Bantar Gebang Penuh: Alarm Kegagalan Akuntansi Manajemen Kita?

Navaswara – Gunungan sampah di Bantar Gebang yang kian meninggi bukan sekadar persoalan bau atau estetika kota. Ia adalah simbol kegagalan sistemik, bahwa selama ini kita keliru dalam memaknai “nilai” dalam aktivitas ekonomi. Setiap hari, Jakarta mengirimkan sekitar 7.000–8.000 ton sampah ke TPA Bantar Gebang. Di sisi lain, TPA Cipayung di Depok menerima tidak kurang dari 800–1.000 ton sampah harian dari aktivitas warganya. Ketika kapasitas kedua tempat ini kian kritis, bahkan sempat dihentikan operasionalnya, yang sebenarnya sedang kolaps bukan hanya sistem pengelolaan sampah, melainkan cara berpikir kita tentang biaya, efisiensi, dan keuntungan.

Selama ini, dunia usaha memperlakukan limbah sebagai biaya tak terhindarkan. Begitu sisa produksi keluar dari pabrik, persoalan dianggap selesai dan cukup dibayar dengan biaya pembuangan yang relatif murah. Dalam logika ini, semakin cepat limbah “keluar”, semakin baik.

Di sinilah letak kesalahan mendasarnya.

Setiap ton sampah yang berakhir di TPA sejatinya adalah akumulasi nilai ekonomi yang hilang: bahan baku yang tidak menjadi produk, energi yang terbuang sia-sia, serta tenaga kerja yang tidak menghasilkan nilai tambah. Namun, semua itu tidak pernah benar-benar terlihat dalam laporan keuangan konvensional. Akuntansi tradisional hanya mencatat biaya di ujung proses (biaya pembuangan). Ia gagal menangkap apa yang sebenarnya lebih penting: berapa besar nilai yang hilang sebelum limbah itu muncul.

Pendekatan seperti Material Flow Cost Accounting (MFCA) menawarkan perspektif yang lebih jujur. Dalam pendekatan ini, limbah tidak dipandang sekadar sisa, melainkan sebagai indikator inefisiensi. Setiap “produk negatif” menunjukkan adanya kegagalan dalam proses penciptaan nilai.

Bantar gebang (Sumber: https://infobekasi.co.id)

Jika pendekatan ini diadopsi secara luas oleh industri, maka persoalan sampah tidak lagi dilihat sebagai urusan pemerintah daerah semata, melainkan sebagai konsekuensi langsung dari keputusan manajerial di dalam perusahaan. Di titik ini, persoalan sampah berubah dari isu lingkungan menjadi isu strategis. Mengurangi limbah bukan lagi sekadar tanggung jawab sosial atau kepatuhan terhadap regulasi, tetapi bagian dari upaya meningkatkan efisiensi dan daya saing. Perusahaan yang mampu menekan limbah sejatinya sedang mengurangi biaya tersembunyi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi.

Inilah yang seharusnya menjadi arah baru manajemen penciptaan nilai: bukan sekadar memaksimalkan output, tetapi meminimalkan nilai yang hilang di sepanjang proses.

Namun, tanpa perubahan cara pandang, solusi yang diambil akan selalu bersifat jangka pendek. Pemerintah akan terus mencari lahan baru, memperluas TPA, atau mengandalkan teknologi seperti insinerator. Sementara itu, sumber masalahnya (inefisien di hulu) tetap tidak tersentuh.

Krisis di TPA Bantar Gebang dan Cipayung bukan lagi sekadar persoalan teknis, melainkan cermin kegagalan kolektif dalam cara kita berpikir. Kita tidak kekurangan teknologi, kita kekurangan keberanian untuk mengubah paradigma. Selama ini, pemerintah masih terjebak pada pola lama: mengumpulkan, mengangkut, lalu membuang seolah masalah selesai ketika sampah hilang dari pandangan. Ketika TPA penuh, solusi yang diulang adalah membuka ruang baru untuk menyembunyikan persoalan lama. Di saat yang sama, masyarakat pun belum sepenuhnya beranjak dari budaya “buang dan lupakan”. Sampah dianggap selesai ketika keluar dari rumah, tanpa kesadaran bahwa setiap plastik, sisa makanan, dan kemasan yang dibuang adalah bagian dari sistem yang akan kembali menumpuk di ruang hidup kita sendiri. Yang lebih mengkhawatirkan, perguruan tinggi yang seharusnya menjadi pusat kesadaran dan perubahan sering kali masih berdiri di pinggir. Pengetahuan tentang keberlanjutan, ekonomi sirkular, dan efisiensi sumber daya belum sepenuhnya menjelma menjadi gerakan nyata yang mengubah perilaku industri dan masyarakat.

Dalam lanskap seperti ini, perusahaan terus melanggengkan ilusi: bahwa limbah adalah biaya kecil yang bisa dipindahkan ke luar sistem. Padahal, setiap ton sampah adalah bukti kegagalan menciptakan nilai. Ia adalah jejak dari bahan baku yang terbuang, energi yang sia-sia, dan keputusan manajerial yang keliru. Kita sedang hidup dalam paradoks: mencatat laba di atas kertas, sambil menumpuk kerugian di ruang nyata. Sudah saatnya akuntansi berhenti menjadi alat pembenaran, dan mulai berfungsi sebagai alat pengungkapan kebenaran bahwa nilai yang hilang jauh lebih besar daripada yang dilaporkan. Jika tidak, TPA akan terus menjadi tempat kita menyembunyikan kegagalan kolektif hingga suatu hari, ketika gunungan itu tak lagi bisa ditinggikan, dan krisis yang selama ini kita abaikan berdiri tepat di hadapan kita, tanpa bisa kita hindari.

 

Oleh: Satria Yudhia Wijaya (Akademisi Akuntansi UPN ”Veteran” Jakarta & Mahasiswa Doktoral Manajemen Berkelanjutan Perbanas Institute)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *