Navaswara.com – Ketegangan di kawasan Laut Merah kembali menguat. Di tengah dinamika geopolitik global yang belum sepenuhnya stabil, pergerakan Houthi di wilayah strategis menjadi sinyal bahwa konflik regional berpotensi menjalar menjadi isu global.
Pandangan ini disampaikan oleh pengamat politik dan militer dari Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting. Ia menilai bahwa situasi di kawasan tersebut tidak bisa lagi dipandang sebagai konflik lokal semata, melainkan telah menyentuh kepentingan global yang lebih luas.
Menurutnya, yang dipertaruhkan bukan hanya persoalan militer, tetapi juga jalur perdagangan dunia.
Selat Bab el-Mandeb, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, merupakan salah satu nadi utama perdagangan internasional. Jalur ini dilalui kapal-kapal pengangkut energi, bahan baku, hingga komoditas penting dari Timur Tengah menuju Eropa dan sebaliknya. Gangguan kecil di titik ini saja dapat memicu efek berantai secara global.
Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas kelompok Houthi menunjukkan peningkatan intensitas, terutama dalam bentuk ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas. Selamat Ginting melihat dinamika ini sebagai bagian dari tarik-menarik kepentingan geopolitik yang lebih besar.
Di satu sisi, kelompok Houthi memandang aksinya sebagai tekanan politik dalam konteks konflik Timur Tengah. Namun, di sisi lain, dunia internasional melihatnya sebagai ancaman serius terhadap stabilitas ekonomi global.
Ketika jalur pelayaran terganggu, dampaknya langsung terasa. Biaya logistik meningkat, distribusi barang melambat, dan harga komoditas berpotensi melonjak. Efeknya tidak hanya dirasakan negara-negara di kawasan, tetapi juga negara berkembang yang bergantung pada kelancaran perdagangan internasional.
Lebih jauh, Selamat Ginting menilai bahwa situasi ini juga membuka ruang bagi keterlibatan kekuatan militer global. Negara-negara Barat yang memiliki kepentingan terhadap jalur perdagangan mulai meningkatkan kehadiran militernya. Langkah ini di satu sisi bertujuan menjaga keamanan, namun di sisi lain berpotensi memperbesar eskalasi konflik.
Kawasan Laut Merah kini tidak hanya menjadi jalur logistik, tetapi juga arena geopolitik yang sensitif. Setiap manuver berpotensi memicu reaksi berantai yang sulit dikendalikan.
Dalam pandangannya, dinamika ini menunjukkan bahwa di era globalisasi, konflik tidak lagi memiliki batas geografis yang tegas. Gangguan di satu titik strategis seperti Bab el-Mandeb dapat berdampak luas hingga ke berbagai belahan dunia.
Bayang-bayang konflik global, menurutnya, kini hadir dalam bentuk yang lebih kompleks melalui tekanan ekonomi, gangguan logistik, dan peningkatan tensi militer.
Karena itu, ia menekankan bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya meredam konflik, tetapi memastikan eskalasi tidak berkembang menjadi krisis global yang lebih besar.
“Dunia hari ini semakin rentan karena stabilitasnya bergantung pada titik-titik strategis yang sangat sensitif,” ujar Selamat Ginting.

