Navaswara.com – Di tengah hamparan Situ Cangkuang di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, berdiri sebuah bangunan bersejarah, yakni Candi Cangkuang. Candi ini dikenal sebagai candi Hindu tertua sekaligus satu-satunya candi Hindu yang masih berdiri utuh di Tatar Sunda.
Keunikan Candi Cangkuang tidak hanya terletak pada usia dan nilai sejarahnya, tapi juga pada lokasinya yang berada di sebuah pulau kecil di tengah danau. Untuk bisa sampai di kawasan candi, kita harus menyeberangi Situ Cangkuang menggunakan rakit bambu tradisional.
Asal Usul Nama Cangkuang
Nama Cangkuang berasal dari tanaman cangkuang atau pandan berduri dengan nama ilmiah Pandanus furcatus yang dahulu banyak tumbuh di kawasan ini. Masyarakat setempat memanfaatkan daun tanaman ini untuk membuat tikar, tudung, serta pembungkus gula aren. Keberadaannya yang melimpah kemudian membuat masyarakat menggunakan nama tanaman tersebut menjadi nama desa, situ, dan candi yang berdiri di kawasan tersebut.
Lingkungan sekitar candi dikelilingi pegunungan yang membuat suasananya sejuk dan asri. Pemandangan alam yang memadukan danau, perkampungan adat, dan bangunan candi menciptakan lanskap budaya yang unik dan sayang untuk dilewatkan jika bertandang ke Garut.
Penemuan Kembali yang Mengungkap Sejarah
Meski diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-8 Masehi, keberadaan Candi Cangkuang sempat terlupakan selama berabad-abad. Informasi mengenai situs ini pertama kali muncul dalam catatan seorang peneliti Belanda bernama Vorderman pada tahun 1893. Dalam laporannya disebutkan adanya arca Siwa dan makam kuno di kawasan Kampung Pulo, Garut.
Penelitian lebih lanjut baru dilakukan pada tahun 1966 oleh tim yang dipimpin Prof. Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita. Dari hasil penggalian ditemukan reruntuhan bangunan candi, arca Siwa, serta berbagai batu andesit yang diyakini merupakan bagian dari struktur bangunan asli. Setelah melalui penelitian dan pemugaran yang panjang, bentuk Candi Cangkuang berhasil direkonstruksi menggunakan batu-batu asli yang ditemukan di lokasi.
Candi Hindu di Tengah Kawasan Islam
Salah satu hal yang membuat Candi Cangkuang menarik adalah keberadaannya yang berdampingan dengan makam Embah Dalem Arief Muhammad, seorang tokoh penyebar Islam yang dipercaya sebagai leluhur masyarakat Kampung Pulo. Keberadaan situs Hindu dan makam tokoh Islam dalam satu kawasan menunjukkan toleransi beragama yang begitu tinggi.
Di sekitar candi juga terdapat Kampung Pulo, sebuah kampung adat yang sangat unik. Di sana, hanya terdapat 7 bangunan pokok (6 rumah dan 1 masjid). Kehadiran kampung adat tersebut kian menambah nilai budaya kawasan Cangkuang karena pengunjung tidak hanya belajar tentang sejarah Hindu, tapi juga dapat mengenal kehidupan masyarakat Sunda yang masih menjaga warisan tradisinya.
Hingga kini, Candi Cangkuang masih menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling penting di Garut. Keindahan alam dan nilai budayanya menjadikan situs ini sebagai simbol pertemuan antara sejarah, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat Sunda. Sebagai satu-satunya candi Hindu yang masih berdiri utuh di Tatar Sunda, Candi Cangkuang bukan sekadar bangunan kuno, melainkan saksi bisu perjalanan panjang peradaban yang pernah berkembang di tanah Jawa Barat.
