Banyak Orang Masih Keliru, 7 Fakta tentang Tanggal Kedaluwarsa Makanan yang Perlu Diketahui

Navaswara.com — Tanggal yang tertera pada kemasan makanan kerap menjadi acuan terakhir sebelum seseorang memutuskan, apakah produk tersebut masih layak disantap atau sebaiknya dibuang. Sayangnya, tidak semua informasi tanggal memiliki arti yang sama. Masih banyak yang menganggap best before dan tanggal kedaluwarsa sebagai hal yang identik, sehingga makanan yang sebenarnya masih aman dikonsumsi justru berakhir di tempat sampah. Di sisi lain, tidak sedikit pula yang mengabaikan tanggal kedaluwarsa dan tetap mengonsumsi produk yang seharusnya sudah tidak lagi aman.

Memahami arti setiap label pada kemasan dapat membantu kita mengambil keputusan yang lebih tepat sekaligus mengurangi pemborosan pangan. Berikut hal yang patut diketahui sebelum memutuskan menyimpan atau membuang makanan.

1. Dua Jenis Label yang Sering Tertukar

Banyak orang masih menganggap semua label tanggal pada kemasan memiliki arti yang sama. Padahal, best before dan expired date mengacu pada hal yang berbeda. Best before berkaitan dengan mutu produk. Setelah melewati tanggal tersebut, rasa, aroma, atau teksturnya mungkin sudah tidak sebaik sebelumnya, tetapi produk belum tentu berbahaya untuk dikonsumsi. Sementara itu, expired date atau tanggal kedaluwarsa menandai batas keamanan pangan. Memahami perbedaan keduanya penting agar makanan yang masih layak tidak terbuang percuma, sekaligus menghindari konsumsi produk yang memang sudah tidak aman.

2. Di Indonesia, Ada Aturan Resminya

Penetapan tanggal kedaluwarsa di Indonesia tidak dilakukan sembarangan. Berdasarkan Peraturan BPOM No. 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, kedaluwarsa adalah batas akhir suatu pangan dijamin mutunya sepanjang penyimpanannya sesuai petunjuk produsen. Artinya, kondisi penyimpanan ikut memengaruhi validitas tanggal tersebut — produk yang disimpan di tempat lembap atau terkena paparan sinar matahari langsung bisa menurun kualitasnya lebih cepat dari yang tertera.

3. Negara Lain Punya Aturan yang Berbeda

Regulasi soal tanggal kedaluwarsa ternyata tidak seragam di seluruh dunia. Uni Eropa mewajibkan produsen memilih antara use by atau best before berdasarkan analisis ilmiah dan sifat mudah rusaknya produk bukan keputusan bebas. Di Inggris, menjual produk setelah tanggal use by bahkan berstatus ilegal. Sementara Amerika Serikat justru tidak ada regulasi federal yang mewajibkan pencantuman tanggal pada sebagian besar produk makanan, kecuali susu formula bayi. Jepang memiliki standar budaya yang paling ketat, toko-toko biasanya menarik produk dari rak bahkan sebelum tanggalnya tiba namun berkontribusi pada tingkat pemborosan pangan yang sangat tinggi.

4. Jenis Produk Menentukan Seberapa Serius Risikonya

Tidak semua produk yang melewati tanggal kedaluwarsa membawa risiko yang sama. Makanan kering seperti keripik, biskuit, atau mi instan memiliki kadar air yang sangat rendah sehingga bakteri patogen sulit berkembang di sana. Risiko utama pada produk semacam ini adalah minyaknya yang sudah tengik, terasa pahit atau “aneh” di lidah. Berbeda halnya dengan produk susu, daging segar, atau makanan basah siap saji, di mana bakteri berbahaya bisa berkembang jauh melewati batas aman bahkan ketika produk masih tampak dan tercium normal.

Dari sisi psikologi konsumen, banyak orang juga menganggap tanggal pada kemasan sebagai batas yang sangat tegas. Akibatnya, ketika melihat produk lewat satu hari saja, muncul rasa jijik atau takut keracunan, meskipun secara ilmiah risikonya tidak selalu berubah drastis tepat pada pukul 00.00 setelah tanggal tersebut. Kerusakan makanan adalah proses bertahap, bukan peristiwa yang terjadi dalam sekejap.

5. Produk Herbal Punya Profil Risiko Tersendiri

Suplemen herbal seperti minuman jahe atau produk berbasis rempah memiliki karakteristik berbeda lagi. Kandungan alami seperti jahe, kayu manis, dan madu secara inheren bersifat antimikroba, sehingga risiko kontaminasi bakteri sangat kecil. Produk yang sudah melewati tanggal kedaluwarsa beberapa minggu kemungkinan besar hanya mengalami penurunan efektivitas, bukan menjadi berbahaya — terutama jika kemasan masih utuh dan tidak ada perubahan warna, bau, atau tekstur yang mencolok.

6. Kenali Gejala yang Perlu Diwaspadai

Jika tidak sengaja mengonsumsi produk yang sudah kedaluwarsa, yang perlu dipantau adalah gejala dalam rentang 1 hingga 48 jam setelahnya, seperti mual, kram perut, diare, atau muntah. Jika tidak ada gejala apapun dalam 24 jam, kemungkinan besar tidak ada masalah serius. Namun perlu segera mencari pertolongan medis jika muncul demam tinggi, diare berdarah, muntah yang tidak berhenti, atau tanda-tanda dehidrasi seperti pusing hebat dan tidak bisa buang air kecil, ini bisa mengindikasikan infeksi bakteri serius yang memerlukan penanganan medis.

7. Indera Sendiri Adalah Alat Penilaian Pertama

Di balik semua regulasi dan angka yang tertera di kemasan, ada satu prinsip sederhana yang berlaku hampir universal, yakni gunakan indera. Perhatikan warna, cium aromanya, perhatikan teksturnya. Produk yang masih baik secara visual dan sensoris,  meski sudah melewati best before biasanya masih aman. Sebaliknya, produk yang sudah berubah warna, berbau tengik, atau kemasannya rusak sebaiknya tidak dikonsumsi meski tanggalnya belum lewat. Tanggal di kemasan adalah panduan, bukan satu-satunya penjaga keamanan konsumsi.

Tanggal yang tercetak pada kemasan adalah panduan penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang perlu dijadikan acuan. Cara penyimpanan, kondisi kemasan, dan karakter setiap jenis pangan ikut menentukan apakah sebuah produk masih layak dikonsumsi. Dengan memahami arti setiap label, kita dapat menjaga keamanan pangan sekaligus mengurangi kebiasaan membuang makanan yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *