Navaswara.com – Penanganan gangguan irama jantung atau aritmia di Indonesia memasuki babak baru dengan hadirnya teknologi medis yang lebih aman. Primaya Hospital Kelapa Gading kini resmi menghadirkan layanan non-fluoroscopic cardiac ablation di unit Cardiac & Vascular Center mereka.
Inovasi ini menjadi angin segar bagi pasien jantung karena prosedur pemetaan listrik jantung tidak lagi bergantung pada paparan sinar X-ray yang terus-menerus. Dengan sistem pemetaan 3D electro-anatomical, dokter dapat melihat anatomi jantung secara presisi dan real-time lewat monitor digital.
Menekan Risiko Stroke dari Jantung Berdebar
Masalah gangguan irama jantung seperti Fibrilasi Atrial (AF) sering kali dianggap sepele karena gejalanya yang samar. Padahal, data menunjukkan penderita AF di Indonesia mencapai 3 hingga 5 juta orang.
Profesor Yoga Yuniadi, spesialis jantung di Primaya Hospital Kelapa Gading, mengingatkan bahwa 56 persen pasien AF tidak merasakan gejala apa pun. Hal ini sangat berisiko karena penderita AF memiliki kemungkinan terkena stroke lima kali lebih besar dibandingkan orang biasa.
“Keluhan jantung berdebar sering dianggap remeh. Padahal jika muncul berulang, deteksi dini sangat krusial, terutama pada usia produktif antara 40 hingga 60 tahun,” ujar Profesor Yoga dalam kegiatan Live Case di Jakarta.
Prosedur Minimal Invasif yang Lebih Aman
Selama ini, prosedur ablasi jantung identik dengan paparan radiasi bagi pasien maupun tim medis. Namun, dengan metode tanpa radiasi ini, profil keamanan tindakan meningkat drastis. Tingkat risiko komplikasi berat pada tindakan ini tercatat sangat rendah, yakni berada di bawah 0,2 persen.
Direktur Primaya Hospital Kelapa Gading, dokter Ferry Aryo, menjelaskan bahwa penguatan teknologi ini bertujuan agar masyarakat Indonesia bisa mendapatkan layanan jantung tingkat lanjut tanpa harus pergi ke luar negeri.
“Kami ingin menunjukkan bahwa layanan jantung modern yang paripurna seperti angioplasti hingga ablasi sudah tersedia di sini dengan standar internasional,” kata Ferry.
Kehadiran teknologi ini juga didukung oleh kolaborasi internasional, salah satunya dengan Profesor Yenn-Jiang Lin dari Taiwan. Kerja sama antar-pakar ini diharapkan mampu terus meningkatkan kualitas layanan jantung di tanah air, menjadikannya lebih presisi dan mengutamakan keselamatan pasien.

