Pindang, Warisan Rasa Sumatra Selatan yang Lahir dari Harmoni Sungai dan Rempah

Navaswara.com – Di jantung Sumatra Selatan, pindang menjadi cermin hubungan panjang manusia dengan sungai yang selama ratusan tahun menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Kuahnya bening dengan perpaduan rasa pedas, asam, dan gurih. Di dalamnya terdapat ikan air tawar seperti baung, toman, gabus, hingga patin yang dimasak bersama rempah-rempah khas bumi Sriwijaya.

Secara sederhana, pindang merupakan teknik memasak dengan cara merebus tanpa santan. Namun, di balik kesederhanaannya, tersimpan jejak sejarah panjang persinggungan budaya di Sumatra Selatan.

Penggunaan kunyit misalnya, diyakini mendapat pengaruh dari peradaban India. Sementara, jahe dan lengkuas menjadi warisan interaksi masyarakat lokal dengan budaya India, Arab, hingga Tionghoa.

Pindang hadir sebagai makanan sehari-hari masyarakat Sumsel dan berkembang dalam berbagai variasi sesuai kondisi lingkungan masing-masing daerah.

Pindang Palembang dikenal lewat kuah kuningnya yang berasal dari kunyit. Tambahan nanas dan kemangi menghadirkan sensasi segar dengan perpaduan rasa asam, gurih, dan sedikit manis.

Sementara itu, Pindang Meranjat dari Kabupaten Ogan Ilir memiliki ciri khas pada proses penumisan bumbu. Bawang merah, cabai, jahe, dan kunyit ditumis terlebih dahulu hingga harum sebelum direbus bersama ikan.

Teknik tersebut membuat kuah Pindang Meranjat berwarna merah pekat dan sedikit berminyak di permukaan. Terasi bakar juga menjadi elemen penting yang memperkuat aroma masakannya.

Berbeda lagi dengan Pindang Pegagan khas suku Pegagan di Ogan Ilir. Pindang jenis ini tidak melalui proses penumisan sehingga kuahnya lebih ringan dan sama sekali tidak menggunakan minyak goreng.

Ada pula Pindang Musi Rawas yang dikenal lewat kuah kuning keemasannya. Melimpahnya kunyit, serai, lengkuas, dan daun salam menghasilkan cita rasa rempah yang lebih kuat.

Keunikan lain dari Pindang Musi Rawas terletak pada penggunaan tomat ranti atau tomat kecil yang memberikan rasa asam alami sekaligus membuat tekstur kuah menjadi sedikit lebih kental.

Di balik kekayaan rasa itu, pindang kini menghadapi tantangan serius. Sejumlah ikan sungai seperti gabus, toman, dan baung semakin sulit ditemukan di habitat aslinya.

Penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, pencemaran sungai, hingga alih fungsi lahan disebut menjadi penyebab berkurangnya populasi ikan air tawar di Sumatra Selatan.

Pada akhirnya, pindang bukan hanya soal makanan, tetapi juga simbol hubungan manusia dengan alam, ketika sungai dijaga, alam akan terus menyediakan kehidupan di meja makan masyarakatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *