Navaswara.com – Melalui lukisan, instalasi, hingga karya-karya berbasis suara, Uji Hahan Handoko Eko Saputro menghadirkan pameran tunggal bertajuk “Days That Slip Away Untouched”. Pameran yang berlangsung pada tanggal 2 hingga 31 Mei 2026 di Gajah Gallery Jakarta ini menyoroti hubungan manusia dengan dunia digital yang semakin mendominasi kehidupan sehari-hari.
Melalui pameran ini, Hahan mencoba mengajak kita merenungkan bagaimana kehidupan saat ini perlahan dibentuk oleh layar, algoritma, dan arus informasi yang bergerak begitu cepat. Secara visual, karya-karya Hahan tampil mencolok dengan warna-warna cerah dan kontras yang tajam.
Ia memadukan unsur budaya populer, komik, hingga seni klasik ke dalam satu ruang yang sama. Dari segi penggunaan warna, sang seniman banyak memakai rona terang seperti merah, biru elektrik, kuning, dan hijau neon yang menciptakan kesan dinamis, namun menyimpan kritik terhadap kehidupan digital yang serba instan.
Salah satu karya yang menarik perhatian dalam pameran ini adalah “Post-Modern Chimpanzee: The Thumbs Revolution”. Karya ini menampilkan sosok simpanse dengan nuansa futuristik dan penuh elemen visual yang menyerupai simbol media sosial maupun budaya internet.
Warna-warna metalik dan garis-garis tegas memperlihatkan kesan modern sekaligus agresif. Seluruh objek yang ada di dalam kanvas menggambarkan bagaimana manusia masa kini lebih banyak berinteraksi lewat layar ponsel dibandingkan komunikasi secara langsung. Lewat karya ini, Hahan seolah ingin menunjukkan bahwa perkembangan teknologi memang mempermudah hidup, namun juga membuat manusia perlahan kehilangan hubungan dengan dunia di sekitarnya.
Karya lain yang tak kalah unik adalah “The Jungle of Knowledge Hidden Within the Shiny Algorithm”. Dari tampilannya, lukisan ini dipenuhi detail visual yang kompleks seperti hutan imajiner bercampur elemen digital.
Sang seniman menggunakan warna hijau tua, biru, dan kilauan warna terang untuk menciptakan suasana misterius. Hutan dalam karya tersebut melambangkan pengetahuan yang luas dan alami, sedangkan “Shiny Algorithm” menjadi simbol dunia digital yang kini mengontrol cara manusia menerima informasi.
