Kemenko PMK Dorong Gerakan SatuJamKu, Saatnya Keluarga Kembali Jadi Tempat Utama Anak Bertumbuh

Navaswara.com — Di tengah kehidupan yang semakin dipenuhi layar digital, pemerintah mulai memberi perhatian lebih serius pada satu hal yang perlahan mulai tergerus: kualitas kehadiran keluarga dalam kehidupan anak.

Bukan tanpa alasan. Tingginya penggunaan internet di Indonesia, terutama di kalangan generasi Z dan Alpha, kini menghadirkan tantangan baru dalam pola pengasuhan. Anak-anak semakin akrab dengan gawai sejak usia dini, sementara interaksi langsung dengan keluarga justru semakin berkurang.

Situasi inilah yang mendorong Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia memperkuat Gerakan Satu Jam Berkualitas Bersama Keluarga atau SatuJamKu sebagai upaya mengembalikan peran keluarga di era digital.

Hal tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, dalam kegiatan Sosialisasi SatuJamKu yang digelar secara luring dan daring di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Deputi yang akrab disapa Lisa itu menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya tingginya penetrasi internet yang telah mencapai lebih dari 80 persen, tetapi juga minimnya pendampingan orang tua dalam penggunaan ruang digital oleh anak-anak.

“Jangan sampai yang mengasuh anak adalah gadget, tetapi keluarga,” ujarnya.

Kalimat tersebut terasa sederhana, tetapi menggambarkan kegelisahan yang kini dirasakan banyak orang tua. Di tengah kesibukan pekerjaan dan derasnya arus teknologi, waktu bersama keluarga perlahan berubah menjadi sesuatu yang mahal.

Padahal, menurut Lisa, keluarga seharusnya tetap menjadi ruang pertama dalam pembentukan karakter, nilai, dan kedekatan emosional anak.

Karena itu, Gerakan SatuJamKu hadir bukan sebagai program baru, melainkan penguatan dari berbagai gerakan pengasuhan dan pembangunan keluarga yang selama ini telah berjalan di kementerian, lembaga, maupun pemerintah daerah.

Fokus utamanya sederhana: menghadirkan minimal satu jam interaksi berkualitas setiap hari antara orang tua dan anak.

“Ini bukan membuat program baru, tetapi mengoptimalkan yang sudah ada. Prinsipnya bagaimana kita mengintegrasikan satu jam berkualitas dalam setiap aktivitas keluarga,” jelasnya.

Dalam konsep yang dibangun Kemenko PMK, Gerakan SatuJamKu menjadi bagian dari Asta Mantra Membangun Keluarga Berkualitas di Era Digital. Pendekatan ini menekankan pentingnya mengurangi screen time, meningkatkan green time atau interaksi langsung, memperkuat nilai agama dan budaya, serta membangun kolaborasi lintas sektor dalam pengasuhan anak.

Pemerintah juga telah mendorong penguatan kebijakan di daerah melalui Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 400.9.3/2160/Bangda agar gerakan tersebut dapat diintegrasikan ke dalam program pembangunan keluarga di daerah.

Namun, bagi Lisa, keberhasilan gerakan ini tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah.

“Ini tidak bisa dikerjakan oleh satu pihak. Harus kolaboratif, melibatkan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, komunitas, dunia usaha, hingga akademisi,” katanya.

Karena itu, Kemenko PMK juga mendorong keterlibatan berbagai komunitas dan organisasi masyarakat seperti PKK, Karang Taruna, hingga Generasi Berencana (Genre) untuk memperluas dampak gerakan.

Pendekatan yang digunakan pun dibuat sederhana dan realistis.

“Prinsipnya low budget, high impact. Optimalkan program yang sudah ada dan internalisasikan nilai satu jam berkualitas ini di masyarakat,” tambah Lisa.

Dalam diskusi yang berlangsung, berbagai praktik baik dari daerah dan komunitas turut dipaparkan.

Siska Gerfianti menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat menjadi salah satu daerah yang telah mengimplementasikan Gerakan SatuJamKu hingga ke tingkat masyarakat.

Sementara itu, Nani Nurhasanah dari Komunitas Binar menyoroti pentingnya bermain bersama anak sebagai bagian dari penguatan pengasuhan keluarga. Salah satu inisiatif yang mereka jalankan adalah tantangan “30 Hari Bermain Bersama Anak” untuk mendorong keterlibatan aktif orang tua.

Dari sisi teknologi, Anne Marie Harjati menegaskan bahwa ruang digital sebenarnya tidak selalu harus dipandang negatif.

“Kita tidak bisa sepenuhnya menjauhkan anak dari digital, tetapi kita bisa mengarahkan agar digital menjadi sarana yang positif,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Tita Ayuditya Surya yang menjelaskan berbagai upaya pemerintah menghadirkan ekosistem digital yang lebih aman bagi anak, termasuk layanan konsultasi bagi orang tua dalam menghadapi anak dengan kecanduan gim.

Di tengah perkembangan teknologi yang terus melaju, pesan yang ingin dibangun melalui Gerakan SatuJamKu sebenarnya sederhana, tetapi mendasar: secanggih apa pun dunia digital berkembang, kehadiran keluarga tetap tidak bisa digantikan.

Karena bagi anak, satu jam bersama keluarga yang penuh perhatian sering kali jauh lebih berarti dibanding berjam-jam bersama layar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *