Curug Citambur dan Legenda Prabu Tanjung Sanghyang Anginan

Navaswara.com – Curug Citambur merupakan salah satu destinasi wisata alam paling terkenal di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Air terjun ini berada di kawasan pegunungan yang sejuk, yakni Desa Karangjaya, Kecamatan Pasirkuda. Curug Citambur memiliki ketinggian sekitar 130 meter dan terdiri dari beberapa tingkatan air terjun yang membuatnya tampak megah dari kejauhan.

Keindahan Curug Citambur terletak pada perpaduan tebing hijau, kabut air yang beterbangan, serta udara pegunungan yang segar. Dari area pandang, kita bisa menikmati pesona aliran air jatuh dari ketinggian sambil menikmati hamparan perbukitan yang mengelilinginya.

Asal Usul Nama Citambur dan Legenda yang Beredar

Asal usul nama Citambur tidak lepas dari legenda yang menyertainya. Menurut cerita rakyat yang berkembang di wilayah Pasirkuda, dahulu kawasan sekitar Curug Citambur merupakan bagian dari Kerajaan Tanjung Anginan.

Raja yang memimpin kerajaan tersebut dikenal dengan gelar Prabu Tanjung Sanghyang Anginan. Sosok raja ini digambarkan sebagai pemimpin yang kuat, sakti, memiliki kedekatan dengan alam, dan sering melakukan ritual spiritual.

Konon, setiap hari Jumat sang prabu melakukan perjalanan menuju Curug Citambur untuk membersihkan diri, mandi, dan bertapa. Dikisahkan sang raja selalu menunggang kuda saat berangkat dari kerajaannya menuju air terjun.

Ia tidak datang sendirian, melainkan ditemani para pengawal dan pengikut setia. Sepanjang perjalanan, para pengiring menabuh alat musik tambur atau dog-dog, alat musik tradisional yang menghasilkan suara keras dan bergema.

Tabuhan tambur itu terdengar hingga ke perkampungan yang berada cukup jauh dari lokasi curug. Warga yang mendengar bunyi tersebut mengetahui bahwa sang prabu sedang menuju tempat pemandiannya karena peristiwa itu terjadi berulang kali.

Masyarakat kemudian mengaitkan air terjun ini dengan suara tambur yang selalu mengiringi kedatangan sang raja. Dari sinilah muncul nama Citambur, yang berasal dari kata “ci” yang berarti air dan “tambur” yang merujuk pada alat musik tabuh tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *