Sarung dan Perjalanan Panjangnya dalam Budaya Indonesia

Kain yang Menyatu dengan Keseharian Masyarakat Indonesia

Navaswara.com – Sebelum menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia, sarung memiliki perjalanan panjang yang berkaitan dengan perdagangan dan perjumpaan budaya. Kain ini kemudian berkembang di berbagai daerah, melahirkan corak dan teknik pembuatan yang memperlihatkan kekayaan tradisi tekstil Nusantara.

Para pejabat mengenakan sarung dalam acara kenegaraan. Kiai memakainya ketika mengajar di pesantren, sementara anak-anak mengenakannya saat mengaji atau beribadah. Di rumah, sarung dapat menjadi pakaian santai, kain untuk menggendong bayi, hingga busana yang dikenakan ketika menghadiri acara keluarga.

Kedekatan itu membuat sarung memiliki posisi yang khas dalam kebudayaan Indonesia. Ia tidak melekat pada satu kelompok sosial, daerah, maupun usia tertentu. Dari lingkungan pesantren sampai masyarakat perkotaan, sarung digunakan dengan fungsi dan makna yang beragam.

Sejumlah sumber sejarah menyebut kain sarung telah dikenal di Nusantara sejak berabad-abad lalu melalui hubungan perdagangan dengan wilayah seperti Yaman, Gujarat, dan Semenanjung Arab. Kain sejenis dikenal dengan nama futah di sejumlah wilayah Timur Tengah.

Seiring berkembangnya perdagangan dan pertukaran budaya, penggunaan kain berbentuk sarung meluas di berbagai wilayah Nusantara. Masyarakat kemudian mengembangkan corak, teknik pembuatan, serta fungsi yang mengikuti tradisi masing-masing daerah.

Jejak Sarung dalam Perjalanan Budaya Indonesia

Sarung pun berkembang menjadi bagian dari identitas budaya sejumlah masyarakat. Bentuknya dapat ditemukan dalam berbagai teknik produksi, mulai dari tenun ikat di Nusa Tenggara hingga sarung batik yang berkembang di kawasan pesisir Jawa.

Dalam perjalanan sejarah Indonesia, sarung juga memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat Muslim dan lingkungan pesantren. Pakaian ini menjadi bagian dari keseharian santri, terutama ketika beribadah, belajar, maupun mengikuti kegiatan di lingkungan pesantren.

Hubungan tersebut turut membuat sarung memiliki dimensi sosial dan kultural. Pada masa pergerakan nasional, pakaian menjadi salah satu penanda identitas ketika masyarakat berhadapan dengan pengaruh budaya kolonial.

Salah satu kisah yang kerap diceritakan adalah tentang KH Abdul Wahab Chasbullah. Tokoh Nahdlatul Ulama tersebut disebut tetap mengenakan sarung ketika menghadiri pertemuan di Istana Negara, meski terdapat anjuran untuk mengenakan pakaian formal bergaya Barat.

Kisah itu memperlihatkan posisi sarung sebagai bagian dari identitas yang dipertahankan. Pakaian tidak lagi sekadar persoalan kenyamanan, tetapi dapat menjadi cara seseorang menunjukkan latar budaya dan nilai yang diyakininya.

Fenomena serupa juga ditemukan di sejumlah negara lain. Malaysia dan Brunei mengenal kain pelikat, sementara wilayah Semenanjung Arab memiliki futah. Di Afrika Timur, kain yang memiliki karakter serupa dikenal antara lain sebagai kanga dan kikoy.

Indonesia memiliki perkembangan sarung yang sangat beragam. Setiap daerah mengembangkan karakter visual dan teknik produksi sendiri, sekaligus menempatkannya dalam konteks sosial yang berbeda.

Kehidupan sarung juga berkaitan erat dengan industri tekstil dan para perajinnya. Desa Wedani di Gresik, Jawa Timur, misalnya, dikenal sebagai salah satu sentra produksi sarung. Para penenun menggunakan alat tenun bukan mesin untuk menghasilkan kain yang dipasarkan ke berbagai daerah.

Dari Alat Tenun hingga Panggung Mode

Industri sarung berkembang dalam skala yang beragam. Ada perajin rumahan yang mempertahankan teknik tradisional, ada pula perusahaan tekstil yang memproduksi sarung dalam jumlah besar untuk pasar domestik dan ekspor.

Majalaya di Jawa Barat juga memiliki sejarah panjang dalam industri tekstil. Pada dekade 1960-an, kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu sentra tekstil penting dan mendapat julukan “Kota Dolar”. Produksi sarung tenun menjadi salah satu bagian dari perkembangan industri tekstil di kawasan itu.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa sarung tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat. Di balik selembar kain terdapat rantai produksi yang melibatkan penenun, pengusaha, pedagang, hingga konsumen.

Negara kemudian memberikan ruang yang lebih besar bagi sarung sebagai bagian dari identitas budaya nasional. Presiden Joko Widodo menetapkan 3 Maret sebagai Hari Sarung Nasional pada 2019, bertepatan dengan Festival Sarung Indonesia di Gelora Bung Karno.

Penetapan tersebut ikut memperkuat upaya memperkenalkan sarung kepada generasi muda. Dalam perkembangannya, sarung mulai hadir dalam berbagai bentuk baru, termasuk koleksi busana yang diolah desainer untuk kebutuhan fesyen kontemporer.

Perubahan gaya tidak membuat sarung kehilangan hubungan dengan kehidupan sehari-hari. Kain ini tetap digunakan untuk berbagai kebutuhan, dari beribadah, menghadiri acara keluarga, hingga bersantai di rumah.

Posisi tersebut membuat sarung memiliki daya tahan budaya yang menarik. Ia dapat mengikuti perubahan zaman tanpa harus meninggalkan bentuk dasarnya. Pemakainya pun datang dari berbagai latar sosial.

Sarung akhirnya menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah benda budaya dapat bertahan melalui praktik sehari-hari. Nilainya tidak selalu hadir dalam seremoni besar, tetapi terus terbentuk setiap kali kain itu dipakai, diproduksi, diwariskan, dan dikenalkan kepada generasi berikutnya.

Dalam satu lembar sarung, terdapat sejarah perdagangan, perkembangan industri tekstil, tradisi keagamaan, keterampilan perajin, serta kebiasaan masyarakat yang terus berubah. Karena itu, membicarakan sarung berarti melihat bagian dari perjalanan kebudayaan Indonesia dari jarak yang cukup dekat, melalui benda yang masih digunakan hingga hari ini.