Mengenal Fenomena Sharenting, Ketika Unggahan Orang Tua Bisa Berdampak Jangka Panjang

Navaswara.com – Di era digital, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Termasuk bagi para orang tua yang gemar membagikan momen tumbuh kembang anak.

Kebiasaan ini dikenal dengan istilah sharenting, yakni gabungan dari kata share (berbagi) dan parenting (pola asuh). Bagi banyak orang, tujuan melakukan sharenting sebenarnya sederhana, yaitu mendokumentasikan perjalanan tumbuh kembang anak.

Namun, di balik niat baik tersebut terdapat berbagai risiko yang sering kali luput dari perhatian.

Bahaya yang Mengintai di Dunia Digital

Setiap konten yang diunggah ke internet berpotensi menjadi jejak digital yang sulit dihapus. Foto atau video anak yang terlihat tidak berbahaya ternyata bisa disimpan, disebarluaskan, bahkan digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab tanpa sepengetahuan kita.

Semakin banyak informasi pribadi yang dibagikan, semakin besar pula peluang penyalahgunaan data anak di masa depan.

Risiko lainnya adalah pencurian identitas. Informasi seperti nama lengkap, tanggal lahir, lokasi rumah, sekolah, hingga kebiasaan sehari-hari dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital.

Menghormati Hak Privasi Anak

Selain persoalan keamanan, sharenting juga berkaitan dengan hak privasi anak. Anak merupakan individu yang memiliki hak atas identitas dan kehidupan pribadinya.

UNICEF menekankan bahwa melibatkan anak dalam keputusan untuk mengunggah kontennya merupakan kesempatan penting untuk mengajarkan konsep persetujuan sejak dini.

Dengan begitu, anak belajar bahwa setiap orang berhak menentukan informasi pribadi apa yang boleh dibagikan kepada orang lain.

Tidak sedikit pula anak yang ketika beranjak remaja merasa malu karena foto-foto masa kecilnya masih beredar di internet.

Bijak Berbagi di Media Sosial

Sharenting bukan berarti harus berhenti total mengunggah foto anak. Poin terpenting adalah melakukannya secara bijak.

Kita bisa membatasi siapa saja yang dapat melihat unggahan tersebut dengan mengatur privasi akun, menghindari membagikan lokasi secara langsung, dan tidak memperlihatkan identitas sekolah atau informasi pribadi lainnya.

Selain itu, ada baiknya menghindari mengunggah foto yang dapat mempermalukan anak di kemudian hari.

Pada akhirnya, media sosial memang menjadi tempat untuk berbagi cerita. Dengan memahami risiko sharenting dan menerapkan kebiasaan berbagi yang lebih bijaksana, kita bisa tetap mengabadikan momen berharga tanpa mengorbankan hak privasi serta keselamatan anak di dunia digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *