Navaswara.com – Deru kendaraan kembali terdengar di Jalan Raya Lenteng Agung setelah beberapa hari kawasan itu menjadi pusat perhatian warga dan pengguna jalan. Aktivitas lalu lintas yang sempat tersendat kini berangsur normal. Di balik kelancaran tersebut, petugas lapangan bekerja tanpa henti siang dan malam untuk memastikan jalur penghubung Jakarta dan Depok itu dapat kembali digunakan dengan aman.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta resmi membuka kembali Jalan Raya Lenteng Agung, Jakarta Selatan, yang sebelumnya ditutup akibat amblasnya badan jalan. Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno memastikan proses perbaikan telah selesai dilakukan dengan tetap mengedepankan aspek keselamatan pengguna jalan.
Saat meninjau lokasi pada Selasa (2/6), Rano Karno mengapresiasi kinerja jajaran Dinas Sumber Daya Air dan Dinas Bina Marga yang berhasil menyelesaikan pekerjaan dalam waktu relatif singkat, sekitar empat hingga lima hari sejak insiden terjadi.
“Saya cukup terkejut, dalam waktu lima hari jalan ini sudah bisa dilalui dengan kondisi sangat baik. Awalnya saya sempat meminta Dinas Bina Marga melakukan pelapisan ulang aspal, tetapi melihat hasilnya sekarang, itu tidak diperlukan lagi,” ujar Rano.
Jalan Raya Lenteng Agung merupakan salah satu koridor utama yang menghubungkan Jakarta dengan Depok dan wilayah penyangga lainnya. Karena itu, percepatan penanganan menjadi prioritas agar mobilitas masyarakat tidak terganggu lebih lama.
Insiden jalan amblas terjadi pada Jumat pagi pekan lalu. Menyusul kejadian tersebut, Pemprov DKI Jakarta langsung menutup akses jalan untuk menjamin keselamatan pengguna jalan sekaligus mempermudah proses perbaikan.
“Petugas bekerja siang dan malam selama hampir empat hari. Alhamdulillah, hari ini dua ruas jalan sudah kembali dibuka dan dapat dilalui normal,” katanya.
Meski jalur utama telah kembali beroperasi, Rano meminta penyelesaian pekerjaan pendukung seperti pembenahan bahu jalan dan area sisi kiri-kanan ruas jalan tetap dilanjutkan. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan kelancaran lalu lintas secara menyeluruh dan menghindari potensi gangguan baru.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah bersabar selama proses penanganan berlangsung.
Menurut Rano, penutupan sementara merupakan langkah yang harus diambil demi keselamatan warga dan efektivitas pekerjaan di lapangan.
Dalam peninjauan tersebut, Pemprov DKI Jakarta juga mengungkap hasil investigasi awal terkait penyebab amblasnya jalan. Berdasarkan kajian teknis, kerusakan dipicu oleh pengeroposan pipa besi bergelombang atau Aramco yang telah berusia lebih dari tiga dekade.
“Jenis besi ini usianya sudah cukup tua, mungkin lebih dari 30 tahun. Struktur yang menua pasti mengalami pengeroposan. Fenomena seperti ini juga bisa saja terjadi di titik lain di Jakarta karena masih ada struktur Aramco dengan kondisi serupa,” ungkapnya.
Rano menjelaskan, proses perbaikan di lokasi memiliki tingkat kesulitan tersendiri karena saluran air berada di bawah jalur rel kereta api dan terhubung dengan aliran dari Waduk Universitas Indonesia.
Kondisi tersebut membuat metode penggalian konvensional tidak memungkinkan dilakukan sehingga tim teknis harus menggunakan teknologi pengeboran dan penekanan pipa untuk mempercepat proses penanganan tanpa mengganggu infrastruktur lain di sekitarnya.
“Karena salurannya berada di bawah perlintasan rel kereta api, penanganannya tidak bisa dengan penggalian konvensional. Kami harus menggunakan metode pengeboran atau penekanan pipa langsung menuju waduk,” jelasnya.
Sebagai langkah penguatan, saluran baru telah dibangun menggunakan beton mutu tinggi K-400 yang memiliki daya tahan lebih baik terhadap tekanan dan aliran air. Penguatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan keamanan badan jalan dalam jangka panjang.
Selain fokus pada pemulihan lokasi, Pemprov DKI Jakarta kini mempercepat inventarisasi jaringan saluran air yang masih menggunakan struktur Aramco berusia tua di berbagai wilayah ibu kota. Pemetaan dilakukan untuk mengidentifikasi titik-titik rawan sekaligus mempercepat langkah mitigasi sebelum kerusakan serupa terjadi.
“Kami tidak ingin menutup-nutupi risiko yang ada, tetapi fokus pada langkah antisipasi. Semua skenario harus disiapkan. Kita harus siap menghadapi kemungkinan terburuk agar mitigasi dan penanganan bisa langsung dilakukan dengan cepat,” tegas Rano.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat sebagian infrastruktur bawah tanah Jakarta telah dibangun puluhan tahun lalu dan kini menghadapi tantangan usia pakai. Selain menjaga keselamatan publik, upaya mitigasi juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan infrastruktur perkotaan agar aktivitas ekonomi dan mobilitas warga dapat terus berjalan tanpa gangguan.
Kembalinya fungsi Jalan Lenteng Agung menjadi kabar baik bagi masyarakat. Namun lebih dari itu, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa modernisasi dan pemeliharaan infrastruktur harus terus dilakukan agar kota dapat tumbuh aman, tangguh, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
