Ironi Krisis Air di Tengah Kawasan Industri Cikarang, Cerita Warga Pasirranji Tinggalkan Masa Kelam Berkepanjangan

Bertahun-tahun Pakai Air Sumur Kuning dan Pahit, Warga Cikarang Akhirnya Nikmati Aliran Pipa Bersih

Navaswara.com – Akses air bersih di Desa Pasirranji, Kecamatan Cikarang Pusat, masih menjadi rintangan besar bagi sebagian warganya. Selama bertahun-tahun, mereka harus berhadapan dengan berbagai keterbatasan, baik dari segi kuantitas maupun kualitas air yang layak konsumsi.

Air tanah dari sumur di sekitar permukiman memang tersedia, tetapi umumnya jauh dari standar kesehatan. Kondisinya kerap keruh dan tidak aman untuk memenuhi kebutuhan harian rumah tangga.

Upaya warga untuk mendapatkan air yang lebih baik sebenarnya tidak berhenti begitu saja. Pengeboran sumur dalam hingga kedalaman 135 sampai 150 meter sudah diusahakan, namun hasilnya tetap belum bisa dimanfaatkan secara optimal.

Kepala Desa Pasirranji Wardi Sunandar memaparkan bahwa air yang keluar sering kali berwarna kuning, berminyak, dan terasa pahit sehingga tidak bisa digunakan. Oleh karena itu, warga setempat terpaksa sangat bergantung pada pasokan air dari sistem perpipaan.

Rela Antre Berhari-hari demi Air Tangki

Kondisi sumber air tanah yang tak memadai membuat sebagian besar warga harus mendatangkan pasokan dari luar wilayah. Cukup ironis, di tengah lanskap kawasan industri yang terus berkembang pesat, air bersih justru harus dibawa dari jarak hingga belasan kilometer sebelum akhirnya mengalir di rumah warga.

Proses distribusinya pun tak sekadar memakan waktu, melainkan juga sangat bergantung pada ketersediaan armada truk dan antrean pasokan. Di titik ini, air berubah menjadi kebutuhan yang harus direncanakan secara ekstra cermat agar tidak habis sebelum pengiriman berikutnya tiba.

Atang, seorang warga Kampung Cimahi yang telah tinggal di sana lebih dari lima tahun, masih mengingat betul masa-masa sulit saat krisis air melanda rumahnya. Ia menuturkan bahwa warga sering memesan mobil tangki, namun kadang airnya baru tiba dua hari kemudian akibat antrean yang mengular.

Biaya yang dikeluarkan keluarga Atang pun cukup menguras kantong, bisa mencapai sekitar Rp160.000 per minggu atau hampir Rp1 juta setiap bulannya. Angka tersebut bahkan belum mencakup pembelian air galon untuk situasi darurat. Persoalannya bukan cuma sekadar materi, melainkan juga ketidakpastian. Di saat krisis, warga kadang harus berjalan berkeliling menenteng jerigen demi mencari sisa air yang ada.

Perubahan Hidup Lewat Jaringan Pipa

Kini, secercah harapan perlahan muncul seiring masuknya jaringan perpipaan ke area permukiman. Kehadiran infrastruktur ini mulai mengubah pola hidup warga dalam memenuhi kebutuhan sanitasi dan hidrasi harian.

Bagi Atang, dampak paling nyata langsung terasa pada kondisi finansial keluarganya. Jika dahulu pengeluaran untuk air bisa menyentuh angka satu juta rupiah per bulan, kini biayanya merosot drastis menjadi sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu, dan itu sudah mencakup pemakaian untuk dua rumah.

Ketergantungan warga pada jerigen dan truk tangki pun mulai memudar. Mereka tidak lagi perlu menempuh jarak jauh atau gelisah menunggu kepastian pasokan.

Perubahan signifikan ini sangat terlihat di Kampung Cimahi. Sekitar 40 kepala keluarga di kawasan tersebut kini telah terhubung dengan layanan air bersih berkat program “Bosch Water Project”, sebuah inisiatif kolaborasi antara Bosch Indonesia dan Habitat for Humanity Indonesia.

Infrastruktur tersebut mampu menyalurkan air langsung ke instalasi rumah warga dengan kapasitas debit sekitar 21.600 liter per hari, memperluas jangkauan layanan dasar ke area yang selama ini belum terjamah.

Program Director Habitat for Humanity Indonesia Arwin Soelaksono turut memberikan pandangannya mengenai inisiatif ini. Menurutnya, menghadirkan akses air bersih bukan sekadar urusan infrastruktur fisik, melainkan tentang menghadirkan kepastian, kesehatan, dan peningkatan kualitas hidup bagi keluarga. Ia melihat langsung bagaimana kolaborasi bersama Bosch Indonesia ini memberikan bantuan krusial bagi warga Kampung Cimahi dalam memenuhi hajat hidup utama mereka.

Memperkuat sistem perpipaan memang dinilai sebagai langkah mitigasi paling rasional bagi wilayah Pasir Ranji. Dibandingkan terus bergantung pada ekstraksi air tanah yang kualitasnya meragukan, jaringan pipa memberikan stabilitas kualitas sekaligus jaminan pasokan.

Langkah ini juga berjalan selaras dengan target pemerintah daerah untuk mendongkrak cakupan layanan air bersih hingga 60 persen pada tahun 2026 mendatang. Lebih jauh, program ini menyokong pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) di sektor air bersih dan sanitasi. Menariknya, implementasi program ini turut merangkul partisipasi langsung karyawan Bosch Indonesia melalui kegiatan kerelawanan di tingkat komunitas.

Cerita dari Pasirranji ini memperlihatkan bahwa pemerataan kebutuhan dasar seperti air bersih tidak murni bertumpu pada ketersediaan sumber daya alam semata. Diperlukan strategi distribusi yang tepat dan kolaborasi nyata agar aliran kehidupan itu bisa menyentuh mereka yang terpinggirkan dari layanan utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *