Navaswara.com – Jika bicara tentang cerita rakyat asal Jawa Barat, ada sejumlah kisah yang langsung terlintas, yakni Lutung Kasarung, Sangkuriang, dan Situ Bagendit. Namun, ternyata ada sebuah legenda yang tak kalah menarik untuk diketahui, yakni asal usul nama girilawungan.
Di kisahkan, di wilayah yang kini termasuk Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, berdiri sebuah kerajaan bernama Kerajaan Giri. Kerajaan itu dipimpin oleh Raja Giri Layang, seorang pemimpin yang dikenal arif dan bijaksana.
Dalam menjalankan pemerintahan, ia dibantu oleh adiknya yang bernama Putri Giri Larang dan seorang patih setia bernama Endang Capang. Di bawah kepemimpinan mereka, kerajaan hidup makmur dengan pertanian berkembang pesat, hasil panen melimpah, dan rakyat yang hidup tenteram.
Suatu hari, Putri Giri Larang menghadap kakaknya. Ia mengungkapkan keinginannya untuk merantau demi menambah ilmu dan kesaktian. Meskipun berat hati melepas satu-satunya saudara yang sangat disayanginya, Raja Giri Layang pun akhirnya memberikan izin.
Namun, sang raja berpesan agar adiknya tidak melampaui batas wilayah kerajaan ke arah timur, karena hal itu dapat membuat kesaktiannya lenyap. Putri Giri Larang pun berangkat seorang diri menempuh perjalanan panjang melewati gunung, hutan, lembah, dan berbagai medan yang sulit.
Setelah berbulan-bulan mengembara, Putri Giri Larang tiba di sebuah telaga indah yang berada di tengah hutan belantara. Saat beristirahat di tempat tersebut, ia bertemu dengan seorang patih dari Kerajaan Majapahit.
Sang patih terpikat oleh kecantikannya dan berniat membawa putri tersebut ke Majapahit agar menjadi permaisuri rajanya. Dengan licik, ia mengambil selendang Putri Giri Larang dan berlari menuju Majapahit.
Putri Giri Larang yang marah pun segera mengejarnya. Tanpa disadari, pengejaran itu membuatnya melewati batas wilayah yang telah dilarang oleh kakaknya. Akibatnya, kesaktiannya hilang dan tubuhnya menjadi lemah.
Melihat hal tersebut, Putri Giri Larang pun dibawa ke Majapahit dan menikah dengan rajanya. Namun, kehidupan rumah tangganya tidak berlangsung bahagia.
Sang raja melanggar janji yang telah disepakati bersama sehingga membuat Putri Giri Larang kecewa. Ia kemudian memutuskan kembali ke Kerajaan Giri dalam keadaan mengandung.
Melihat adiknya kembali, Raja Giri Layang menerima kepulangan adiknya dengan penuh kasih sayang. Setelah beberapa waktu, Putri Gili Larang lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Adipati Jatiserang.
Kekhawatiran muncul ketika Putri Giri Larang membayangkan Majapahit akan datang untuk mengambil anaknya. Mengetahui hal tersebut, Raja Giri Layang pun menyusun rencana.
Ia meminta beberapa pengawal untuk membuat lubang-lubang besar di bawah tanah sebagai tempat persembunyian keluarga kerajaan.
Tidak lama kemudian, pasukan Majapahit ternyata benar-benar datang untuk menjemput Putri Giri Larang dan putranya. Namun, mereka tidak berhasil menemukan keberadaan keluarga kerajaan karena semuanya telah bersembunyi.
Pasukan Majapahit yang dipimpin oleh para patih mencoba mencari dan menggali tempat persembunyian tersebut. Akan tetapi, setiap usaha mereka selalu gagal.
Merasa malu jika harus pulang tanpa membawa hasil, mereka memutuskan untuk tetap tinggal di lokasi itu. Mereka duduk saling berhadap-hadapan sambil menunggu Putri Giri Larang. Dalam bahasa Sunda, tindakan duduk saling berhadapan seperti itu disebut “ngalawung”.
Peristiwa ngalawung yang dilakukan pasukan Majapahit itu kemudian menjadi kenangan yang melekat di daerah tersebut. Masyarakat akhirnya menamai wilayah kerajaan itu dengan sebutan Girilawungan.
Nama tersebut berasal dari kata “giri” yang merujuk pada Kerajaan Giri dan “lawungan” yang berasal dari kata ngalawung, yaitu berhadap-hadapan.
Seiring berjalannya waktu, nama Girilawungan terus dikenal dan diwariskan dari generasi ke generasi sebagai pengingat akan kisah Putri Giri Larang, Raja Giri Layang, serta pasukan Majapahit yang menunggu dengan duduk saling berhadapan di tanah Pasundan.
