Navaswara.com – Setiap kali membicarakan kemajuan perempuan Indonesia, ingatan kita secara otomatis akan berlabuh pada satu titik yang sama, yakni sosok Kartini. Kita sering kali terpaku pada satu nama untuk merangkum sebuah perjuangan besar. Nama itu menjadi simbol, wajah, dan suara yang kita rayakan setiap tahunnya.
Padahal, emansipasi bukanlah sebuah monumen tunggal, melainkan sebuah jalinan napas yang ditiupkan dari berbagai penjuru mata angin. Jika selama ini kita mengenal satu sosok sebagai pembuka jalan wacana, ada deretan nama lain yang bekerja di wilayah praktis. Ada sosok yang memilih berjuang dalam sunyi, di antara debu papan tulis dan riuh pasar, tanpa sempat mengabadikan keresahan mereka dalam lembaran surat karena tengah membangun fondasi. Sosok-sosok tersebut berjuang dengan cara masing-masing, di medan yang berbeda, dan sayangnya namanya masih sering terlewat di buku sejarah.
Berikut adalah mereka yang bekerja melampaui teks dan wacana.
1. Raden Ayu Lasminingrat Intelektual Garut
Lahir di Garut pada 1843, Lasminingrat adalah bukti bahwa akses pendidikan adalah kunci. Sebagai putri pujangga Sunda yang dekat dengan kalangan intelektual Belanda, ia menguasai bahasa kolonial tersebut dengan fasih, sesuatu yang nyaris mustahil bagi perempuan pribumi saat itu.
Namun, ia tidak menyimpan ilmu itu untuk dirinya sendiri. Lasminingrat menerjemahkan karya sastra Eropa, termasuk dongeng Grimm bersaudara, ke dalam bahasa Sunda agar masyarakatnya bisa menyerap nilai pendidikan tanpa kehilangan akar budaya. Pada 1907, ia mendirikan Sakola Istri di Garut, tujuh tahun lebih awal dari Dewi Sartika. Namanya mungkin sunyi di buku teks nasional, tapi ratusan perempuan Sunda yang terdidik di awal abad ke-20 adalah bukti hidup dari kerja kerasnya.
2. Dewi Sartika Sang Pembangun Sekolah
Kalau Kartini adalah perempuan yang menulis tentang mimpinya, Dewi Sartika adalah yang langsung mewujudkannya. Pada 16 Januari 1904, di sudut pendopo Kabupaten Bandung, ia membuka Sakola Istri dengan modal seadanya dan hanya 20 murid.
Dewi tidak menunggu izin atau fasilitas mewah. Ia mengajarkan baca-tulis-hitung sekaligus keterampilan praktis yang bisa menghasilkan uang. Baginya, kemandirian ekonomi adalah bentuk pemberdayaan paling nyata. Penjajah Belanda bahkan memberinya bintang jasa pada 1939. Ironisnya, kita sering lebih mudah mengingat kata-kata puitis daripada sistem pendidikan yang dibangun dengan keringat sendiri seperti yang dilakukan Dewi.
3. Emma Poeradiredja Suara Politik dari Tanah Pasundan
Lahir di Bandung pada 1902, Emma adalah salah satu dari sedikit perempuan yang hadir dan bersuara dalam Kongres Pemuda II 1928, momen lahirnya Sumpah Pemuda. Bagi Emma, kemerdekaan bukan hanya soal mengusir penjajah, tapi juga membebaskan perempuan dari ketergantungan.
Melalui organisasi PASI (Pasundan Istri), ia melompat jauh ke depan. Saat orang lain masih berdebat soal urusan dapur, Emma sudah bicara soal hak pilih, hak berpendapat, dan posisi perempuan sebagai subjek politik. Ia percaya bahwa bangsa yang meremehkan perempuannya adalah bangsa yang sedang memotong sayapnya sendiri.
4. Nyai Ahmad Dahlan Nyawa di Balik Gerakan Sosial dan Kesehatan
Siti Walidah, atau Nyai Ahmad Dahlan, membuktikan bahwa agama dan emansipasi bisa berjalan beriringan. Pada 1917, ia mendirikan Aisyiyah. Bukan sebatas organisasi pendamping Muhammadiyah, Aisyiah ini mesin penggerak pendidikan dan kesehatan bagi kaum perempuan Muslim yang saat itu sangat terbatas ruang geraknya.
Hingga hari ini, warisannya masih bernapas lewat ribuan sekolah, rumah sakit, dan panti asuhan di seluruh pelosok negeri. Jika Muhammadiyah adalah sebuah pohon besar, maka Siti Walidah adalah akar yang menyiram separuh bagian pohon itu agar tetap tegak berdiri.
Meski nama-nama mereka mungkin tak sesering itu disebut dalam buku teks sekolah, warisan yang mereka tinggalkan tetap hidup dalam setiap sekolah, rumah sakit, dan organisasi yang masih berdiri hingga kini. Perjuangan Lasminingrat, Dewi Sartika, Emma Poeradiredja, dan Nyai Ahmad Dahlan menjadi pengingat bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah-langkah kecil di daerah. Ke depan, diharapkan narasi sejarah kita dapat lebih inklusif dalam merangkum setiap tetes keringat perempuan yang telah ikut serta meletakkan fondasi bagi bangsa ini.
