Perang Iran Memanas, Harga Emas Malah Mandek

Navaswara.com – Saat perang di Iran memasuki hari ke-18 pada 17 Maret, pasar justru dibuat bingung. Harga emas yang biasanya jadi aset aman saat krisis, tidak menunjukkan lonjakan berarti.

Padahal, sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari, konflik terus meluas dan memicu kekhawatiran terhadap ekonomi global.

Namun, yang terjadi di pasar justru sebaliknya. Harga emas spot tercatat stagnan di kisaran USD5.001,36 per ons. Angka ini nyaris tak berubah meski situasi geopolitik memanas.

Di sisi lain, harga minyak mentah melonjak hingga menembus USD100 per barel setelah penutupan Selat Hormuz. Pasar saham global juga tertekan selama dua pekan terakhir.

Biasanya, kombinasi kondisi seperti ini akan mendorong harga emas naik tajam. Tapi kali ini, tidak.

Kenapa Emas Tak Naik? Kondisi ini dinilai tidak biasa. Dalam banyak krisis sebelumnya, emas hampir selalu jadi pelarian utama investor.

Ekonom James Meadway menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah ekspektasi kebijakan dari bank sentral AS.

Menurutnya, potensi kenaikan inflasi membuat aset berbasis dolar AS menjadi lebih menarik.

“Aset dalam dolar jadi lebih menarik, sementara emas yang tidak memberikan imbal hasil, jadi kurang diminati,” ujarnya.

Selain itu, kenaikan harga emas yang sudah tinggi sejak awal tahun juga membuat pergerakannya mulai terbatas.

Artinya, ruang kenaikan tambahan menjadi semakin sempit.

Pandangan serupa disampaikan ekonom dari Bruegel, Rebecca Christie. Ia menilai kekuatan dolar AS kini menjadi faktor kunci.

Menurut Christie, penguatan dolar membuat investor memiliki alternatif “safe haven” lain selain emas.

“Dolar yang kuat bisa menjadi tempat berlindung yang aman. Ditambah lagi, harga minyak yang tinggi berpotensi mendorong inflasi, yang justru memperkuat daya tarik dolar,” jelasnya.

Faktor ini membuat emas kehilangan sebagian daya tarik tradisionalnya sebagai pelindung nilai.

Persepsi Investor Mulai Berubah

Jika dibandingkan dengan konflik Rusia-Ukraina beberapa tahun lalu, respons pasar kali ini terlihat berbeda.

Saat itu, harga emas sempat melonjak tajam. Kini, reaksi pasar jauh lebih dingin.

Ekonom Remi Bourgeot menilai ada perubahan cara pandang investor terhadap emas. “Saat ini, emas semakin dilihat sebagai aset spekulatif,” katanya.

Kenaikan harga yang sudah tinggi dalam beberapa bulan terakhir juga membuat investor lebih berhati-hati untuk masuk.

Bahkan, institusi besar seperti bank sentral pun disebut mulai terdampak oleh volatilitas pasar saat ini.

Lantas bagaimana prospeknya? Ke depan, arah harga emas masih sulit diprediksi. Semuanya sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah dan kebijakan The Fed.

Christie menilai, level harga emas yang sudah tinggi justru menjadi penghambat utama kenaikan lebih lanjut.

Sementara Meadway menekankan, perubahan signifikan baru akan terjadi jika ada sinyal jelas dari bank sentral AS. Misalnya, pemangkasan suku bunga di tengah tekanan inflasi.

“Saat ini pasar masih percaya konflik ini tidak akan berlangsung lama. Tapi jika perang semakin panjang dan meluas, emas bisa kembali menarik,” pungkasnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *