Kenapa Satu Lagu Bisa Membawa Kita Menemukan Musisi Baru?

Navaswara.com — Di tengah jutaan lagu yang bisa didengarkan hanya dengan beberapa klik di aplikasi pemutar musik, menemukan musik yang terasa “pas” justru menjadi tantangan tersendiri. Rekomendasi algoritma memang membantu, tetapi selera musik tidak selalu bisa diterjemahkan menjadi angka. Ada konteks budaya, cerita, intuisi, hingga pengalaman personal yang ikut menentukan mengapa sebuah lagu akhirnya terasa dekat dengan pendengarnya.

Persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam sebuah sesi yang mempertemukan pelaku industri musik dari berbagai sisi, mulai dari platform streaming, festival, hingga media musik. Dimas Ario, Editorial Lead Spotify Indonesia, bertindak sebagai moderator dengan menghadirkan Boon Ken Wong, Head of Editorial Spotify Southeast Asia, Ferry Dermawan, Program Director Plainsong Live dan Joyland, serta Mentari Novel, singer-songwriter sekaligus Founder & Director Iramanesia dan Inisiator Bimbingan Skena.

Diskusi tersebut membahas bagaimana kurasi musik terus beradaptasi ketika pilihan pendengar semakin luas. Bagi Spotify, proses menemukan musik tidak berhenti pada rekomendasi berbasis data. Tim Music Editors turut membaca tren, memahami konteks lokal, serta mempertimbangkan budaya dan perkembangan skena musik untuk membantu pendengar menemukan lagu maupun artis yang sesuai dengan selera dan momen mereka.

“Selalu menakjubkan melihat pendengar melihat playlist atau rekomendasi yang kami berikan di Spotify dan berpikir, ‘Wah, kok bisa pas banget rasanya’. Di sinilah momen di mana teknologi memungkinkan personalisasi dalam skala besar, tapi intuisi, selera, dan pemahaman terhadap konteks kultural hanya bisa didapatkan dari kurasi manusia. Ketika teknologi dan sentuhan manusia berjalan bersama, pengalaman music discovery jadi jauh lebih bermakna. That’s where the magic happens,” ujar Boon Ken Wong.

Peran manusia dalam kurasi juga terlihat dalam cara sebuah musik ditempatkan ke dalam cerita. Melalui Editorial Watch Feed, editor Spotify di berbagai negara memberikan konteks mengenai musik yang sedang didengarkan, termasuk perjalanan artis maupun alasan sebuah karya ditempatkan dalam kemasan editorial tertentu.

Storytelling membuat proses discovery terasa lebih dekat karena pendengar tidak sekadar mendapatkan jawaban mengenai apa yang sedang didengarkan, tetapi juga memahami cerita di balik musik tersebut. Sebuah lagu maupun artis kemudian dapat terhubung dengan konteks budaya yang lebih luas.

Gagasan serupa hadir dalam pengalaman festival. Bagi Ferry Dermawan, kurasi lineup Joyland menjadi proses mencari keseimbangan antara nama-nama yang sudah dikenal dan musisi baru yang berpotensi menarik perhatian audiens.

“Banyak orang datang ke festival untuk melihat headliners, tapi festival juga bisa jadi ruang untuk menemukan musisi baru. Dalam menentukan line-up, kami juga mengandalkan gut feeling: melihat potensi dari emerging artists maupun musisi yang lebih niche. Di situlah kurasi manusia berperan, membuka ruang untuk menemukan sesuatu yang tidak ditangkap oleh data,” kata Ferry.

Pertemuan dengan musik pun dapat berlangsung melalui berbagai pintu. Pendengar bisa menemukan artis lewat layanan streaming, media digital, maupun pengalaman langsung seperti konser dan festival. Satu titik penemuan kemudian dapat berkembang menjadi ketertarikan yang membuat pendengar mengikuti perjalanan seorang musisi lebih jauh.

Media musik turut punya peran dalam perjalanan tersebut. Mentari Novel melihat cerita di balik industri musik sebagai bagian penting yang perlu diperkenalkan kepada pendengar. Menurutnya, karya musik tidak berdiri sendiri karena terdapat banyak orang, proses, dan pengalaman yang ikut membentuk sebuah lagu maupun penampilan.

“Musik bukan hanya tentang lagu, musisi, atau performance-nya saja. Ada banyak cerita di balik industri musik yang juga menarik untuk diangkat. Dengan mengetahui perspektif dan cerita dari orang-orang di balik layar, pendengar bisa lebih memahami dan menghargai proses di balik sebuah karya dan penampilan. Hal ini juga bisa membuat pendengar merasa lebih dekat dengan musisi dan semakin menghargai karya yang mereka hadirkan,” ujar Mentari.

Pengalaman discovery juga terus berkembang lewat fitur yang membawa pendengar lebih dekat dengan proses kreatif sebuah lagu. Salah satunya Song DNA yang memberikan informasi mengenai para kreator dan orang-orang yang terlibat dalam penciptaan musik. Informasi tersebut memberi lapisan cerita baru bagi pendengar yang ingin mengetahui bagaimana sebuah karya terbentuk.

Pilihan musik yang bisa ditemukan pendengar pun datang dari banyak arah. Sebuah lagu bisa muncul lewat playlist Spotify, rekomendasi teman, konten media, sampai penampilan seorang musisi di festival. Dari sana, rasa penasaran bisa berlanjut dengan mencari lagu lain, mengenal artisnya, atau bahkan datang langsung ke pertunjukannya.

Bagi para pelaku industri musik yang hadir dalam diskusi tersebut, teknologi dan kurasi manusia punya peran masing-masing dalam perjalanan itu. Algoritma membantu pendengar menyaring begitu banyak pilihan, sementara editor, kurator, media, dan pelaku festival ikut memberi konteks yang membuat sebuah musik terasa lebih dekat.