Navaswara.com – Berlangsung mulai 23 Mei hingga 4 Oktober 2026, pameran bertajuk “Kenyalang Circus” karya Marcos Kueh menjadi salah satu perhelatan seni kontemporer yang begitu menarik. Dalam pameran ini, sang seniman menghadirkan kritik tajam terhadap budaya, identitas, dan perubahan sosial di Pulau Borneo.
Digelar di Museum MACAN, “Kenyalang Circus” menampilkan serangkaian karya tekstil yang memadukan teknik tenun digital dengan pendekatan visual kontemporer. Melalui karya-karyanya, Kueh mengajak pengunjung untuk merenungkan bagaimana budaya tradisional direpresentasikan, dipertontonkan, dan bahkan diperdagangkan dalam dunia modern.
Marcos Kueh merupakan seniman asal Sarawak, Malaysia, yang dikenal karena praktik seninya yang banyak mengeksplorasi isu identitas, kolonialisme, dan warisan budaya masyarakat Borneo. Dalam pameran “Kenyalang Circus”, ia mengambil inspirasi dari burung kenyalang, salah satu simbol penting dalam budaya masyarakat Dayak.
Melalui rangkaian karya tekstil berukuran besar, Kueh menyoroti perubahan cara pandang terhadap Borneo. Selama bertahun-tahun, wilayah ini kerap digambarkan sebagai daerah eksotis yang penuh misteri dan keunikan budaya.
Gambaran tersebut kemudian menjadi bagian dari promosi wisata yang menampilkan masyarakat adat, ritual tradisional, serta berbagai simbol budaya sebagai daya tarik bagi pengunjung.
Dalam pandangan sang seniman, fenomena tersebut menghadirkan pertanyaan penting mengenai siapa yang mengendalikan narasi budaya dan bagaimana identitas suatu masyarakat dibentuk oleh pandangan dari luar.
Karya-karya dalam pameran ini memadukan motif tradisional Borneo dengan elemen visual modern yang terinspirasi dari iklan, desain grafis, dan media massa.
Warna-warna cerah yang mencolok berpadu dengan pola khas masyarakat Dayak, menciptakan tampilan yang memikat sekaligus mengandung kritik sosial yang mendalam.
Penggunaan teknologi tenun digital memungkinkan Kueh menghasilkan detail yang kompleks dan kaya simbolisme. Setiap karya seolah menjadi panggung tempat berbagai unsur budaya, ekonomi, sejarah, dan politik bertemu dalam satu ruang visual yang dinamis.
