Navaswara.com – Hari Raya Iduladha selalu identik dengan pemotongan hewan kurban seperti sapi, kambing, atau domba. Bagi orang dewasa, momen ini dipandang sebagai bentuk ibadah, ketaatan, dan kebersamaan sosial.
Banyak orang tua yang mengajak anak-anak mereka ke lokasi penyembelihan dengan tujuan mengenalkan agama sejak dini. Sayangnya, dari sudut pandang psikologi dan perkembangan anak, menyaksikan proses penyembelihan secara langsung sering kali membawa dampak buruk bagi kesehatan mental buah hati terlebih jika dilakukan terlalu dini.
Dampak Psikologis pada Anak
Menurut psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengajak anak untuk melihat penyembelihan hewan kurban. Hanya saja, kita harus bisa menyesuaikan kondisi anak dalam melihat proses pemotongan hewan kurban.
Hal ini dikarenakan proses penyembelihan hewan bisa memunculkan rasa takut berlebih pada anak. Beberapa bisa menjadi lebih sensitif, mudah cemas, atau mengalami mimpi buruk setelah melihat proses tersebut. Sejumlah anak juga bisa berperilaku agresif atau anak meniru apa yang dilihatnya tanpa memahami konteks agama maupun nilai pengorbanan yang sebenarnya.
Anak usia dini juga cenderung memiliki kedekatan emosional dengan hewan. Pada fase perkembangan tertentu, anak memandang hewan sebagai makhluk yang lucu dan layak disayangi. Ketika melihat hewan disembelih, maka anak-anak akan mempertanyakan apakah menyakiti hewan adalah sesuatu yang wajar atau diperbolehkan.
Perhatikan Usia Sang Buah Hati
Dalam menyaksikan proses penyembelihan hewan kurban tentu diperlukan kesiapan mental, sebab setiap anak memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Anak di bawah usia tujuh tahun umumnya belum mampu memahami konsep benar dan salah, sehingga belum siap melihat proses penyembelihan hewan kurban secara langsung. Ada pula pendapat yang menyarankan agar anak baru diperkenalkan pada proses tersebut ketika usianya lebih besar dan kondisi emosionalnya sudah lebih stabil.
Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan kesiapan sang anak. Jika anak menunjukkan rasa takut, ada baiknya kita segera membawanya menjauh. Memaksakan anak menghadapi situasi yang membuatnya takut justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental mereka.
Cara Mengenalkan Makna Kurban dengan Aman
Meski anak tidak disarankan melihat proses penyembelihan secara langsung, bukan berarti mereka tidak bisa belajar tentang makna Iduladha. Kita bisa mengenalkan nilai berbagi, keikhlasan, dan kepedulian sosial melalui cara yang lebih aman dan sesuai usia buah hati. Misalnya dengan mengajak anak membagikan daging kurban kepada tetangga, menceritakan kisah Nabi-nabi, atau menjelaskan makna berkurban menggunakan bahasa sederhana dan mudah dimengerti.
Pendekatan yang lembut dan penuh penjelasan akan membantu anak memahami esensi Iduladha tanpa harus mengalami ketakutan berlebihan. Dengan begitu, anak tetap dapat belajar tentang nilai agama sekaligus merasa aman secara emosional.
