Ratusan Ribu Anak Terindikasi Tekanan Darah Tinggi, Ini 7 Faktanya

Navaswara.com – Hipertensi bukan hanya urusan orang dewasa. Kondisi ini diam-diam bisa mengintai si kecil sejak dini dan gejalanya hampir tak terasa.

Data terbaru menunjukkan sekitar 663 ribu anak usia sekolah di Indonesia mengalami peningkatan tekanan darah tinggi berdasarkan program skrining nasional. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kemenkes dari 1 Januari hingga 3 Mei 2026 menyaring 4,8 juta anak di 48 ribu sekolah, hasilnya 22,1% atau 663 ribu anak terdeteksi mengalami peningkatan tekanan darah. Temuan ini menjadi peringatan untuk intervensi dini, karena kondisi ini berisiko memengaruhi kesehatan jantung jangka panjang.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi kerap diasosiasikan dengan orang tua atau lansia. Padahal, anak-anak pun rentan mengalaminya, terutama di era gaya hidup serba digital dan makanan tinggi garam seperti sekarang ini. Yuk, kenali faktanya sebelum terlambat.

1.Hipertensi pada anak lebih umum

Angka kejadian hipertensi pada anak berkisar 1–2%, namun penelitian di AS terhadap lebih dari 5.000 anak sekolah menemukan angka setinggi 4,5%. Trennya pun terus meningkat seiring dengan merebaknya obesitas anak dan gaya hidup sedentari. Bukan kondisi langka tapi justru banyak yang tidak menyadarinya.

2. Standar “normal” tekanan darah anak berbeda dari dewasa

Tidak ada satu angka pasti untuk semua anak. Tekanan darah normal pada anak ditentukan berdasarkan usia, jenis kelamin, dan tinggi badan  mengacu pada tabel persentil khusus. Anak dikatakan hipertensi bila tekanan darahnya melebihi persentil ke-95 pada tiga kali pemeriksaan berbeda. Itulah mengapa diagnosis membutuhkan dokter, bukan sekadar alat tensi rumahan.

3. Ada dua jenis hipertensi tergantung usia anak

Hipertensi primer (tanpa penyebab jelas) lebih sering muncul pada remaja, biasanya dipicu oleh obesitas, pola makan, dan stres. Sementara hipertensi sekunder yang disebabkan kondisi medis seperti penyakit ginjal, jantung bawaan, atau gangguan hormonal lebihumum pada anak di bawah 6 tahun. Semakin muda usianya, semakin perlu dicurigai ada penyakit lain yang mendasari.

4. Hampir tidak ada gejala yang bisa dirasakan

Inilah yang membuat hipertensi pada anak sangat berbahaya. Mayoritas anak tidak mengeluh apa pun. Gejala baru muncul saat tekanan darah sudah sangat tinggi, disebut krisis hipertensi,  berupa sakit kepala hebat, mual, gangguan penglihatan, bahkan kejang. Jangan tunggu si kecil mengeluh untuk mulai memeriksakan tekanan darahnya.

5. Gadget, junk food, dan kurang gerak adalah kombinasi berbahaya

Gaya hidup modern menjadi pemicu utama hipertensi primer pada anak masa kini, terlalu lama di depan layar, konsumsi makanan tinggi garam dan lemak jenuh, minimnya aktivitas fisik, kurang tidur, hingga stres akibat tekanan akademik. Perubahan kecil dalam rutinitas harian bisa memberikan dampak besar bagi tekanan darah si kecil

6. Penanganan dimulai dari gaya hidup, bukan langsung obat

Untuk hipertensi ringan, dokter biasanya akan merekomendasikan modifikasi gaya hidup selama 3–6 bulan terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan obat. Obat antihipertensi seperti ACE inhibitor atau calcium channel blocker baru diberikan bila tekanan darah tidak kunjung turun dan dosisnya harus sangat hati-hati karena dosis berlebih justru membahayakan jiwa anak.

7. Deteksi dini bisa dimulai sejak anak usia 3 tahun

Dokter anak merekomendasikan pemeriksaan tekanan darah rutin mulai usia 3 tahun pada setiap kunjungan ke dokter. Untuk anak dengan faktor risiko, seperti lahir prematur, riwayat keluarga, atau mengalami obesitas pemeriksaan bahkan perlu lebih sering dan lebih awal. Satu langkah ini bisa menyelamatkan kesehatan anak di masa depan.

Perlu diwaspadai, anak yang mengalami hipertensi memiliki risiko hampir empat kali lipat untuk tetap mengalami tekanan darah tinggi saat dewasa. Bahkan, proses pengerasan pembuluh darah atau aterosklerosis yang dapat memicu penyakit jantung ternyata bisa mulai terbentuk sejak usia anak-anak.

Hipertensi pada anak bukan kondisi yang harus ditakuti berlebihan, tapi juga tidak boleh diabaikan. Dengan deteksi dini dan perubahan gaya hidup yang tepat, kondisi ini sangat bisa dikendalikan. Jadikan kunjungan rutin ke dokter anak sebagai investasi kesehatan jangka panjang untuk si kecil.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *