Navaswara.com – Dunia seni rupa Indonesia kembali disuguhkan gelaran seni nan unik melalui pameran tunggal bertajuk “Berbunga-bunga” yang berlangsung hingga 5 April mendatang. Diselenggarakan di SAL Project, Jakarta, pameran ini merupakan eksplorasi artistik dari seniman lintas media, Angki Purbandono. Dikenal luas melalui teknik scanography atau seni memindai objek langsung ke mesin pemindai tanpa bantuan kamera, Angki mengajak para pecinta seni untuk menyelami keindahan tersembunyi dari tanaman yang tumbuh di celah-celah beton ibu kota.
Dalam pameran Berbunga-bunga, Angki menunjukkan kemampuannya dalam mendokumentasikan realitas sehari-hari yang sering luput dari perhatian kita yang kerap tergesa-gesa. Pameran ini merupakan hasil dari sebuah proyek catatan visual yang cukup ambisius. Angki mengumpulkan dan mendokumentasikan sekitar 73 jenis bunga dan tanaman yang ia temukan di lingkungan perkotaan. Proyek ini menjadi bentuk apresiasinya terhadap daya tahan alam di tengah himpitan urbanisasi. Bunga-bunga yang dipamerkan bukanlah bunga-bunga mahal dari toko bunga ternama, melainkan tumbuhan liar di pinggiran-pinggiran jalan, di pot-pot warga, atau bahkan yang tumbuh di sela-sela trotoar Jakarta.
Salah satu karya yang cukup mencuri perhatian adalah representasi dari bunga-bunga liar yang sering dianggap sebagai gulma. Dalam bidikan Angki, bunga-bunga ini bertransformasi menjadi objek yang cantik. Dengan warna-warni yang indah, ia menampilkan komposisi kembang sepatu berlatar belakang hitam pekat. Melalui teknik ini, Angki berhasil menampilkan tekstur kelopak bunga, gradasi warna yang halus, hingga detail mikroskopis pada benang sari dengan sangat menonjol.
Makna yang ingin disampaikan Angki melalui karya-karya ini adalah tentang kehadiran dan pengakuan. Dengan mengarsipkan bunga-bunga kota ini, ia memberikan panggung bagi sesuatu yang selama ini dianggap tidak terlihat. “Berbunga-bunga” juga menjadi metafora dari kondisi psikologis manusia, yakni sebuah upaya untuk menemukan kegembiraan dan keindahan di tengah rutinitas yang menyesakkan. Tak hanya itu, tanaman-tanaman ini juga menjadi simbol ketangguhan, bahwa mereka tetap berbunga meskipun terpapar polusi dan ruang gerak yang terbatas.
Melalui pameran “Berbunga-bunga”, Angki Purbandono dan SAL Project ingin mengingatkan kita bahwa keindahan tidak selalu harus dicari di tempat yang jauh dan rumit. Keindahan dan nilai positif sebenarnya selalu ada di sekitar kita dan menunggu untuk diakui. Pameran ini juga menjadi sebuah perayaan atas kehidupan, ketahanan, dan seni yang mampu memanusiakan kembali sudut-sudut kota yang kaku.

