Jangan Asal Pijat, Ini Panduan Tepat Menangani Cedera Sendi Menurut Pakar

Navaswara.com – Tren gaya hidup aktif seperti lari maraton, bersepeda, hingga kompetisi kebugaran Hyrox kini semakin digemari masyarakat. Antusiasme ini patut diapresiasi, tetapi banyak pegiat olahraga amatir yang justru berakhir di ruang operasi akibat minimnya pemahaman batas toleransi tubuh dan metode pemulihan yang tepat.

Wawasan medis mengenai cedera ini tidak sekadar lahir dari teori klinis di balik meja bedah. Senior Consultant Orthopaedic Surgeon Mount Elizabeth Hospitals Singapore, dr. Alan, merupakan seorang atlet tangguh yang rutin berlatih dan berkompetisi dalam ajang Brazilian Jiu-Jitsu, rugby, hingga ajang ketahanan fisik Hyrox.

Berbekal pengalaman langsung di arena olahraga, dr. Alan sangat memahami psikologi para pasiennya. Ia menyoroti kebiasaan buruk para pegiat olahraga amatir, termasuk dari Indonesia, yang kerap menahan rasa sakit dan menganggapnya sebagai pegal biasa. Menurutnya, mengabaikan sinyal peringatan tubuh justru bisa berujung pada cedera parah seperti robekan ligamen lutut anterior (ACL) atau meniscus.

Beda Pegal Biasa dan Sinyal Cedera

Rasa pegal atau delayed onset muscle soreness (DOMS) sangat lumrah dialami oleh orang yang baru memulai rutinitas olahraga. Kendati demikian, dr. Alan menegaskan bahwa ada garis batas yang jelas antara pegal akibat otot berkembang dan rasa sakit akibat kerusakan jaringan.

“Jika rasa sakit itu tidak kunjung hilang setelah satu hingga dua hari istirahat, terasa sangat menyiksa, Anda tidak bisa berjalan, atau lutut terasa lemas, Anda harus segera mencari bantuan medis,” urai dr. Alan.

Memaksakan diri berlatih dalam kondisi tersebut terbukti akan memperburuk kerusakan sendi dan berpotensi memaksa pasien menjalani prosedur bedah rekonstruksi. Sebuah rutinitas kebugaran mutlak harus diimbangi dengan jeda istirahat setidaknya satu hari dan cross-training berskala ringan seperti yoga atau bersepeda santai.

Ironisnya, cedera sendi parah justru jarang terjadi di arena olahraga ekstrem seperti bela diri profesional. Berdasarkan pengalamannya bertugas sebagai tim medis di ajang One Championship, dr. Alan memaparkan bahwa olahraga kombat memiliki wasit yang akan menghentikan pertandingan sebelum terjadi insiden fatal.

Ia justru lebih sering menerima pasien asal Indonesia yang mengalami robekan ligamen atau dislokasi bahu akibat olahraga rekreasi seperti bola basket, sepak bola, dan Jiu Jitsu. Hal ini umumnya terjadi akibat minimnya pengawasan serta kecenderungan pemain amatir untuk menerobos rasa sakit demi memenangkan pertandingan antarteman.

Mitos Pijat dan Terapi Air Es

Satu kesalahpahaman yang mengakar dalam penanganan cedera di Indonesia adalah kebiasaan mengandalkan pijat tradisional. dr. Alan meluruskan bahwa sports massage memang sangat bermanfaat untuk relaksasi otot dan meredakan ketegangan bagi mereka yang rutin berlatih. Namun, pijat sama sekali tidak bisa menyembuhkan cedera struktural.

Bagi penderita robekan ACL atau meniscus, pemulihan yang tepat bertumpu pada program penguatan dan pengondisian khusus di bawah arahan fisioterapis profesional, bukan sekadar menghilangkan nyeri sesaat.

Tren berendam di air es (cryotherapy) pasca-latihan juga kerap disalahpahami. Mandi air dingin memang menyegarkan dan baik untuk proses pendinginan. Namun, menerapkannya secara berlebihan pada sendi yang baru saja cedera merupakan sebuah langkah yang keliru. Tubuh manusia membutuhkan proses peradangan alami untuk memulihkan jaringan yang rusak. Mendinginkan area cedera terlalu lama hanya akan memperlambat siklus penyembuhan alami tersebut.

Gaya Hidup Pasca-Olahraga

Faktor krusial lain yang sering luput dari perhatian adalah kebiasaan setelah olahraga usai. Banyak komunitas memiliki kebiasaan nongkrong berjam-jam, menyantap hidangan porsi besar, dan meminum es kopi manis segera setelah sesi bersepeda atau bulu tangkis berakhir.

Menurut dr. Alan, rutinitas ini kembali pada sasaran masing-masing individu. Jika tujuannya murni bersosialisasi dan mencari kebahagiaan, kebiasaan tersebut sah saja dilakukan.

“Namun, jika Anda baru saja membakar 300 kalori lalu menyantap hidangan 2.000 kalori, hitungan matematisnya tentu tidak sejalan,” kelakar dr. Alan.

Bagi pegiat olahraga yang memiliki target kebugaran serius, pengorbanan mutlak diperlukan. Hal ini mencakup keberanian menolak ajakan kumpul yang kurang sehat demi menjaga asupan nutrisi yang ideal dan memastikan jam tidur tujuh hingga delapan jam terpenuhi secara optimal. Pemulihan otot yang sukses tidak hanya bergantung pada apa yang dilakukan di lapangan, melainkan kedisiplinan menjaga gaya hidup setelah keringat mengering.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *