Anak Makin Sering Menonton AI Slop, Kenali Dampaknya Sebelum Terlambat

Pakar Ingatkan Dampaknya bagi Perkembangan Otak

Navaswara.com — Ponsel sering menjadi “pengasuh” dadakan ketika orang tua sedang bekerja atau menyelesaikan aktivitas rumah. Anak pun menghabiskan waktu berjam-jam menonton video pendek di TikTok, YouTube Shorts, maupun platform serupa. Masalahnya, sebagian besar tayangan yang mereka lihat kini ternyata bukan dibuat oleh manusia.

Riset terbaru dari Kapwing menemukan sekitar 59 persen video yang muncul di akun TikTok baru maupun akun anak-anak merupakan AI slop, yaitu video hasil kecerdasan buatan yang diproduksi massal dengan kualitas rendah dan minim nilai edukasi. Kategori konten anak bahkan mencatat angka tertinggi, yakni 57,4 persen. Sementara itu, sekitar 21 persen video Shorts yang direkomendasikan YouTube kepada pengguna baru juga mengandung AI slop.

Sekilas tayangan tersebut terlihat menarik. Warnanya mencolok, musiknya mudah diingat, dan karakter yang digunakan sering kali berasal dari tokoh animasi populer. Namun, pakar perkembangan anak mulai mengingatkan bahwa paparan konten semacam ini dapat memengaruhi proses belajar, konsentrasi, hingga cara anak memahami dunia.

Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian video menggunakan karakter favorit anak dalam adegan yang mengandung kekerasan, unsur seksual, maupun situasi yang tidak pantas. Tayangan seperti ini kerap lolos dari pengawasan karena durasinya sangat singkat dan terus berganti.

Dampak AI Slop bagi Perkembangan Anak

1. Terlalu banyak stimulasi visual

Video AI umumnya dibuat agar penonton terus bertahan. Warna dibuat sangat terang, perpindahan gambar berlangsung sangat cepat, disertai efek suara yang terus memancing perhatian.

Paparan semacam ini dalam waktu lama dapat membuat anak terbiasa dengan stimulasi yang sangat tinggi. Akibatnya, mereka lebih mudah kehilangan fokus saat membaca buku, belajar di kelas, atau melakukan permainan yang membutuhkan konsentrasi lebih lama.

2. Mengganggu kemampuan berpikir logis

Banyak video AI tidak memiliki alur yang masuk akal. Karakter bisa berubah bentuk tiba-tiba, benda melebur menjadi objek lain, atau cerita meloncat tanpa hubungan yang jelas.

Bagi anak yang masih membangun kemampuan memahami sebab dan akibat, paparan berulang terhadap tayangan seperti ini berpotensi membingungkan proses mereka dalam mengenali pola serta memahami hubungan antarperistiwa.

3. Konten mengganggu yang sulit diprediksi

Beberapa video sengaja menggunakan karakter kartun populer pada beberapa detik pertama agar menarik perhatian anak. Setelah itu, isi videonya dapat berubah menjadi adegan menyeramkan, mengandung kekerasan, atau situasi yang tidak sesuai usia.

Karena video berlangsung sangat singkat dan berganti tanpa jeda, orang tua sering tidak sempat menyadari perubahan tersebut sebelum anak melihat seluruh tayangan.

4. Informasi keliru yang mudah dipercaya

Tidak sedikit AI slop dikemas seperti video edukasi. Isinya bisa berupa nama hewan yang salah, pelafalan huruf yang keliru, atau informasi sains yang tidak akurat.

Pada usia dini, anak menyerap informasi baru dengan sangat cepat. Jika kesalahan terus diulang melalui video yang tampak meyakinkan, orang tua maupun guru memerlukan waktu lebih lama untuk meluruskan pemahaman tersebut.

 

Cara Mengurangi Paparan AI Slop

Orang tua tidak harus melarang anak menggunakan gawai sepenuhnya. Yang lebih penting adalah mengatur cara mereka mengakses konten.

Aktifkan mode persetujuan orang tua. Jika menggunakan YouTube Kids, pilih pengaturan Hanya Konten yang Disetujui. Fitur ini menonaktifkan penelusuran dan hanya menampilkan saluran yang dipilih langsung oleh orang tua.

Matikan fitur putar otomatis. Setelah satu video selesai, algoritma tidak akan langsung menyajikan video lain yang belum tentu sesuai usia anak. Hindari pula memberikan akses bebas ke Shorts atau fitur video bergulir tanpa henti.

Bersihkan rekomendasi secara berkala. Algoritma belajar dari riwayat tontonan. Jika anak sempat membuka video AI yang aneh, sistem dapat menganggapnya sebagai minat baru lalu merekomendasikan lebih banyak konten serupa. Hapus riwayat tontonan yang mencurigakan dan gunakan fitur Jangan Rekomendasikan Saluran Ini pada akun yang menyebarkan video semacam itu.

Gunakan aplikasi kontrol keluarga. Aplikasi seperti Family Link membantu orang tua membatasi durasi penggunaan gawai, mengatur aplikasi yang boleh dibuka, sekaligus memantau aktivitas digital anak. Semakin lama anak berada di depan layar tanpa pengawasan, semakin besar peluang mereka menemukan konten yang tidak terkurasi.

Perkembangan teknologi AI memang membuka banyak peluang, termasuk dalam pembuatan konten. Namun ketika algoritma lebih mengutamakan jumlah tayangan daripada kualitas, peran orang tua menjadi semakin penting. Pendampingan saat anak menggunakan gawai, pemilihan konten yang sesuai usia, serta pembatasan waktu layar tetap menjadi langkah paling efektif untuk menjaga pengalaman digital mereka tetap aman.