Navaswara.com – Seiring bertambahnya usia, lupa menaruh barang atau sesekali kesulitan mengingat nama seseorang kerap dianggap sebagai hal biasa. Padahal, penurunan daya ingat yang mengganggu aktivitas sehari-hari perlu mendapat perhatian karena dapat menjadi tanda gangguan neurokognitif.
Merujuk literatur edukasi Kementerian Kesehatan, penurunan daya ingat bukan bagian yang selalu terjadi dalam proses penuaan. Alzheimer menjadi penyebab sekitar 60 hingga 70 persen kasus demensia. Anggapan bahwa gejala awal tersebut semata-mata akibat usia dapat membuat pasien terlambat memperoleh diagnosis dan perawatan.
Memperingati Hari Alzheimer Sedunia pada 21 September 2026, para pakar medis dari IHH Healthcare Singapore membagikan panduan untuk membantu masyarakat mengenali perbedaan antara perubahan kognitif yang wajar dan gejala demensia. Langkah tersebut penting seiring bertambahnya jumlah lansia di Indonesia.
Jumlah Orang Dengan Demensia (ODD) di Indonesia diperkirakan meningkat dari sekitar 1,2 juta jiwa menjadi 2 juta jiwa pada 2030. Angka tersebut diproyeksikan kembali naik hingga sekitar 4 juta jiwa pada 2050, mengikuti perubahan struktur usia penduduk Indonesia.
Mengenali Perbedaan Gejala
Pada tahap awal, Alzheimer dapat terlihat seperti kelupaan yang umum dialami lansia. Perbedaannya dapat terlihat dari tingkat keparahan serta dampaknya terhadap kemampuan seseorang menjalani aktivitas yang sebelumnya sudah dikuasai.
“Terdapat perbedaan klinis yang jelas antara penurunan daya ingat akibat faktor usia dan gejala awal penyakit Alzheimer,” ujar Dr. Zhao Yi Jing, Spesialis Neurologi dari Mount Elizabeth Hospital, Singapura.
Menurut Zhao, lupa menaruh kunci rumah masih dapat terjadi sebagai bagian dari perubahan yang berkaitan dengan usia. Namun, kondisi menjadi berbeda ketika seseorang tidak lagi memahami fungsi benda tersebut, kesulitan menjalankan rutinitas yang sudah familiar, atau tersesat di rute yang selama bertahun-tahun dikenalnya.
Perubahan semacam itu perlu diperhatikan, terutama jika terjadi berulang dan semakin mengganggu kehidupan sehari-hari. Pemeriksaan medis dapat membantu menentukan apakah keluhan berkaitan dengan proses penuaan, kondisi medis lain, atau gangguan neurokognitif.
Menjaga Kesehatan Otak
Upaya menjaga fungsi otak dapat dilakukan sebelum gejala muncul. Sejumlah kebiasaan sehari-hari berkaitan dengan kesehatan kognitif, termasuk pola makan, aktivitas fisik, stimulasi mental, dan kualitas tidur.
Pola makan MIND, yang menggabungkan prinsip diet Mediterania dan DASH, menekankan konsumsi sayuran berdaun hijau, buah beri, kacang-kacangan, serta ikan. Pola tersebut banyak dikaji dalam kaitannya dengan kesehatan otak dan risiko penurunan fungsi kognitif.
Aktivitas fisik juga berperan dalam menjaga kesehatan tubuh dan otak. Orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas fisik intensitas sedang setidaknya 150 menit dalam satu pekan. Aktivitas tersebut dapat disertai kegiatan yang merangsang kemampuan kognitif, seperti mempelajari bahasa baru, bermain musik, membaca, maupun mencoba hobi baru.
Kualitas tidur turut menjadi perhatian. Tidur selama 7 hingga 8 jam setiap malam membantu berbagai proses pemulihan tubuh dan fungsi otak. Gangguan tidur yang berlangsung terus-menerus dapat menjadi salah satu faktor yang perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Pemeriksaan dan Perawatan
Ketika perubahan fungsi kognitif mulai mengganggu aktivitas, pemeriksaan medis dapat membantu mendapatkan gambaran kondisi pasien. Di Mount Elizabeth Hospitals, evaluasi Alzheimer dilakukan melalui penilaian neuropsikologis dan sejumlah pemeriksaan diagnostik.
Pemeriksaan dapat meliputi Magnetic Resonance Imaging (MRI), Positron Emission Tomography (PET), serta analisis cairan serebrospinal. Sejumlah pemeriksaan tersebut digunakan untuk melihat perubahan pada otak serta penanda biologis yang berkaitan dengan Alzheimer, termasuk protein beta-amiloid dan tau.
Sampai saat ini belum tersedia obat yang dapat menyembuhkan Alzheimer secara total. Namun, perawatan dapat membantu mengelola gejala kognitif dan perilaku. Beberapa terapi terbaru juga ditujukan untuk memperlambat perkembangan penyakit pada pasien yang memenuhi kriteria medis tertentu.
Penanganan di IHH Healthcare Singapore melibatkan tim multidisiplin yang dapat terdiri atas dokter spesialis neurologi, terapis okupasi, ahli gizi klinis, serta tenaga medis lain sesuai kebutuhan pasien. Pendekatan tersebut disusun berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Bagi pasien dari Indonesia yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, akses terhadap layanan neurologi dapat menjadi bagian dari langkah awal ketika muncul perubahan daya ingat atau kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Diagnosis lebih dini memberi pasien dan keluarga kesempatan untuk memahami kondisi, menyusun perawatan, serta mempersiapkan kebutuhan jangka panjang.
