Menelusuri Jejak Waktu dalam Pameran Dawn Ng: Atlantis II

Navaswara.com — Museum MACAN kembali menghadirkan pengalaman seni yang mengajak kita melihat waktu dari cara yang berbeda melalui pameran bertajuk “Dawn Ng: Atlantis II”. Karya perupa asal Singapura ini menjadi bagian dari rangkaian program Museum MACAN yang berlangsung pada 23 Mei hingga 7 Oktober 2026.

Atlantis II merupakan karya berkelanjutan yang mulai dikembangkan Dawn Ng sejak 2024 dengan es sebagai medium utama untuk merekam perubahan, kehilangan, dan jejak waktu.

Alih-alih menggunakan kanvas dan cat, Dawn Ng membiarkan proses alami mengambil peran. Bongkahan pigmen beku diletakkan di atas tumpukan kertas beras Tiongkok yang tipis.

Ketika es perlahan mencair, pigmen ikut larut dan meresap melewati lapisan-lapisan kertas. Aliran tersebut kemudian meninggalkan bentuk dan warna yang tidak sepenuhnya dapat diprediksi, menciptakan jejak visual yang unik pada setiap lembar.

Proses mencair inilah yang menjadi inti dari Atlantis II. Es tidak hanya berfungsi sebagai material, tapi juga menjadi simbol dari sesuatu yang selalu berubah dan pada akhirnya menghilang.

Bagi Dawn Ng, sifat es yang fana membuatnya menjadi medium yang tepat untuk membicarakan perjalanan waktu, dari sebuah kehadiran menuju ketiadaan. Jejak pigmen yang terbentuk kemudian menyerupai gugusan pulau, lanskap, bahkan bayangan permukaan laut.

Dari sinilah judul Atlantis II berasal. Atlantis dikenal sebagai kota legendaris yang dipercaya hilang dan tenggelam, sementara karya Dawn Ng menghadirkan bentuk-bentuk yang seolah muncul, berkembang, kemudian perlahan lenyap. Setiap noda dan aliran warna menjadi jejak dari sebuah proses yang hanya terjadi sekali dan tidak dapat diulang untuk mendapat hasil yang persis sama.

Pameran seni bertajuk “Atlantis II” ini mengajak kita merenungkan bagaimana waktu meninggalkan jejak pada segala sesuatu. Apa yang hadir hari ini dapat berubah pada esok hari, sementara sesuatu yang telah menghilang mungkin hanya menyisakan memori.

Dawn Ng sendiri dikenal melalui praktik seni yang mengeksplorasi waktu, nostalgia, transformasi, dan sifat benda yang fana. Karyanya mencakup instalasi, lukisan, fotografi, film, hingga performans, dengan material yang ditempatkan sebagai bagian aktif dari prosesnya berkarya.

Melalui Atlantis II, ia kembali menunjukkan bahwa seni dapat lahir bukan hanya dari kendali seniman, tetapi juga dari proses alami yang memberi ruang bagi ketidakpastian dan perubahan.