Navaswara.com – Semangat melestarikan budaya Indonesia terus digaungkan melalui ajang storytelling “Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026” yang digagas oleh Cahaya Manthovani. Setelah sukses menggelar event perdana di Kota Jakarta, Banten dipilih menjadi lokasi kedua pelaksanaan acara ini.
Baginya, pemilihan Banten bukan tanpa alasan. Selain lokasinya yang dekat dengan Jakarta, ia juga sudah cukup akrab dengan daerah tersebut. Meski demikian, ia mengaku pengalaman terjun langsung ke lingkungan anak-anak SD, SMP, hingga masyarakat umum di Banten menjadi pengalaman baru yang sangat berkesan baginya. Ia pun merasa sangat bersyukur karena mendapat dukungan besar dari Pemerintah Provinsi Banten sehingga acara dapat berjalan lancar.
“Saya memberikan apresiasi yang sangat tinggi untuk Pemerintah Provinsi Banten, karena mau menerima dan mendukung kami untuk menggelar acara ini. Selain itu, Pemprov juga membantu untuk kita nge-reach masyarakat Banten. Sejujurnya, ini juga cukup challenging, karena walaupun sering bolak-balik ke Banten tapi saya belum pernah masuk secara langsung.
Jadi pastinya setiap kali kita membuat acara harus kolaborasi dengan pemerintah. Dan Pemerintah Provinsi Banten Alhamdulillahnya sangat supportive, kita dibantu untuk approach ke media-media Banten dan juga ke sekolah-sekolah di Banten,” papar Cahaya dengan nada bersemangat.
Sukses menggelar acara kedua, Cahaya menegaskan bahwa Suara Nusantara akan menjadi agenda rutin yang terus berkembang ke berbagai daerah di Indonesia. Setelah Banten, Jawa Barat disebut menjadi tujuan berikutnya. Nantinya setiap daerah akan mengangkat cerita rakyat khas masing-masing agar kekayaan budaya lokal tetap hidup di tengah generasi muda.
Di sisi lain, bagi Cahaya Manthovani, storytelling dan mendongeng memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan karakter. Menurutnya, kegiatan tersebut mampu melatih kemampuan bertutur kata, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, hingga membangun rasa percaya diri.
Ia juga mengaku sangat kagum dengan semangat para peserta dari Banten. Penampilan anak-anak dinilai jauh di luar ekspektasinya. Banyak peserta rela berangkat sejak dini hari demi tampil di atas panggung, namun tetap menunjukkan energi dan semangat yang luar biasa saat tampil. Ia pun melihat hal itu sebagai bentuk dedikasi yang sangat menginspirasi. Menurutnya, tidak hanya peserta yang belajar dari ajang ini, dirinya pun merasa ikut belajar banyak tentang public speaking dan cara membangun perhatian audiens dari penampilan para peserta.
“Saya justru harus belajar lebih banyak sama adik-adik yang ditampil, karena mereka menghafalnya itu sangat cepat. Apalagi kalau misalnya harus menghafal intonasi, gesture, dan juga harus kita meng-grab attention para audience.
Itu bukan suatu hal yang mudah. Jadi, walaupun saya membuat acara ini, saya justru lebih belajar banyak untuk cara saya public speaking sendiri. Selain itu, penampilan anak-anak itu sangat di luar ekspektasi saya, mereka bisa loncat langsung ke atas panggung. Itu unik sekali. Mereka ada yang cerita kalau berangkat dari rumahnya jam 2 pagi. Tapi harus tampil jam 9 pagi dengan kondisi yang masih sangat aktif, masih sangat semangat. Itu sangat menginspirasi saya,” tutupnya
