Navaswara.com – Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menghadirkan perubahan besar dalam kehidupan manusia. Cara belajar berubah, dunia kerja bertransformasi, bahkan jenis-jenis profesi baru terus bermunculan. Di tengah perubahan tersebut, pesantren dinilai memiliki tantangan sekaligus peluang untuk tetap menjadi pusat pembentukan karakter bangsa.
Pandangan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno saat berdialog bersama Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU dan Satuan Tugas Penanggulangan Kekerasan (SAKA) Pesantren PBNU di Yogyakarta, Jumat (17/7/2026).
Menurut Pratikno, transformasi pesantren bukan berarti meninggalkan tradisi yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Sebaliknya, perubahan harus dilakukan agar pesantren tetap mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual, moral, dan budaya yang menjadi kekuatannya.
“Transformasi harus dilakukan secara besar-besaran dengan tetap memperkokoh identitas kultural dan spiritual pesantren,” ujarnya.
Bagi Menko PMK, era digital menghadirkan dua wajah sekaligus. Di satu sisi, teknologi membuka peluang lahirnya berbagai profesi baru yang membutuhkan kompetensi berbeda. Namun di sisi lain, otomatisasi dan kecerdasan buatan juga mulai menggantikan sejumlah pekerjaan yang selama ini dilakukan manusia.
Karena itu, lembaga pendidikan, termasuk pesantren, tidak cukup hanya mengajarkan ilmu agama. Pesantren juga perlu membekali para santri dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang berlangsung sangat cepat.
Menurutnya, justru nilai-nilai yang diajarkan pesantren seperti kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kepedulian sosial, hingga etika menjadi modal penting ketika teknologi berkembang semakin canggih. Kecerdasan buatan mampu membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi tidak dapat menggantikan karakter, akhlak, dan kebijaksanaan yang dibentuk melalui pendidikan.
Dalam kesempatan tersebut, Pratikno juga mengingatkan bahwa perubahan tidak boleh membuat lingkungan pendidikan kehilangan rasa aman bagi anak. Kemajuan teknologi harus berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap peserta didik, baik di ruang nyata maupun ruang digital.
Ia mengajak seluruh pengelola pesantren membangun budaya yang menghargai setiap anak, menghindari segala bentuk kekerasan, serta menciptakan lingkungan belajar yang sehat agar para santri dapat berkembang secara optimal.
Menko PMK menilai, pesantren memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk menjawab tantangan tersebut. Tradisi kebersamaan, hubungan erat antara kiai, ustaz, dan santri, serta pendidikan karakter yang telah lama menjadi ciri khas pesantren merupakan fondasi penting dalam menghadapi perubahan zaman.
Pratikno juga memberikan apresiasi kepada RMI PBNU dan SAKA Pesantren PBNU yang terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Menurutnya, apabila pesantren mampu menggabungkan kekuatan tradisi dengan inovasi, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam akan semakin meningkat. Pesantren bukan hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang lahirnya generasi yang berkarakter, berdaya saing, dan siap menghadapi masa depan.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, pesan Menko PMK menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada penguasaan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan teknologi tetap berpihak pada kemanusiaan, sementara lembaga pendidikan terus menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai yang membentuk karakter bangsa.

