Navaswara.com – Nyeri dada mendadak kerap memicu kepanikan luar biasa karena keluhan ini bisa menjadi pertanda dari dua kondisi medis yang terasa serupa namun memiliki tingkat bahaya yang jauh berbeda. Banyak orang terjebak dalam kebingungan membedakan antara serangan jantung yang mengancam nyawa atau penyakit asam lambung yang sedang kambuh. Kesalahan dalam mengenali sensasi dada yang terasa seperti terbakar atau tertimpa beban berat ini sangat berbahaya dan berpotensi menunda penanganan medis yang krusial.
Oleh sebab itu, pemahaman mengenai anatomi tubuh dan karakteristik khas dari masing-masing penyakit menjadi kunci utama agar tidak ada lagi penanganan yang terlambat hanya karena keliru mengira serangan jantung sebagai masuk angin biasa.
Keduanya bisa membuat dada terasa seperti terbakar atau ditekan dan di sinilah letak bahaya utamanya. Banyak orang keliru mengira serangan jantung sebagai sekadar masuk angin atau asam lambung yang naik, begitu pula sebaliknya. Perbedaan kedua kondisi ini sangat krusial dan memiliki landasan penjelasan ilmiah tersendiri.
Secara anatomi, organ jantung dan esofagus atau kerongkongan berbagi jalur persarafan yang sama yaitu nervus vagus. Ketika terdapat gangguan di salah satu organ tersebut, sinyal nyeri yang dikirimkan ke otak bisa terasa berasal dari lokasi yang saling tumpang tindih. Kondisi medis ini dikenal sebagai referred pain. Hal tersebut menjelaskan secara gamblang mengapa nyeri dada akibat asam lambung secara harfiah terasa sangat persis seperti nyeri pada jantung.
Walaupun terasa serupa, terdapat sejumlah perbedaan mencolok untuk mengenali kedua masalah kesehatan ini. Karakter nyeri pada serangan jantung umumnya terasa seperti dada sedang ditekan kuat, diremas, dan berat layaknya tertimpa beban. Pusat nyeri berada di dada tengah hingga kiri serta kerap menjalar ke area lengan kiri, rahang, leher, maupun punggung bagian atas. Serangan ini sering dipicu oleh aktivitas fisik atau stres emosional dan pergerakan badan justru akan semakin memperparah kondisinya. Rasa sakit ini bisa menetap lebih dari dua puluh menit, tidak akan reda meski pasien meminum obat antasida, serta kerap disertai gejala gawat seperti sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, hingga sensasi akan pingsan.
Sebaliknya, nyeri dada akibat GERD memiliki ciri khas berupa sensasi terbakar, panas, dan ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan. Lokasi ketidaknyamanan bermula dari area ulu hati lalu merambat ke dada bagian bawah hingga tengah dan umumnya sama sekali tidak menjalar ke bagian tubuh lain. Masalah ini biasa timbul tiga puluh sampai enam puluh menit sesudah makan atau saat malam hari. Pemicunya meliputi kebiasaan langsung berbaring setelah makan atau mengonsumsi asupan yang terlalu asam, pedas, maupun berlemak. Gejala GERD sering diikuti oleh keluhan mulut terasa pahit, rentan bersendawa, serta kesulitan menelan makanan. Penderita umumnya akan merasa lebih baik saat mengonsumsi antasida atau duduk tegak, tetapi rasa sakit berpotensi bertambah buruk jika mengambil posisi berbaring atau membungkuk.
Dilihat dari mekanismenya, serangan jantung atau infark miokard terjadi akibat penyumbatan aliran darah ke otot jantung karena pecahnya plak aterosklerosis di pembuluh darah arteri koroner. Otot jantung yang tiba-tiba kekurangan suplai oksigen akan memicu sinyal nyeri viseral yang sangat intens. Jaringan jantung tidak mampu menunjukkan titik lokasi rasa sakit secara presisi sehingga sensasi nyerinya terasa menyebar sangat luas. Sementara itu, GERD dipicu oleh melemahnya otot cincin di ujung bawah esofagus. Asam lambung kemudian berbalik naik dan mengiritasi lapisan mukosa kerongkongan akibat otot penutup yang tidak bekerja maksimal. Kesamaan jalur saraf membuat iritasi lambung ini menghasilkan sensasi yang identik dengan nyeri serangan jantung.
Dilansir dari detikcom, Spesialis Jantung Dr dr Muhammad Yamin SpJP (K) mengingatkan bahwa gejala seperti mual, muntah, nyeri lambung, dan keringat dingin memang bisa muncul pada kedua masalah kesehatan tersebut. Ia berpesan agar masyarakat tidak langsung menyimpulkan nyeri lambung setelah beraktivitas atau mengalami stres berat sebagai GERD semata, terutama jika sensasinya menjalar hingga ke dada dan leher atau kerap berulang pada individu berusia di atas tiga puluh lima tahun yang memiliki berbagai faktor risiko kesehatan.
Terdapat beberapa kondisi darurat yang mengharuskan penderita dilarikan ke rumah sakit tanpa penundaan. Seseorang wajib segera memperoleh pertolongan di instalasi gawat darurat apabila nyeri dada dibarengi dengan keluarnya keringat dingin, sesak napas akut, nyeri yang merambat cepat ke lengan kiri atau rahang, serta pandangan menggelap seolah kehilangan kesadaran. Apabila rasa sakit tidak kunjung membaik dalam rentang waktu lima menit atau justru memburuk secara drastis, hal tersebut harus segera ditangani secara medis sebagai serangan jantung hingga ada hasil pemeriksaan yang membuktikan sebaliknya.
Melakukan diagnosis mandiri berbekal pencarian internet adalah tindakan fatal yang sangat tidak dianjurkan. Kepastian medis mengenai kondisi sebenarnya hanya bisa ditegakkan melalui serangkaian prosedur seperti pemeriksaan EKG, uji enzim jantung atau troponin, serta endoskopi. Di ruang penanganan medis, tenaga kesehatan pun tidak diizinkan bertindak hanya berdasarkan cerita gejala lisan dari pasien. Terdapat protokol wajib untuk menyingkirkan semua kemungkinan serangan jantung terlebih dahulu sebelum menetapkan diagnosis akhir berupa GERD pada setiap pasien yang datang dengan keluhan nyeri dada akut.
