Dari Ruang Kelas ke Kolam Bioflok, UPNVJ Hadirkan Pembelajaran Nyata Lewat Teknologi Filtrasi Air di SMKN 1 Ciasem

Navaswara.com — Pendidikan vokasi memiliki satu tantangan besar: bagaimana menjembatani teori yang dipelajari di ruang kelas dengan persoalan nyata yang dihadapi di dunia kerja. Di bidang perikanan, salah satu tantangan tersebut adalah menjaga kualitas air agar tetap stabil demi mendukung keberhasilan budidaya ikan.

Berangkat dari kebutuhan itu, Fakultas Teknik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta (UPNVJ) memilih menghadirkan solusi yang tidak hanya menjawab persoalan teknis, tetapi juga menjadi media belajar bagi para siswa. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), UPNVJ memperkenalkan teknologi filtrasi air pada fasilitas Teaching Factory (TEFA) Bioflok milik SMKN 1 Ciasem, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Program yang berlangsung pada 23–24 Juli 2026 tersebut menjadi lebih dari sekadar pemasangan alat. Bagi para guru dan siswa, kegiatan ini merupakan kesempatan untuk memahami bagaimana ilmu teknik dapat diterapkan secara langsung dalam mendukung budidaya perikanan modern.

SMKN 1 Ciasem selama ini telah memanfaatkan kolam bioflok sebagai laboratorium praktik bagi siswa Jurusan Agribisnis Perikanan Air Tawar. Namun, pengelolaan kualitas air masih mengandalkan metode konvensional tanpa sistem filtrasi tambahan maupun pencatatan parameter air secara berkala. Padahal, kualitas air merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam budidaya ikan.

Melihat kondisi tersebut, tim dosen UPNVJ menghadirkan sistem filtrasi side-stream, sebuah metode penyaringan yang mengalirkan sebagian air kolam menuju unit filtrasi sebelum dikembalikan kembali ke kolam. Sistem ini membantu menjaga kualitas air tetap stabil sekaligus menjadi media pembelajaran yang dapat diamati langsung oleh para siswa.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat UPNVJ, Santika Sari, S.T., M.T., menjelaskan bahwa tujuan utama kegiatan bukan hanya memasang teknologi baru, tetapi membangun budaya belajar berbasis praktik.

“Teknologi akan lebih mudah dipahami ketika siswa melihat sendiri bagaimana alat bekerja. Mereka tidak hanya mengetahui konsep filtrasi, tetapi juga belajar melakukan pengamatan, membaca data kualitas air, hingga memahami pentingnya perawatan sistem dalam budidaya ikan,” ujarnya.

Pada hari pertama, tim UPNVJ bersama pihak sekolah memasang seluruh rangkaian sistem filtrasi yang terdiri atas media pasir silika, zeolit, dan arang aktif. Ketiga material tersebut memiliki fungsi berbeda dalam menyaring partikel, mengurangi kandungan zat tertentu, sekaligus membantu menjaga kualitas air kolam.

Proses instalasi dilakukan secara terbuka sehingga guru dan siswa dapat mengenal setiap komponen beserta alur kerja sistem. Setelah seluruh rangkaian selesai dipasang, sistem diuji untuk memastikan sirkulasi air berjalan dengan baik sebelum digunakan dalam kegiatan pembelajaran.

Memasuki hari kedua, suasana berubah menjadi ruang belajar terbuka. Sebanyak 20 peserta, terdiri atas 12 siswa Jurusan Agribisnis Perikanan Air Tawar dan delapan guru, mengikuti sesi edukasi yang dikemas secara interaktif.

Sebelum materi dimulai, peserta mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal mengenai kualitas air dan sistem filtrasi. Setelah itu, mereka mendapatkan penjelasan mengenai prinsip kerja filtrasi side-stream, fungsi setiap media penyaring, cara pengoperasian alat, hingga prosedur pemeliharaan secara berkala.

Namun, pembelajaran tidak berhenti di ruang presentasi. Para siswa kemudian diajak langsung menuju kolam bioflok untuk menyaksikan bagaimana air dipompa menuju unit filtrasi, melewati media penyaring, lalu kembali lagi ke kolam.

Di titik inilah pembelajaran menjadi lebih bermakna. Para siswa belajar melakukan pengukuran kualitas air pada bagian inlet dan outlet, kemudian membandingkan hasilnya sebagai indikator efektivitas proses filtrasi.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa angka-angka hasil pengukuran bukan sekadar data, melainkan informasi penting yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan dalam pengelolaan budidaya ikan.

Kepala SMKN 1 Ciasem, Rosiah Purwanti, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, teknologi yang diperkenalkan UPNVJ akan memberikan manfaat jangka panjang bagi sekolah.

“Alhamdulillah, dosen-dosen UPNVJ telah memberikan penjelasan yang sangat bermanfaat mengenai filtrasi air. Ini akan menjadi bekal penting bagi pengembangan bioflok kami ke depan,” katanya.

Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim UPNVJ juga menyerahkan modul operasional yang memuat panduan lengkap mulai dari instalasi, pengoperasian, pemantauan kualitas air, hingga perawatan berkala sistem filtrasi. Dengan demikian, proses pembelajaran dapat terus berlangsung meski program pengabdian telah selesai.

Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah vokasi seperti ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu diwujudkan dalam bentuk bantuan fisik semata. Lebih dari itu, yang dibangun adalah transfer pengetahuan, peningkatan kompetensi, serta kepercayaan diri siswa untuk memahami bahwa teknologi dapat menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang mereka hadapi.

Melalui langkah sederhana di sebuah kolam bioflok di Subang, UPNVJ memperlihatkan bagaimana kampus dapat hadir sebagai mitra sekolah dalam menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual, relevan, dan berdampak. Sebab pendidikan terbaik bukan hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga menumbuhkan cara berpikir ilmiah untuk memecahkan persoalan nyata di tengah masyarakat.