Navaswara.com — Masyarakat Indonesia sering kali menyamakan semua jenis nyeri sendi sebagai “asam urat” atau sekadar “pegal linu” akibat faktor usia. Fenomena yang akrab disebut pengapuran ini kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, secara medis, kondisi ini merujuk pada penyakit spesifik yang dikenal sebagai Osteoartritis (OA).
Sebagai jenis peradangan sendi yang paling umum, OA memerlukan perhatian serius agar tidak menurunkan kualitas hidup. Berikut adalah lima fakta penting mengenai Osteoartritis yang perlu Anda pahami.
1. Apa Itu Sebenarnya Osteoartritis?
Secara sederhana, Osteoartritis adalah kondisi di mana tulang rawan yang berfungsi sebagai bantalan di ujung tulang mulai menipis dan aus. Bayangkan sendi seperti engsel pintu; jika pelumasnya hilang dan bantalannya hancur, besi akan saling bergesekan. Pada tubuh manusia, proses ini menyebabkan tulang langsung bertemu dengan tulang, memicu rasa nyeri yang hebat.
Menurut dr. Reggy Trialetta Injo, SpKFR, prevalensi osteoartritis di Indonesia terus meningkat seiring bertambahnya usia, yang tercatat sebesar 5 persen pada individu di bawah 40 tahun. Angka ini melonjak signifikan menjadi 30 persen pada rentang usia 40–60 tahun dan mencapai 65 persen pada lansia di atas usia 61 tahun.
2. Gejala Khas yang Sering Muncul
OA memiliki karakteristik gejala yang membedakannya dari pegal biasa, antara lain:
-
Nyeri Sendi: Rasa sakit biasanya memuncak saat sendi digerakkan atau setelah beraktivitas lama.
-
Kekakuan di Pagi Hari: Sendi terasa kaku setelah bangun tidur atau duduk lama, namun biasanya membaik dalam waktu 30 menit setelah mulai bergerak.
-
Sensasi Bunyi “Krek”: Terdengar suara gemeretak akibat gesekan antar-tulang saat sendi digerakkan.
-
Pembengkakan: Terjadi akibat peradangan pada jaringan lunak di sekitar sendi yang terdampak.
3. Ragam Faktor Pemicu
Kerusakan sendi ini tidak terjadi tanpa alasan. Ada beberapa faktor risiko utama yang mempercepat keausan tulang rawan, seperti faktor usia yang memicu proses penuaan alami sel.
Selain itu, beban tubuh berlebih (obesitas) memberikan tekanan ekstra pada sendi penopang seperti lutut dan pinggul. Riwayat cedera olahraga atau kecelakaan, serta aktivitas berulang akibat tuntutan pekerjaan, juga menjadi pemicu utama.
4. Langkah Pengelolaan Gejala konvensional
Meskipun kerusakan tulang rawan pada OA bersifat ireversibel atau tidak bisa disembuhkan total seperti sediakala, gejalanya sangat bisa dikelola. Penderita disarankan untuk menjaga berat badan tetap ideal guna mengurangi beban sendi.
Selain itu, melakukan olahraga rendah benturan (low-impact) seperti berenang atau bersepeda, serta menjalani terapi fisik, sangat efektif untuk memperkuat otot di sekitar sendi.
5. Terobosan Medis: Terapi Sel Punca (Stem Cell)
Dunia kedokteran modern kini membawa angin segar bagi penderita OA melalui pemanfaatan sel punca (stem cell) yang diambil dari jaringan lemak pasien sendiri. Sel-sel ini kemudian disuntikkan langsung ke area sendi yang rusak untuk mempercepat regenerasi jaringan.
Data klinis terbaru membuktikan bahwa metode ini mampu menjaga fungsi sendi tetap optimal selama dua tahun hanya dengan satu kali tindakan.
Inovasi ini membuka peluang besar bagi para lansia untuk kembali mandiri, bebas bergerak, dan tetap produktif di masa tua tanpa bayang-bayang nyeri sendi yang menyiksa.
