Navaswara.com — Nama Nasirun telah lama menjadi salah satu pilar penting dalam dunia seni rupa Indonesia. Maestro kelahiran Cilacap ini dikenal sebagai pelukis dengan gaya yang sangat khas. Ia memadukan unsur budaya Jawa, wayang, kaligrafi, hingga kritik sosial ke dalam kanvas.
Setiap lukisannya seolah menjadi ruang dialog antara masa lalu dan masa kini. Ia menghadirkan imajinasi yang kaya dengan sapuan warna-warna berani serta detail yang luar biasa. Kepergian Nasirun meninggalkan duka bagi dunia seni Indonesia.
Menariknya, perjalanan Nasirun sebagai seniman tidak lahir dari keluarga yang berkecimpung di dunia seni. Ketertarikannya terhadap wayang sejak kecil justru menjadi pintu masuk bagi lahirnya karakter visual yang kemudian melekat pada setiap karyanya.
Wayang, ornamen tradisional, bentuk-bentuk imajinatif, serta berbagai simbol kehidupan masyarakat Jawa berpadu menjadi bahasa visual yang mudah dikenali. Nasirun pun mampu menghadirkan tafsir baru yang relevan dengan kehidupan modern.
Salah satu karya yang mencerminkan kekuatan artistik Nasirun adalah lukisan “Carangan”. Kata carangan dalam dunia pewayangan merujuk pada cerita baru yang berkembang dari pakem yang telah ada.
Konsep inilah yang diterjemahkan Nasirun ke dalam karya visualnya. Alih-alih sekadar menampilkan tokoh wayang, ia menciptakan komposisi yang dipenuhi berbagai figur, simbol, ornamen, serta elemen dekoratif yang saling terhubung.
Kita diajak menjelajahi setiap sudut kanvas karena hampir tidak ada ruang kosong. Semakin lama diamati, semakin banyak detail yang ditemukan, mulai dari bentuk makhluk imajiner, motif tradisional, hingga simbol-simbol yang mengundang berbagai penafsiran.
Melalui “Carangan”, Nasirun seolah mengajak penikmat seni memahami bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang kaku. Tradisi dapat berkembang, ditafsirkan ulang, dan diperkaya tanpa kehilangan identitasnya. Pendekatan ini membuat karya-karyanya memiliki daya tarik yang kuat, baik bagi penikmat seni di Indonesia maupun mancanegara.

