, hingga banyaknya konten edukasi membuat investasi bukan lagi sesuatu yang terasa rumit bagi anak muda. Kini, membeli reksa dana, saham, atau emas digital bisa dilakukan hanya dalam hitungan menit lewat ponsel.
Namun, kemudahan tersebut belum selalu diiringi dengan pemahaman yang memadai. Di balik meningkatnya minat berinvestasi, masih ada sejumlah tantangan yang membuat kondisi keuangan generasi muda rentan. Mulai dari keputusan yang dipengaruhi tren, maraknya investasi bodong, hingga belum kuatnya fondasi keuangan pribadi. Ketiga hal ini menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperhatikan agar semangat berinvestasi benar-benar membawa manfaat dalam jangka panjang.
Literasi Keuangan Belum Sejalan dengan Kemudahan Akses
Kemajuan teknologi membuat informasi mengenai investasi semakin mudah ditemukan. Sayangnya, banyaknya informasi tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan untuk memahami risiko di balik setiap keputusan keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai fenomena fear of missing out (FOMO) dan you only live once (YOLO) masih menjadi pemicu keputusan finansial yang impulsif. Tidak sedikit anak muda membeli aset investasi atau mengikuti tren keuangan hanya karena sedang ramai dibahas di media sosial, tanpa memahami cara kerja maupun risikonya.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, bahkan pernah menyebut bahwa Gen Z sangat melek digital, tetapi tingkat literasi keuangannya belum setara.
Gambaran tersebut terlihat dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025. Indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46 persen, tetapi kelompok usia 15–17 tahun baru berada di angka 51,68 persen. Artinya, masih banyak anak muda yang telah aktif menggunakan layanan keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami prinsip dasar pengelolaan uang maupun karakter setiap instrumen investasi.
Padahal, memahami risiko sama pentingnya dengan mengetahui potensi keuntungan. Tanpa bekal tersebut, seseorang lebih mudah mengambil keputusan berdasarkan tren sesaat daripada pertimbangan yang matang.
Investasi Bodong Masih Mengincar Generasi Muda
Rendahnya literasi keuangan turut membuka peluang bagi pelaku investasi ilegal untuk mencari korban. Tawaran keuntungan besar dalam waktu singkat masih menjadi umpan yang efektif, terutama bagi mereka yang ingin memperoleh hasil instan.
Data OJK menunjukkan sekitar 30–40 persen korban investasi bodong berasal dari kalangan milenial dan Gen Z. Sementara itu, kerugian masyarakat akibat investasi ilegal selama periode 2018–2022 mencapai sekitar Rp126 triliun.
Perencana keuangan bersertifikat menilai salah satu penyebabnya adalah belum jelasnya tujuan keuangan yang dimiliki banyak anak muda. Ketika target finansial belum terbentuk, keputusan investasi lebih mudah dipengaruhi rasa takut tertinggal atau keinginan cepat memperoleh keuntungan.
Karena itu, sebelum menanamkan dana pada suatu produk investasi, masyarakat perlu memeriksa legalitas penyelenggara, memahami cara kerja instrumennya, serta bersikap waspada terhadap janji keuntungan tinggi yang terdengar terlalu mudah untuk menjadi kenyataan.
Investasi Perlu Ditopang Fondasi Keuangan yang Kuat
Memiliki portofolio investasi memang menjadi langkah positif. Namun, investasi sebaiknya dibangun di atas kondisi keuangan yang sehat, termasuk memiliki dana darurat dan kebiasaan menabung secara konsisten.
Riset Financial Fitness Index 2025 dari Bank OCBC menunjukkan kondisi yang masih memprihatinkan di kalangan generasi muda. Meski ada sebagian anak muda yang mulai menyiapkan dana darurat, jumlahnya justru turun menjadi 19 persen dari 25 persen pada tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa mayoritas anak muda masih belum memiliki cadangan keuangan yang cukup untuk menghadapi situasi tak terduga.
Temuan lain datang dari survei Jakpat pada Desember 2024. Sebanyak 68 persen responden Gen Z yang menabung menempatkan dana darurat sebagai prioritas utama. Namun, hanya 46 persen responden yang mengaku rutin menabung. Dengan kata lain, lebih dari separuh generasi muda belum memiliki kebiasaan menabung secara konsisten.
Tantangan tersebut semakin terasa karena tekanan ekonomi masih tinggi. Indonesia Millennial & Gen Z Report 2025 mencatat sebanyak 66 persen generasi muda mengaku kesulitan mengelola keuangan akibat meningkatnya biaya hidup, keterbatasan pendapatan, dan pengelolaan keuangan yang belum optimal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa investasi sebaiknya tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan salah satu bagian dari perencanaan keuangan. Membangun dana darurat, mengatur arus kas, mengendalikan pengeluaran, dan memiliki tujuan keuangan yang jelas tetap menjadi fondasi agar investasi dapat bertahan dalam berbagai kondisi ekonomi.
